Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #41

Tipu Daya Malik pada Wijaya

Setelah mendatangi rumah Johannes dan membuat rencana pertamanya, Malik tak ingin membuang waktunya lagi untuk melaksanakan rencana keduanya. Segera ia pergi untuk mendatangi kediaman Wijaya. Malik mengendarai mobilnya untuk mengunjungi sebuah hotel yang merupakan tempat tinggal Wijaya saat sahabatnya itu berada di Jakarta. Sambil mengendarai mobil, ia memasang senyumannya. Sebuah senyuman yang sebenarnya di dalamnya tersembunyi sebuah siasat jahat. Sebagai tanda akan kepuasan hatinya setelah rencana pertamanya berhasil dijalankannya.

“Apa yang telah kurencanakan ini haruslah berhasil seperti apa yang telah kulakukan pada Johannes. Kalau kedua rencanaku ini berjalan dengan lancar, maka rencana-rencanaku selanjutnya juga akan berjalan dengan lancar. Bahkan sangat lancar. Dan aku akan mendapatkan apa yang kuinginkan. Balas dendam pada Wijaya," ucap Malik dalam mobilnya.

“Tunggu saja pembalasanku, Wijaya! Kau akan merasa menyesal dengan apa yang selama ini kau lakukan. Juga apa yang pernah kau yakinkan padaku itu,” lanjut Malik.

Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang hingga memakan waktu satu jam, akhirnya Malik telah tiba di tempat tujuan. Setelah memasuki hotel yang ditujunya itu, Malik segera mencari kamar Wijaya. Tak membutuhkan waktu yang lama, ia pun dapat menemukan kamar yang ditempati oleh seorang sahabat yang kini telah dianggapnya sebagai musuhnya itu.

Malik menekan bel di depan kamar Wijaya.bl Tak membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu, pintu itu langsung dibuka oleh Wijaya. Setelah pintu terbuka, ia langsung berlutut di hadapan sahabatnya tersebut. Apa yang dilakukan olehnya itu sungguh mengejutkan Wijaya. Ia tak mengerti mengapa Malik melakukan hal semacam itu padanya.

“Wijaya, maafkanlah kesalahanku padamu. Aku telah berbuat salah selama ini. Aku baru menyadari bahwa semua yang kau ucapkan itu memang benar. Aku berjanji setelah ini aku akan mengikuti jalan yang kau pilih itu. Aku akan berusaha untuk memperbaiki diriku. Juga mengubah caraku untuk mendidik anak-anakku,” ucap Malik dengan nada sedih.

Wijaya menolehkan kepalanya ke sekelilingnya. Ia melihat banyak orang yang melintasi kamarnya. Mereka tengah memperhatikan apa yang dilakukannya dengan Malik dengan penuh keheranan. Wijaya tak ingin ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Maka ia pun segera membantu sahabatnya itu berdiri.

Dengan sedikit kesulitan, Malik bangkit dan kembali memposisikan tubunya untuk berdiri tegak seperti semula. Setelah Malik kembali berdiri dengan tegap ,Wijaya berkata, ”Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berlutut padaku seperti itu? Sebaiknya kita berbicara di dalam saja. Lihatlah, banyak orang yang memperhatikan kita!”

Lihat selengkapnya