Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #40

Kerja sama Malik dan Johannes

Syams masih terdiam di dalam kamarnya. Ketenangan hatinya terganggu dengan sebuah pertanyaan yang membuatnya merasa sangat penasaran. Menit demi menit dilalui Syams dengan usaha untuk memecahkan masalahnya tersebut. Tapi Syams terus mengalami kegagalan. Ia sungguh tak bisa menemukan jawaban pertanyaan yang terus mengganggu fikirannya itu.

Karena tak dapat mencari tahu jawaban atas apa yang ditanyakan oleh hatinya,bSyams keluar dari kamar .Barangkali ia dapat menemukan jawabannya setelah ia mendapatkan udara segar di luar. Ketika baru saja membuka pintu, secara tak sengaja ia melihat Jaya yang tengah duduk di ruang tamu dengan sebuah buku yang menemaninya. Syams memberanikan diri untuk mendekati gurunya itu. Berniat untuk menanyakannya pada sang guru.

Setelah tiba di ruang tamu, Syams duduk tepat di hadapan Jaya. Jaya yang tengah asyik membaca buku itu tak sengaja melihat Syams yang sudah berada di hadapannya. Jaya langsung menghentikan kegiatan membacanya dan menutup bukunya saat melihat raut wajah Syams yang murung.

Jaya meletakkan buku yang digenggamnya itu di atas meja. Kemudian ia memandang wajah Syams yang murung itu. Lalu ia bertanya, ”Kenapa? Ada masalah apa? Kenapa kau terlihat murung seperti itu? Kau tidak bermain lagi?”

Syams menggelengkan kepalanya. Lalu Jaya kembali bertanya, ”Kenapa? Kenapa kau murung seperti itu? Apa kau ada masalah dengan Satria atau teman-temanmu di langgar?”

Syams kembali menggelengkan kepalanya. Jaya pun bertanya lagi, ”Lalu kenapa? Kenapa kau murung seperti itu? Ayo ceritakan saja masalahmu padaku! Supaya aku bisa membantumu untuk menyelesaikan masalahmu itu.”

Syams menghela nafas sejenak lalu menjawab, “Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya tidak percaya saja bahwa nama Bapak adalah Surya Wijaya.”

Seketika Jaya tertawa mendengar jawaban dari Syams. Ia tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sungguh tak bisa menahan tawanya ketika mengetahui bahwa alasan Syams memasang wajah murungnya hanyalah karena memikiran namanya.

Jaya menghentikan tawanya. Kemudian ia kembali bertanya, “Memangnya kenapa kalau namaku adalah Surya Wijaya?”

“Tidak, Pak Guru. Saya hanya heran dengan nama panggilan bapak.”

“Heran dengan nama panggilanku?Maksudnya?” tanya Jaya lagi.

Lihat selengkapnya