Bagai diterjang gelombang di laut yang tenang. Syams yang baru saja terlarut dalam kegembiraannya setelah asyik bermain sepak bola tak bisa mempercayai begitu saja terhadap apa yang ucapan Wolter padanya. Ia beranggapan bahwa temannya itu hanyalah bergurau semata. Karena begitulah sifat temannya tersebut. Selalu membuatnya ingin marah setiap saat. Sehingga setiap yang diucapkannya tak dapat langsung dipercayai begitu saja.
Namun ada hal yang berbeda pada diri temannya itu. Walaupun sering membuatnya marah dan mungkin apa yang diucapkannya dapat diabaikan begitu saja, tapi jika diperhatikan lebih teliti lagi, raut wajah Wolter tak menggambarkan bahwa temannya itu sedang membuat candaan.
”Tidak! Aku tidak bercanda. Memang itu kenyataannya, Syams," jawab Wolter singkat.
Wolter menggelengkan-gelengkan kepalanya sambil menampakkan senyumannya pada Syams. Ia lalu melanjutkan perkataannya, ”Syams, aku sungguh tidak mengerti kenapa hidupmu selalu dipenuhi dengan penderitaan. Kau telah diusir dari rumah oleh ayahmu sendiri. Kau harus tinggal di kampung yang sangat kumuh ini. Dan sekarang kau juga akan meninggalkan teman-teman barumu itu.
"Ya, walaupun mereka tidak sederajat denganmu. Tapi kau sudah lama berbaur dengan mereka dan sudah menganggap mereka seperti keluargamu sendiri. Sekarang kau harus kehilangan mereka lagi,” Wolter melanjutkan perkataannya.
Kedua mata Syams terbelalak ketika mendengar pernyataan dari Wolter. Dengan nada tinggi, ia berkata, “Apa katamu? Ayahku tidak akan berbuat hal sejahat itu! Dia mungkin terpengaruh dengan ayahmu yang jahat itu.”
“Kenapa tidak? Ayahmu tidak merasa keberatan untuk mengusirmu dari rumah. Lalu kenapa beliau tidak bisa membuat orang lain menderita?” ucap Wolter dengan senyumannya yang menghina.
Wajah Syams mulai memerah. Ia mengepalkan kedua tangannya. Pandangan matanya yang tajam tertuju pada Wolter. Dengan sangat cepat, ia mengangkat tangannya dan ingin memukulkannya pada Wolter. Namun Wolter nampak tenang ketika Syams melakukan hal semacam itu padanya.
”Wolter! Jangan mencoba untuk mengganggu Syams lagi!”
Terdengar sebuah seorang anak perempuan dari dekat mereka.
Secara bersama-sama, Syams, Wolter, dan Satria menolehkan wajah mereka untuk mencari asal suara tersebut. Setelah dicari, ternyata suara tersebut berasal dekat Syams. Tepat beberapa langkah di samping kiri Syams, seorang anak perempuan yang tak lain adalah Aisyah terlihat begitu marah.