Jam sekolah telah usai. Syams berjalan keluar dari gerbang sekolah dengan langkah kaki yang sangat lambat serta kepala yang tertunduk. Setelah tiba di depan gerbang, ia menghentikan langkahnya dan berdiri di sisi kanan gerbang tersebut. Ia hendak menunggu Satria yang masih mengambil sepedanya di tempat parkir.
Syams masih menundukkan kepalanya. Ia masih terbayang dengan apa yang terjadi satu hari yang lalu. Kisah pilu dalam novel bintang kecil yang ia baca di hari yang lalu itu terus membayanginya. Melekat kuat dalam alam fikirannya. Seolah tak ingin pergi dari dalamnya.
“Begitu dalamnya cinta Amak padaku sehingga Amak menulis cerita itu. Rasanya aku tak sabar lagi untuk kembali ke rumah itu lagi,” gumam Syams.
“Mungkin masih lama bagiku untuk dapat kembali ke rumah itu lagi. Tapi aku masih bisa merasakan kasih sayang seorang saudara sebelum aku kembali ke rumah itu lagi. Masih ada Uni Aisyah yang bisa selalu aku temui setiap hari. Apa uni Aisyah bisa memaafkanku?” gumamnya lagi.
Syams mencoba mengangkat kepalanya dengan perlahan. Seketika itu ia tak sengaja melihat Aisyah berdiri beberapa langkah di hadapannya. Seketika tubuhnya menjadi gemetaran saat melihat kakaknya itu tengah menunggu sang sopir untuk menjemputnya. Ia ingin sekali segera melaksanakan niatnya untuk meminta maaf pada Aisyah. Memperbaiki hungannnya dengan kakak perempuannya itu. Tapi ia masih merasa takut untuk melakukannya setelah apa yang ia lakukan pada kakaknya sebelumnya.
Syams menarik nafas pendek lalu membuangnya. Kemudian ia memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya ke depan. Mencoba untuk mendekati Aisyah yang masih berdiri tegak dan tak pernah berhenti menolehkan kepalanya ke sekelilingnya.
Saat berada di dekat Aisyah, Syams masih saja menundukkan kepalanya. Dengan sedikit ragu, ia berkata, “Uni, maafkan kesalahanku selama ini yang telah salah dalam menilai perbuatan Uni.”
Mendengar sebuah suara dari dekatnya, Aisyah langsung membalikkan. Seketika itu ia terkejut melihat Syams berdiri di belakangnya dengan raut wajah yang muram. Namun Aisyah tak berbicara apapun dan Syams melanjutkan perkataannya, ”Sebenarnya bukan Uni penyebab aku diusir dari rumah. Tapi aku sendiri yang bersalah. Aku yang tak tahan dengan semua peraturan yang apak terapkan pada kita. Sehingga membuat aku menjadi malas belajar dan mencemarkan nama baik keluarga. Dan akhirnya aku diusir dari rumah. Walaupun Uni yang telah mengabaikanku dan membuatku merasa tidak mempunyai teman, tapi tetap saja aku yang bersalah dalam hal ini."
Bagai terkena setetes air hujan yang telah ditunggu-tunggunya di musim kemarau panjang. Aisyah tak menyangka bahwa Syams akan mengatakan hal seperti itu padanya. Ia yang seharusnya meminta maaf pada adiknya itu karena memang ia yang turut mengambil andil dalam menurunkan semangat belajar Syams hingga membuat prestasi adiknya itu menurun dan harus diusir dari rumah. Tapi ia tak mengerti mengapa kini keadaan telah berbalik. Syams malah datang sendiri padanya dan yaung mengutarakan maafnya padanya.
Dengan perasaan yang masih tidak percaya, Aisyah berkata, “Syams? Apa kamu bersungguh-sungguh dengan semua yang baru saja kamu katakan itu?“
Syams menganggukkan lalu menjawab, “Ya. Aku benar-benar ingin meminta maaf pada Uni. Apa uni mau memaafkan kesalahanku yang sangat besar itu?“
Aisyah menganggukkan kepalanya sambil menunjukkan senyumannya pada Syams. Ia lalu merentangkan kedua tangannya pada adiknya itu. Syams mengangkat kepalanya dengan perlahan. Kemudian ia melihat Aisyah yang telah merentangkan kedua tangannya itu untuknya. Melihat hal tersebut, ia pun tersenyum karena telah menangkap maksud dari kakaknya itu.