Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #33

Retaknya Hubungan Malik dan Wijaya

Di sebuah jalan raya yang kebetulan sangat sepi, mobil Malik berjalan tepat di tengah. Begitu pelan ia mengendarai mobil tersebut. Pandangan matanya kosong. Fikirannya terlempar jauh entah kemana. Hingga ia pun kehilangan konsentrasinya dalam berkendara. Sehingga ia juga tak memperdulikan jalan dan arah yang ditempuhnya.

Mobil yang dikendarai Malik tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Mengetahui hal tersebut, Malik langsung terbangun dari lamunan panjangnya. Raut wajahnya menjadi memerah. Segera dirinya keluar dari mobilnya itu untuk memeriksa mesin mobilnya tersebut.

Dengan raut wajah yang masih memerah, Malik menggunakan kaki kanannya untuk menendang ban mobil bagian depan. Kemudian ia berkata, “Ah! Sial! Kenapa harus sekarang?”

Malik mulai memeriksa mesin mobilnya. Seketika itu pula sebuah mobil berwarna putih berhenti di tepi jalan tak jauh dari mobilnya. Ketika melihatnya yang tengah sibuk dengan mesin mobilnya itu, seorang pria telah nampak uban di kepalanya dan yang memiliki usia yang tak jauh berbeda dengannya keluar dari mobil putih tersebut. Pria itu kemudian berjalan menghampirinya.

Pria tersebut berdiri tepat di samping Malik. Lalu ia berkata dengan nada tenang, "Ada apa Malik? Apa yang sebenarnya terjadi pada mobilmu?”

Malik terkejut mendengar sebuah suara yang terdengar tak asing lagi di telinganya. Dan suara itu kini berada dekatnya. Dengan perlahan, ia menolehkan wajahnya ke samping kanannya. Setelah mengetahui bahwa yang berbicara adalah sahabatnya sendiri, ia menjadi terkejut. Kemudian ia berkata, ”Eh ternyata kau Wijaya? Kenapa kau ada disini?”

“Aku baru saja selesai mengurus perusahaanku di Jakarta. Aku ingin pulang ke Yogya. Tapi aku melihatmu yang sedang sibuk memperbaiki mesin mobilmu. Aku pun berhenti sejenak. Sebenarnya ada apa dengan mobilmu itu?” lanjut Wijaya.

“Ini biasa terjadi. Akhir-akhir ini mobilku sering mogok di jalan. Aku juga tidak mengerti kenapa. Aku terlalu sibuk di kantor sehingga tidak sempat membawanya ke bengkel,” jawab Malik.

Wijaya memperhatikan mobil Malik sejenak. Kemudian ia tersenyum lalu berkata, ”Mobilmu masih bagus. Hanya perlu diperbaiki sedikit saja. Itu masalah yang sangat mudah. Biar aku yang membantumu.”

“Memangnya kau bisa? Kalau kau memang bisa, silahkan saja! Aku tidak akan menolak bantuan darimu.”

Malik berjalan dan berdiri di belakang Wijaya. Kemudian Wijaya berjalan lebih dekat dengan mobil sahabatnya itu. Tanpa berfikir panjang, ia pun mulai memeriksa mesin mobil Malik. Setelah memeriksa mobil tersebut dan mengetahui masalah yang sebenarnya,bia mulai memperbaiki masalah yang ada pada mobil sahabatnya itu.

Tangan Wijaya nampak sangat cekatan memperbaiki mobil Malik. Malik pun tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena heran dengan kecepatan sahabatnya tersebut dalam memperbaiki mesin mobilnya. Tak membutuhkan waktu yang lama, mesin mobil tersebut telah selesai diperbaikinya.

"Sudah siap. Sekarang, coba kau nyalakan mesinnya! Aku yakin sekali mobilmu itu sudah bisa digunakan lagi" ucap Wijaya.

Lihat selengkapnya