Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #34

Mengorbankan Cita-Cita

Nashir dan Aisyah berdiri di hadapan kedua orang tua mereka yang tengah duduk di sebuah sofa. Wajah mereka nampak sangat berseri. Hati mereka sudah tak sabar lagi untuk menerima hadiah terbaik dari kedua orang tua mereka. Setelah mendapatkan peringkat pertama dalam ujian nasional mereka ,keduanya bersiap untuk mendapatkan apa yang menjadi hak mereka.

Sementara itu, Malik masih memasang wajah garangnya. Raut wajahnya yang menyeramkan itu tak pernah berubah meski di saat yang bahagia seperti itu. Berbeda dengan Maryam yang merasa sangat puas dengan prestasi yang telah diraih oleh kedua anaknya itu. Ia tersenyum bangga memandang wajah anaknya satu persatu.

“Asyik sebentar lagi aku akan dapat mewujudkan impianku sebagai seorang prajurit angkatan udara. Setelah ini aku akan belajar di Akmil. Aku sudah tidak sabar lagi menanti hari itu tiba,” ucap Nashir lirih.

Malik tak sengaja mendengar kata-kata lirih yang diucapkan oleh Nashir. Seketika itu rasa bangganya akan prestasi yang telah diraih oleh kedua anaknya itu langsung menghilang dan berganti menjadi kemarahan. Raut wajahnya yang terlihat menyeramkan menjadi semakin menyeramkan karena kedua matanya sedang melotot tajam. Diarahkannya mata tajamnya itu pada Nashir dan Aisyah.

Melihat wajah menyeramkan dari ayah mereka itu, Aisyah dan Nashir menjadi sangat ketakutan. Tubuh mereka gemetaran. Senyuman di wajah mereka menghilang seketika. Mereka hanya bisa menundukkan kepala karena rasa takut tersebut.

Malik memfokuskan perhatiannya pada Nashir. Lalu ia berkata, ”Apa? Kau ingin melawan perintahku? Kau tidak mau menjadi seorang pengusaha? Kau kan tahu sendiri bahwa perusahaanku tersebar dimana-mana. Dan semua itu untuk kalian. Anak-anak Apak. Memangnya untuk siapa lagi? Kalian tinggal memilih saja mana perusahaan yang kalian inginkan. Kenapa kalian malah memilih jalan sendiri?”

Mendengar perkataan ayahnya rasa takut dalam diri Nashir semakin menjadi. Ia hanya bisa diam sambil terus menundukkan kepalanya. Begitu pula dengan Aisyah.

Malik mengalihkan perhatiannya pada Aisyah. Ia mengubah raut wajahnya yang semula merah padam dengan tatapan yang menyeramkan menjadi lembut saat menatap wajah putri kesayangannya itu. Ia menghela nafas sejenak lalu berkata dengan nada yang lebih lembut, ”Dan Aisyah. Bagaimana denganmu? Kau pasti mau menuruti perintah apak untuk menjadi seorang pengusaha. Melanjutkan cita-cita apak. Iya kan?”

Aisyah masih menundukkan kepalanya. Tubuhnya menjadi semakin gemetaran. Walaupun Malik telah mengubah raut wajahnya yang menyeramkan menjadi lembut, tapi hal tersebut tak dapat menghilangkan ketakutan pada dirinya. Pandangan mata sang ayah yang terus tertuju padanya membuatnya ingin mengompol.

Dengan suara lirih, Aisyah menjawab, ”Hmmm... Aku belum tahu, Apak. Aku belum menentukan cita-citaku dengan pasti.”

Malik tersenyum mendengar jawaban dari Aisyah. Kemudian ia mengatakan, ”Apak mengerti. Kau masih terlalu kecil untuk itu. Tapi Apak sangat yakin bahwa cita-citamu pasti sama dengan apak nantinya. Kau akan menjadi pengusaha yang lebih hebat daripada Apak. Walaupun kau adalah anak perempuan.”

Lihat selengkapnya