Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #35

Apa Aku Bisa Melakukannya?

Jauh berbeda dengan suasana rumah Malik yang dipenuhi dengan konflik. Penuh dengan ketegangan yang membuat semua orang menjadi ketakutan. Di rumah Jaya nampak sangat berbeda. Matahari pagi begitu hangat dirasa. Senyumannya yang indah seolah ikut merasakan kebahagiaan yang menyelimuti rumah yang terlihat sangat sederhana tersebut. Bahkan bisa disebut sebagi rumah terburuk di dunia.

Di halaman rumah yang tak begitu luas, Satria nampak sangat riang. Ia menikmati permainan sepedanya dengan mengelilingi halaman tersebut. Setelah ia selesai berputar satu kali, ia kembali berputar lagi. Ia kembali mengelilingi halaman tersebut hingga beberapa kali.

Satria begitu senang dengan sepeda barunya itu hingga ia tak ingin berhenti mengayuhnya. Sepeda yang berwarna hitam pekat itu baru saja ia dapatkan karena ia berhasil mendapatkan peringkat lima besar dalam ujian nasionalnya.

Satria tak ingin berhenti bermain. Setelah lama menantikan sebuah sepeda yang baru dan jauh lebih baik dari sepedanya yang telah usang itu, kini akhirnya ia bisa mendapatkannya. Setelah melalui perjuangan yang cukup melelahkan. Belajar serajin mungkin agar mendapatkan prestasi di sekolah. Kini ia meningkatkan apa yang ia inginkan. Dari sebelumnya yang tak pernah mendapatkan peringkat di sekolah, kini ia menjadi salah seorang murid yang mendapatkan peringkat lima besar.

Sungguh bahagia tak terkira hatinya. Hingga tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang dan melelahkan, akhirnya ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Sepeda baru yang jauh lebih indah daripada sepedanya yang lama. Dengan hadirnya sepeda barunya itu, kini ia tak membutuhkan sepedanya yang telah usang yang warnanya telah memudar, rantainya sering copot, bahkan bannya sering bocor tersebut. Kini ia tinggal menikmati sepeda barunya dan meninggalkan sepeda lamanya yang mungkin kemudian akan dijual pada tukang rongsok oleh Jaya.

“Waah... Enak sekali punya sepeda baru! Akhirnya apa yang aku inginkan terkabul juga. Aku harus terus rajin belajar dan mendapatkan peringkat yang bagus supaya aku bisa terus mendapatkan hadiah dari ayah,” gumam Satria sambil terus mengayuh sepedanya.

“Di peringkat lima pertamaku aku meminta sepeda, selanjutnya kalau aku mendapatkan peringat lima lagi atau yang lebih baik aku ingin minta yang lainnnya. Mainan, handphone, dan masih banyak lagi. Nanti kalau sudah SMP kan aku membutuhkan handphone untuk tugas sekolahku," lanjut Satria.

Kebahagiaan Satria ternyata hanya untuk dirinya sendiri saja. Syams tetap duduk di depan teras rumah sambil menundukkan kepalanya. Tak pernah ia mengangkat kepalanya untuk melihat keseruan Satria dalam bermain dengan sepeda barunya itu. Apalagi berniat untuk bergabung dengannya.

Sepeda baru Satria yang warnannya masih mengkilap itu seolah tak dapat menarik perhatian Syams. Bahkan ia tak ingin mengangkat kepalanya hanya sekedar untuk melihat sekilas bagaimana rupa sepeda yang baru didapatkan Satria setelah berjuang cukup keras untuk menaikkan peringkatnya di kelas.

Setelah sekian lama bermain dengan sepeda usang, entah mengapa Syams tak tertarik untuk bermain dengan sepeda baru milik Satria itu. Mungkinkah sepeda itu bukanlah sebuah sepeda yang mahal sehingga ia tak merasa tertarik dengannya? Ataukah ia sudah terbiasa bermain dengan sepeda sehingga ia sudah merasa bosan dan bermain sepeda lagi?

Satria terlena dengan permainannya. Sehingga ia lupa dengan Syams yang belum mendapatkan giliran dalam bermain. Ketika menyadarinya, ia pun menghentikan kayuhannya sejenak. Lalu ia memandang ke arah Syams. Dari jarak yang agak jauh, ia berkata pada Syams, ”Maaf Syams. Aku lupa untuk mengajakmu bermain. Ayo kemari! Sekarang giliranmu untuk mencoba sepeda baruku.”

Lihat selengkapnya