Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #43

Di Balik Pembelian Langgar

Kegembiraan anak-anak tak menghilang walau baru saja selesai belajar di bawah bimbingan Jaya di sore hari. Nampak di sebuah lapangan anak-anak yang tengah asyik bermain sepak bola. Nampak Syams yang tengah bersemangat dalam menendang dan menggiring bola. Syams terus berusaha untuk memasukkan bola yang ditendangnya itu ke dalam gawang lawan.

Teman-teman Syams yang tergabung satu tim dengannya terus menyorakkan namanya. Berharap agar Syams dapat berhasil memasukkan bola ke dalam gawang dan membuat mereka meraih kemenangan. Ternyata harapan mereka tak hanya sebuah harapan belaka. Syams yang memang pandai dalam bermain sepak bola itu berhasil memasukkan bola ke dalam gawang.

Teriakan anak-anak itu mulai riuh terdengar. Satu persatu dari mereka mendatangi Syams dan bergantian memujinya. Seorang anak berkata, "Wah... Syams! Kamu benar-benar hebat! Kamu sangat pandai dalam bermain sepak bola. Aku bangga mempunyai teman sepertimu.”

Syams tersenyum lalu berkata, ”Ah, biasa saja. Kalian juga hebat. Kita menang bukan karena aku. Tapi karena kerja sama kita. Kalau kita tidak bekerja sama, pasti kita akan kalah.”

“Ah, kamu ini memang tidak suka menyombongkan diri, Syams. Padahal memang sudah jelas kalau kamu yang telah memasukkan bola itu ke dalam gawang dan membuat kita menang," sambung anak lainnya.

“Sudahlah, jangan membahas itu lagi! Lebih baik kita melanjutkan permainan kita saja!” ucap Syams.

”Ayo!” jawab anak-anak serentak.

Syams, Satria ,dan teman-temannya mengambil posisi mereka masing-masing. Mereka melanjutkan permainan yang sempat tertunda beberapa saat itu. Dengan langkahnya yang begitu gesit, Syams mengambil alih bola yang akan ditendang oleh lawannya. Kemudian ia segera menggiring bola tersebut ke gawang lawan. Sekali lagi, Syams dapat mencetak gol dengan mudahnya.

Suara riuh anak-anak yang meneriakkan nama Syams kembali terdengar di telinga. Mereka pun kembali melanjutkan permainan. Syams mengulangi hal yang sama sebanyak beberapa kali. Memasukkan bola ke gawang lawan dengan begitu mudahnya.

Tanpa terasa, sinar matahari mulai meredup. Rasa lelah mulai menghinggapi setiap tubuh Syams dan teman-temannya. Syams melirik jam tangannya. Tanpa dirinya dan teman-temannya sadari, satu jam telah mereka lewatkan hanya dengan bermain sepak bola saja. Kini telh tiba waktunya bagi mereka untuk mandi dan bersiap untuk melaksanakan ibadah sholat maghrib.

Syams dan teman-temannya langsung menghentikan permainan mereka. Walaupun mereka telah bermain cukup lama, namun sebenarnya mereka belum merasa puas dengan permainan mereka itu. Kepandaian Syams dalam mencetak gol membuat mereka ingin bermain lagi dan lagi. Tapi mereka tak bisa melanjutkan permainan mereka hanya untuk disiplin. Seperti yang selalu diajarkan oleh Jaya pada mereka.

“Ahh!!!! Aku lelah sekali!” keluh Satria dengan nafas terengah-engah.

Lihat selengkapnya