Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #31

Kenangan Surya di Hati Wijaya

Wijaya terus berdiri di samping kamarnya. Melihat halaman rumahnya yang sangat indah dari lantai atas. Halaman rumah yang dipenuhi dengan bunga warna-warni yang bermekaran. Di halaman yang begitu luas itu dulu ia selalu melihat putra tunggalnya datang dan kembali dari tempat belajarnya. Putranya yang selalu disibukkan dengan tugas kuliahnya itu selalu membuatnya bangga dengan semangat belajarnya yang begitu tinggi.

Tak lupa ia mengalihkan pandangannya pada gerbang rumah yang begitu tinggi nan gagah. Sebuah gerbang yang dijaga ketat oleh dua orang penjaga pilihan Wijaya. Gerbang yang menjadi salah satu saksi sejarah akan ketekunan dan kegigihan putranya dalam mengejar cita-citanya. Gerbang yang setiap pagi dan sore selalu dijadikan oleh Surya untuk keluar masuk rumah masuk untuk melaksanakan tugasnya sebagi pemuda.

Wijaya terus mengenang hari-harinya bersama putra tunggalnya itu. Putranya yang tumbuh semakin dewasa mulai menyibukkan diri untuk menggapai cita-citanya. Sehingga setiap kali ia meminta sedikit waktu padanya, putranya itu selalu menolak dengan bahasanya yang halus. Kesibukan belajar dan kegiatan di organisasinya selalu menjadi alasannya.

"Ayo, Nak! Kemari duduk bersama romo! Kita mengobrol barang sebentar. Aku sangat rindu dengan kebersaaman kita,” ucap Wijaya yang tengah duduk santai di ruang keluarga sambil menonton televisi.

Surya yang kala itu tengah bersiap untuk menghadiri perkumpulan di organisasinya dan telah membawa sebuah buku di tangannya tersenyum mendengar panggilan dari sang ayah. Kemudian ia menanggapi panggilan sang ayah dengan berkata, ”Maaf Romo, bukannya aku ingin bersikap lancang dengan menolak keinginan Romo. Karena keinginan Romo adalah perintah bagiku. Dan tak mungkin aku tidak melaksanakannya. Tapi aku tidak bisa jika di waktu sekarang. Aku masih sibuk di organisasiku.”

Mendengar jawaban dari Surya, Wijaya tertunduk lemas. Ja yang telah lama menginginkan Surya duduk di dekatnya. Bermanja-manja bersamanya seperti waktu ia masih kecil tak dapat memenuhi keinginannya itu. Telah berbulan-bulan hingga satu atau dua tahun lamanya. Ia pun lupa untuk menghitung waktunya. Dalam rentang waktu yang sangat lama itu Surya lupa untuk menghabiskan waktu luangnya bersama keluarganya. Karena memang putranya itu seperti tak mempunyai waktu luang semenjak masuk ke Universitas Gajah Mada itu. Dan tak hanya itu, putranya itu juga selalu menyibukkan dirinya untuk berorganisasi sejak masuk SMA.

Walau begitu, Wijaya tetap menunjukkan senyumannya pada putranya itu. Ia tak ingin bersikap egois dengan melarang putranya untuk pergi hanya untuk duduk bersamanya.

“Baiklah. Pergi saja! Jalankan tugasmu dengan benar! Baik itu sebagai ketua organisasi maupun sebagai seorang mahasiswa dikampus!” ucap Wijaya sambil memberikan senyumannya pada sang putra.

Mendengar kerelaan sang ayah untuk melepasnya pergi ke organisasinya, Surya langsung berjalan mendekati sang ayah yang masih duduk di sofa tersebut. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya dan mencium punggung tangan ayahnya tersebut. Kemudian ia berkata, ”Mohon selalu berikan restu romo padaku! Agar aku dapat menjalankan darmaku sebagi seorang ksatria dengan sebaik-baiknya.”

Lihat selengkapnya