Pertanyaan Syams membuat Jaya seolah berada dalam mimpi. Ia tak bisa mempercayai bahwa Syams akan mempertanyakan hal seperti itu padanya. Ia tak bisa percaya jika muridnya yang selama ini sangat menghormati orang tua dan menjunjung tinggi nama kedua orang tuanya akan mempunyai pemikiran seperti itu.
Jaya memang merasa bangga akan kecerdasan Syams yang dapat memahami bahwa kisah yang telah ditulis oleh ibunya dalam novel tersebut bukanlah sebuah kisah fiksi biasa yang hanya berfungsi sebagai hiburan semata. Namun ia juga merasa kecewa dengan pertanyaan Syams yang demikian. Hanya karena hatinya telah terluka dengan sebuah kisah yang sangat menyayat hati yang baru saja selesai ia baca dari novel pemberian ibunya tersebut, ia bertanya hal yang mencengangkan itu.
Walau begitu, Jaya tak ingin mempermasalahkannya. Karena hal itu merupakan hal yang wajar bagi anak seusia Syams. Jaya pun berkata, “Huttss!!! Jangan berbicara seperti itu! Ibumu menulis kisah itu mungkin ada maksud lain. Mungkin ada maksud tertentu yang menyebabkan ibumu menulisnya.”
“Maksud tertentu? Apa itu, Pak?” tanya Syams tak mengerti.
Jaya menghela nafas sejenak. Lalu ia mencoba menjelaskannya pada Syams, "Mungkin bukan kau yang terkenang dengan kisah menyedihkan itu. Tapi ibumu yang terkenang akan kisah pengusiranmu hari itu. Dan ibumu sangat merindukanmu. Karena waktu pengusiranmu itu telah lama terjadi. Mungkin juga bukan hanya ibumu yang merindukanmu. Tapi juga kakak-kakakmu yang lain.”
“Jadi ibu saya menulis novel ini untuk mengungkapkan rindunya pada saya?” tanya Syams meyakinkan.
“Benar sekali, Syams. Itu adalah bentuk cinta yang terdalam dari seorang ibu. Dan kau harus mengerti itu,” lanjut Jaya.
"Bentuk cinta terdalam?"
Jaya mengangguk lalu menjawab dengan singkat, "Ya. Bentuk cinta terdalam dari seorang ibu untuk putranya.
“Tapi kenapa Amak harus membuat novel ini? Kenapa tidak menulis surat saja? Bukankah menulis novel seperti ini membutuhkan waktu yang lama, Pak Guru?” tanya Syams lagi.