Setelah semua yang terjadi di dalam rumahnya siang itu, Nashir ingin mencari udara segar. Ia ingin melupakan masalah yang baru saja ia dapatkan walaupun hanya sebentar. Namun ia tak tahu harus pergi kemana.
Nashir berharap dengan melihat dunia luar beban di fikirannya akan berkurang. Walau belum tahu kemana ia akan pergi, Nashir mengambil kunci motornya yang diletakkan di dalam laci. Dengan perlahan, ia membuka pintu kamarnya dan keluar dari kamar tersebut.
Hatinya yang masih merasakan duka membuat langkahnya menjadi lambat. Ketika tiba di depan kamar Aisyah, dirinya tak sengaja melihat pintu kamar adiknya itu terbuka. Dari luar kamar nampak Aisyah yang sedang duduk di kursi yang digunakan untuk belajar dengan posisi menghadap ke belakang.
Nashir telah menduga bahwa Aisyah pasti masih merasa sedih atas apa yang baru saja terjadi padanya. Nashir menghela nafas pendek lalu mencoba untuk memasuki kamar adiknya itu. Jantungnya berdetak begitu kencang saat ingin memasuki kamar sang adik. Tubuhnya pun menjadi gemetaran. Namun ia tetap memberanikan diri untuk memasuki kamar adik perempuannya itu.
Setelah tiba di dalam kamar Aisyah, Nashir berdiri di belakangnya. Dengan sedikit gugup, ia berkata, ”Aisyah, maaf aku telah dengan lancang masuk ke dalam kamarmu. Kedatanganku kemari hanya untuk meminta maaf padamu atas semua yang pernah kulakukan selama ini. Apa kamu mau memaafkan kesalahanku?”
Aisyah yang terkejut mendengar suara Nashir yang tak jauh dari tempat duduknya segera membalikkan tubuhnya. Melihat Nashir telah berada di belakangnya, ia pun berdiri. Kemudian ia berkata, ”Apa? Meminta maaf? Memangnya apa salah Uda padaku sehingga Uda harus meminta maaf padaku?”
Nashir terdiam sejenak. Kepalanya tertunduk. Lalu ia menjawab, “Hmm... Itu. Masalah Syams. Selama ini aku dan Aziz tidak pernah menyukai Syams. Kami selalu membenci kehadirannya. Sekarang setelah mengetahui dan mengerti tentang semua perlakuan kejam yang apak lakukan pada kita, aku baru menyadari bahwa Syams tidak bersalah atas terusirnya dirinya dari rumah ini. Dia hanya seorang anak yang hanya ingin mendapatkan kebebasan. Mungkin dia sudah tidak tahan dengan semua peraturan yang diterapkan apak. Maka dari itu, dia tak ingin bersusah payah meraih ilmu pengetahuan agar tidak menjadi tawanan apak.”
Aisyah terdiam sejenak. Kepalanya sedikit tertunduk. Tak lama setelah itu, ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Mengiyakan setiap perkataan Nashir.
Aisyah menghela nafas sejenak lalu berkata, ”Iya Uda. Aku juga berfikir seperti itu. Di usianya yang masih sangat kecil dia harus mengerti tentang kekejaman yang dilakukan apak pada anak-anaknya. Sungguh malang sekali nasibnya. Aku tidak tega melihat semua penderitaannya. Kenapa harus dia yang mengerti terlebih dahulu? Kenapa bukan kita yang lebih dewasa darinya? Dia itu masih sangat kecil, Uda.”
“Aku juga tidak mengerti tentang semua itu."
"Sudahlah, jangan terus memikirkan semua itu! Lebih baik sekarang kita mencari udara segar di luar. Agar fikiran kita menjadi lebih tenang. Dan kesedihan kita menjadi lebih berkurang,” ajak Nashir.