Nashir memperhatikan emosi yang tergambar di wajah Aziz dan Aisyah. Ia lalu berkata, “Sudah, jangan ditanggapi dengan emosi! Lebih baik kita selidiki saja apakah hal itu benar atau tidak. Jangan-jangan itu hanya gurauan Wolter saja untuk menggoda Syams. Dan jika itu memang benar, maka kita juga harus selidiki apa yang sebenarnya dilakukan oleh apak dan Tuan Johannes! Dan apa motif dibalik itu semua. Apakah hanya karena bisnis atau ada maksud yang lainnya.”
“Baik Uda,” jawab Aziz, Aisyah, dan Syams serentak.
Saat tengah asyik berbicara, tiba-tiba mereka mendengar suara langkah kaki di telinga mereka. Mereka juga mendengar perbincangan yang terjadi di antara dua orang dewasa. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar di telinga mereka.
Mereka pun langsung menolehkan wajah pada sumber suara tersebut. Ternyata tak hanya dua. Tapi tiga orang dewasa yang tengah berjalan menuju langgar. Terlihat oleh mereka Malik tengah berbicara pada Pak Lurah. Sementara Johannes mendengarkan pembicaraan keduanya.
Melihat ketiga orang dewasa itu semakin mendekat dengan tempat mereka berdiri, Nashir segera menyuruh Satria dan ketiga adiknya untuk bersembunyi. Nashir dan Aziz bersembunyi di balik sebuah pohon besar yang terletak di sisi kanan langgar. Sementara Syams, Satria, dan Aisyah berada dibalik pohon di sisi kirinya.
“Rumah ini sangat indah, Pak. Tanahnya juga luas. Lihat saja di depan ini! Ada banyak tanaman dan bunga mengelilingi halaman. Lihat saja rumahnya juga begitu besar!” ucap Pak Lurah sambil mengarahkan tangannya pada rumah tersebut.
Kedua mata Johannes memperhatikan setiap bagian rumah. Kedua matanya tak memperhatikan rumah yang ada di depannya. Namun ia malah memperhatikan sisi kanan dan kirinya. Ketika mata Johannes tertuju pada tanaman dan bunga-bunga, Syams, Aisyah,qdan Satria segera berjongkok agar tak terlihat oleh Johannes. Sementara Nashir dan Aziz berdiri tegak layaknya patung dan menutupi diri mereka dengan cabang pohon yang cukup besar.
“Rumah ini lumayan bagus. Tapi saya tidak membutuhkan rumahnya. Saya hanya membutuhkan tanahnya saja,” ucap Johannes setelah memperhatikan sisi kanan dan kirinya.
“Oh, tanah ini cukup luas. Bapak lihat saja dari sisi kanan bapak hingga kiri bapak! Itu luas sekali. Bahkan bagian belakangnya juga sangat luas. Mari saya tunjukkan!” ucap Pak Lurah menjelaskan.
Pak Lurah mengajak Johannes dan Malik untuk pergi ke bagian belakang rumah. Setelah mereka tiba di tempat tujuan, Nashir memberi isyarat pada Syams, Aisyah, dan Satria untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Kemudian ia dan Aziz bersama-sama keluar dari cabang pohon tempat mereka bersembunyi.
“Benar kan apa yang dikatakan Wolter? Anak itu memang suka memancing emosiku. Tapi kali ini dia terlihat serius," ucap Syams.
"Kenapa apak melakukan semua itu? Padahal apak kan selalu bermusuhan dengan papinya Wolter,” keluh Syams.
”Memang begitulah sifat apak. Sangat kejam. Mungkin ada maksud lain apak mau bekerja sama dengan Tuan Johannes. Atau mungkin apak mempunyai rencana jahat terhadap Tuan Johannes. ”Lanjut Aziz.
“Sudah tidak usah berkata seperti itu! Yang terpenting sekarang kita harus bisa menggagalkan rencana apak itu. Apa kalian tidak merasa kasihan pada anak-anak yang tidak bisa bersekolah itu? Kalau rumah ini dijual, maka bagaimana nasib mereka selanjutnya?” lerai Nashir.