Matahari bersinar menghangatkan tubuh. Senyumnya yang tulus semakin membuat hati menjadi gembira. Keceriaan anak-anak yang sedang bermain di halaman mewarnai pagi hari yang baru saja di mulai itu. Di saat seperti itu, Jaya duduk di teras langgar sambil membaca sebuah buku. Sesekali ia mengalihkan pandangannya ke depan. Memperhatikan kegembiraan anak-anak yang tengah bermain dengan penuh keceriaan di halaman tersebut. Sebuah senyuman pun terbentuk setelah melihat anak-anak didiknya yang sangat bersemangat dalam menikmati permainan mereka.
Anak-anak terus bermain hingga terdengar beberapa orang bersorak gembira karena salah satunya telah berhasil mencetak gol. Suara tersebut terdengar begitu keras hingga memekakkan telinga. Namun hal tersebut tak membuat kegiatan Jaya menjadi terganggu. Senyuman di wajahnya malah semakin lebar menyaksikan keceriaan anak-anak tersebut. Di tengah keceriaan anak-anak dalam bermain, tampak seorang pria paruh baya yang tengah berjalan tak jauh dari tempat bermain anak-anak tersebut. Pria paruh baya tersebut terlihat sedang berjalan menuju langgar dengan kepala yang tertunduk. Jaya yang ingin menolehkan wajahnya kembali pada anak-anak didiknya secara tak sengaja melihat kedatangan pria tersebut. Jaya sungguh tak mengerti dengan ekspresi yang ditunjukkan seorang pria yang merupakan Lurah dari kampung yang ia tinggali tersebut. Seorang lurah yang selama ini dikenal murah senyum dan selalu terlihat bahagia itu, kini menekuk wajahnya. Seakan telah ada tangan jahat yang menampar wajahnya tersebut.
Jaya langsung meletakkan buku yang dipegangnya itu di atas meja. Setelah Lurah tersebut tiba di dekatnya, ia segera mengusap sebuah kursi di depannya dengan tangan kanannya. Kemudian ia mempersilahkan sang lurah untuk duduk di kursi tersebut. Dengan perlahan, lurah tersebut mulai duduk di sebuah kursi yang baru saja dibersihkan oleh Jaya. Setelah itu, Jaya duduk di samping Lurah itu.
“Ada apa, Pak? Kenapa wajah Bapak terlihat sedih seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi sehingga membuat Bapak menjadi bersedih seperti itu?” tanya Jaya.
Pak Lurah memandang wajah Jaya sejenak. Kemudian ia menghela nafas pendek lalu berkata dengan nada rendah, ”Jaya, nikmatilah saat-saat terakhirmu bersama anak-anak disini! Karena sebentar lagi rumah ini akan berpindah tangan.”
“Akan berpindah tangan? Maksudnya bagaimana, Pak?” tanya Jaya tak mengerti.
“Rumah ini akan dibeli oleh seseorang,” jawab sang lurah singkat.
Mata Jaya terbelalak ketika mendengar pernyataan dari Sang Lurah. Sontak ia langsung bangkit dari tempat duduknya dan berkata, ”Apa? Apa maksud Bapak sebenarnya? Apakah yang saya dengar ini benar? Tapi bukankah Bapak sendiri yang pernah mengatakan pada saya bahwa rumah ini sudah disumbangkan kepada desa ini oleh Almarhum Pak Budi?Rumah ini boleh digunakan untuk kepentingan desa ini. Tapi kenapa sekarang Bapak mengatakan kalau rumah ini akan dibeli oleh seseorang?”
Pak Lurah menghela nafas sejenak. Ia lalu berdiri dan berkata, ”Memang rumah ini adalah amanah dari Almarhum Pak Budi untuk membantu pembangunan desa ini. Tapi kau tahu sendiri Jaya, bahwa anak-anak gelandangan dan anak-anak miskin itu datang kemari tanpa membawa apapun. Mereka tinggal disini dan menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada di rumah ini secara gratis. Dan untuk menyediakan semua fasilitas dan memberi makan semua itu menggunakan uang kas. Kas kita semakin menipis hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Beberapa rencana pembangunan kampung ini pun terpaksa ditunda karenanya. Dengan menjual rumah ini, maka uangnya bisa kita gunakan untuk membangun kampung kita ini. Itu sama saja menjalankan amanat dari Almarhum Pak Budi.”
“Itu tidak sama, Pak. Seharusnya Bapak mempertimbangkan lagi tentang keputusan Bapak itu! Jangan sampai Bapak salah dalam mengambil keputusan,” tegas Jaya.
“Salah mengambil keputusan? Kau tahu apa tentang kampung ini? Kampung ini adalah tanggung jawabku. Jadi terserah aku ingin berbuat apa. Jangan menggangguku lagi! Aku ingin pergi. Aku datang kemari hanya untuk memberitahukan hal itu padamu. Jangan menambah masalahku!” ucap Pak Lurah dengan nada tinggi.
"Maaf, Pak. Jika saya lancang. Bukan maksud saya berkata demikian. Saya hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak ” ucap Jaya dengan menurunkan nada bicaranya.