Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #28

Kisah Ini Seperti Kisahku

Syams hampir saja berdiri dan memberikan novel itu pada Jaya. Tapi rasa penasaran yang begitu besar akan kelanjutan kisahnya dan bagaimana akhir dari kisah tersebut membuat rasa sedih dalam hati Syams dapat dikalahkan oleh rasa penasarannya. Sehingga ia memutuskan untuk kembali membacanya. Dengan sedikit rasa terpaksa, Syams kembali membuka halaman terakhir yang ia baca. Kemudian ia melanjutkan kegiatan membacanya tersebut.

Apa yang terjadi beberapa saat yang lalu terulang kembali. Air mata Syams kembali membasahi pipinya. Namun kali ini air mata itu mengalir begitu deras hingga tak hanya membasahi pipinya saja. Tapi juga pakaian yang dikenakannya basah kuyup bak seorang yang baru saja terkena air hujan. Syams ingin menghentikan kegiatan membacanya, tapi ia masih merasa penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Maka ia pun mengambil jalan tengah. Ia tetap membacanya namun dengan lebih cepat. Ia menambah kecepatan membacanya dari yang biasa dilakukannya. Agar ia dapat cepat membacanya hingga bab akhir.

Tiga puluh menit sudah Syams membaca novel bintang kecil pemberian dari sang ibu. Kini dirinya telah selesai membaca novel tersebut. Entah mengapa setelah selesai membaca novel tersebut, Syams menemukan sebuah kejanggalan dalam kisah tersebut. Seakan kisah yang diceritakan dalam novel tersebut memilki kesamaan dengan kisah hidupnya.

“Kenapa kisahnya seperti kisahku ya? Hanya saja aku diusir dari rumah oleh Apak. Sedangkan anak yang ada dalam buku ini malah dibunuh," gumam Syams.

“Ah, sudahlah! Mungkin hanya mirip saja,” gumam Syams lagi.

Syams menghapus air mata yang membanjiri pipinya. Lalu ia menutup novel yang berada di depannya. Kemudian ia mulai berdiri dari tempat duduknya. Setelah itu ia pun berjalan menuju kamar Jaya untuk memberikan novelnya tersebut pada gurunya yang sebelumnya telah menunggu giliran untuk membaca novel teserbut.

Syams mengetuk pintu kamar Jaya sambil menyebut nama gurunya tersebut. Sambil menunggu pintu terbuka, Syams menghapus air mata yang masih membasahi pipinya. Sesaat terdengar suara Jaya yang mengizinkannya untuk memasuki kamar tersebut. Setelah mendapatkan izin untuk memasukinya, ia pun membuka pintu dengan perlahan. Kemudian ia mulai memasuki kamar tersebut dengan wajah yang tertunduk.

Jaya memperhatikan raut wajah Syams yang nampak begitu sedih. Kedua matanya membengkak. Di kelopak matanya masih terlihat tetes air mata yang hampir saja terjatuh dari tempatnya. Jaya pun merasa heran dengan muridnya itu.

“Ada apa Syams? Kenapa kau terlihat begitu sedih?” tanya Jaya.

Lihat selengkapnya