Saat tengah berfikir, Aisyah tak sengaja melihat kedua anak laki-laki yang tengah asyik bermain. Kedua anak itu bermain tak jauh dari tempat Aisyah berdiri. Aisyah memperhatikan keduanya. Setelah merasa cukup lama memperhatikan mereka, Aisyah merasa bahwa ia telah mengenal kedua anak tersebut. Ia merasa bahwa kedua anak ynag tengah diperhatikannya itu seperti seusia dengannya.
Aisyah mengucek-ucek kedua matanya. Mencoba meyakinkan tentang apa yang sedang ia lihat. Barangkali ia salah melihatnya. Setelah itu, ia kembali memperhatikan kedua anak tersebut. Ternyata dirinya benar-benar tak salah melihat.
“Syams? Itu benar-benar Syams bersama Satria? Kenapa Syams dan Satria ada disini? Apa ini kampung tempat mereka tinggal?” tanya Aisyah dalam hati.
Tanpa berpamitan pada Nashir, Aisyah segera meninggalkan tempatnya berdiri. Ia pergi untuk menghampiri kedua anak laki-laki yang baru saja dilihatnya itu. Setelah tiba di dekat mereka, ia segera memanggil nama kedua anak tersebut. Mendengar seseorang telah memanggil namanya, salah seorang anak segera menghentikan kayuhan sepedanya. Ia sungguh terkejut melihat anak perempuan yang baru saja memanggil namanya itu
Ia bersama temannya itu segera datang untuk menghampiri orang yang telah memanggil nama mereka itu. Setelah tiba di hadapan Aisyah, salah satunya berkata, “Uni? Uni ada disini? Kenapa Uni ada disini? Rumah kita kan sangat jauh dari kampung ini?”
“Iya Aisyah. Darimana kamu tahu jalan ke kampung ini? Kamu datang kemari pasti ingin bertemu dengan Syams, kan? Apa kamu datang sendiri?” sambung Satria.
“Kalian berdua jangan banyak bertanya dulu! Aku dan Uda Nashir tidak sengaja tiba di tempat ini. Kami sedang tersesat dan tidak tahu jalan pulang. Awalnya kami hanya ngin mencari udara segar setelah mendapatkan perlakuan yang kejam dari apak. Kami berharap dengan melihat alam luar, maka fikiran kami akan menjadi lebih segar dan kesedihan di hati kami pun akan berkurang. Tapi ternyata kami malah tersesat di tempat ini ” jawab Aisyah.
Sementara Aisyah tengah menjelaskan apa yang tengah terjadi pada Syams dan Satria, Nashir masih menolehkan kepalanya kesana kemari. Setelah melakukannya beberapa saat, tetap saja ia tak menemukan jalan keluar untuk masalah yang sedang dihadapinya. Ia pun mulai lelah memandangi setiap jalan yang ada di hadapannya.
Nashir menarik nafas pendek lalu menolehkan pandangannya sampingnya. Begitu terkejutnya ia ketika tak melihat Asiyah di sampingnya. Rasa khawatir mulai menyelimuti hatinya. Ia pun memeriksa ke sekelilingnya. Barangkali Aisyah merasa lelah dan duduk di tempat lain. Tapi tetap saja, ia tak menemukan adiknya itu.
“Aisyah? Kemana dia?" tanya Nashir.
"Ya Allah... Aku sudah tersesat, sekarang Aisyah malah menghilang. Bagaimana ini?” keluhnya dengan penuh kecemasan.
Nashir menekan kepalanya dengan kedua tangannya. Ia mulai memanggil-manggil nama Aisyah. Tapi tak juga mendapatkan jawaban apapun. Walau begitu, ia tak menyerah. Ia kembali memanggil-manggil nama adiknya tersebut.
Nashir masih mencari-cari keberadaan Aisyah. Tiba-tiba, secara tak sengaja ia melihat Aisyah tengah berbincang dengan dua anak laki-laki. Ya, itu memang Aisyah. Bukan hanya perasaannya saja. Dan jarak Aisyah tak begitu jauh darinya.
Nashir menarik nafas panjang. Senyumannya mulai terbentuk di bibirrnya. Tanpa ingin mengetahui siapa yang kedua anak laki-laki itu, isegera berjalan menghampiri Aisyah.
“Ohh!! Ternyata kamu disini? Kamu pergi tanpa berpamitan padaku,” tanya Nashir yang tiba-tiba berada di dekat Aisyah.