Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #32

Kerinduan yang Mulai Melanda

Setelah mendengar pernyataan dari Wijaya, langit seolah terbelah menjadi dua. Dan semua benda yang ditampungnya jatuh semua. Menimpa orang-orang di bumi sehingga menciptakan rasa sakit yang sangat di tubuh mereka. Seolah tak mungkin didengar di telinga jika Wijaya memarahi Surya sebesar itu. Wijaya yang selalu memanjakan putranya setiap saat kini dengan tega memarahi putra kesayangannya bahkan mengusirnya dari rumah.

Jantung Ratna seolah tak berfungsi lagi untuk memberikan kehidupan. Ia hanya terdiam layaknya sebuah patung setelah mendengarkan pernyataan dari suaminya tersebut. Ditemani dengan air mata yang mengalir dengan sendirinya di pipinya.

“Apa yang Mas katakan? Kenapa Mas berkata seperti itu pada Surya? Kenapa Mas harus menghukumnya dengan hukuman seberat itu? Apakah kesalahannya terlalu besar sehingga Mas harus mengusirnya dari rumah?” tanya Ratna sambil terus mengalirkan air mata.

Wijaya menghadapkan wajahnya pada Ratna. Kemudian ia menjawab, ”Memangnya aku salah memberikan hukuman ini padanya? Hukuman ini sangat pantas untuknya. Dia telah menghabiskan uangku hanya untuk orang lain. Aku tidak akan mungkin dapat memaafkannya.”

“Tapi kita bisa memaafkannya dan setelah itu dia akan berubah. Dia akan memanfaatkan uang pemberianmu dengan cara yang lebih baik,” bela Ratna.

“Tidak! Kurasa dia tidak akan pernah berubah. Selama ini dia berorganisasi hanya untuk membantu orang lain. Dan sampai kapanpun dia akan berbuat seperti itu. Iya kan, Surya?”

Surya megangguk lalu menjawab dengan hati yang mantap, ”Iya Romo. Sampai kapanpun aku akan tetap membantu sesama. Aku tidak akan pernah melalaikan tugasku sebagai seorang ksatria.”

“Kau dengar sendiri, kan? Dia memang akan menjadi seperti itu terus. Untuk apa aku mempunyai anak yang hanya menggunakan uangnya dan seluruh hartanya untuk membantu orang lain. Dia tidak akan memikirkan dirinya sendiri. Lebih baik kau pergi dari rumah ini sekarang juga. Enyah kau dari hadapanku!” lanjut Wijaya sambil mengarahkan jari telunjuknya pada pintu.

Air mata Ratna semakin tak terbendung setelah mendengar semua yang diucapkan oleh suaminya tersebut. Ia tak kuasa lagi untuk melawan setiap ucapan dari sang suami. Di tengah masalah besar yang sedang terjadi Surya malah berkata, ”Baik Romo. Jika itu yang romo inginkan. Aku akan pergi.”

Ratna tercengang mendengar pernyataan dari Surya. Ia pun berkata pada putranya itu, “Surya! Kenapa kamu berkata seperti itu, Nak? Apa kamu ingin meninggalkan ibu? Mintalah pada romomu agar kamu bisa tetap tinggal disini! Minta maaflah pada romomu dan berjanjilah padanya untuk tidak melakukannya lagi! Setelah itu kita bisa hidup bersama kembali. Kita akan hidup bahagia seperti dulu. Selamanya.”

Surya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menjawab, ”Tidak Ibu! Aku tidak akan meninggalkan tugasku sebagai seorang ksatria. Aku akan tetap menaati perintah Romo untuk pergi dari rumah ini. Ibu tenang saja! Walaupun kita jauh, tapi aku akan selalu mengingat ibu. Juga Romo.”

Setelah mendengarkan pernyataan dari Surya, Ratna langsung meraih tubuh putranya itu dan mendekapnya kuat-kuat. Ia menumpahkan air matanya pada pakaian yang dikenakan sang putra. Ia terus memelukunya dan tak ingin melepaskan pelukannya itu.

Namun semuanya itu berakhir tatkala Wijaya menggunakan kedua tangannya untuk memisahkan tubuh keduanya. Kemudian Wijaya berdiri tepat di depan Ratna dan menghadapkan wajahnya yang dipenuhi dengan kemarahan pada Surya. Lalu ia kembali mengusir putra tunggalnya itu.

Lihat selengkapnya