Rencana dan permainan Malik tidak berhenti di titik itu. Ia masih melanjutkannya hingga akhirnya permainan selesai dan dirinya memenangkan permainan tersebut. Pagi hari setelah ia mengantarkan Johannes mengunjungi rumah yang ia bicarakan beberapa hari yang lalu, ia kembali ke tempat teyang sama namun dengan orang yang berbeda. Kali ini ia mengajak Wijaya. Ia akan menepati janjinya pada sahabatnya itu untuk mempertemukannya dengan putranya yang telah menghilang beberapa tahun lalu.
Wijaya merasa senang tak terkira karena ia dapat kembali berjumpa dengan putra kesayangannya setelah sekian lama. Namun ia tak ingin melihat rumah tersebut dari jarak dekat disebabkan oleh kesalahannya pada sang putra yang tak bisa termaafkan oleh dirinya sendiri. Cukup melihat dari kejauhan saja sudah membuat rindunya terobati.
Oleh karena itu, Malik hanya berdiri dari jarak yang cukup jauh dengan rumah yang sering disebut sebagai langgar itu. Tangan Malik menunjuk pada rumah yang digunakan Jaya untuk menggapai cita-citanya sebagai seorang sukarelawan pada Wijaya. Selain itu, Malik juga menunjukkan keberadaan Jaya pada sahabatnya itu. Wijaya begitu bahagia ketika dapat melihat kembali keberadaan putranya.
Hati kecil Wijaya sudah merasa tak sabar lagi untuk melepas kerinduannya pada sang putra. Hingga tanpa sadar, kakinya mulai melangkah untuk mendekati Jaya yang saat itu tengah duduk di teras. Namun baru saja ia melangkahkan kakinya satu langkah ke depan, ia tersadar dengan apa yang dilakukannya itu. Maka dengan cepat, ia menarik mundur kakinya tersebut. Ia tak berani untuk menampakkan dirinya pada putranya disebabkan dosanya yang begitu besar pada putranya tersebut.
“Seperti yang pernah kau katakan padaku bahwa putramu itu adalah orang yang senang menolong orang lain. Hingga dia tak memiliki waktu untuk memikirkan kebahagiaannya sendiri. Ia rela tinggal di tempat yang sangat buruk ini demi mewujudkan cita-citanya yang sangat konyol itu," ucap Malik.
"Tapi sebentar lagi dia akan menjadi sangat menderita. Karena rumah ini akan dibeli oleh Johannes. Dan ia akan menyadari kesalahannya itu. Dia akan datang sendiri padamu dan meminta maaf,” lanjutnya.
“Tidak! Semua itu tidak akan terjadi. Aku yang bersalah padanya. Mengapa dia yang harus meminta maaf padaku? Semua yang diinginkannya itu benar. Dan dia akan menjalani hidupnya seperti apa yang dia inginkan,” tegas Wijaya sambil terus mengarahkan pandangan matanya pada sang putra.
Malik terkejut mendengar jawaban dari Wijaya. Jawaban itu bukanlah jawaban yang diinginkannya. Maka dengan nada tinggi, ia berkata, “Memangnya apa yang ingin kau lakukan untuknya? Semua ini telah terjadi. Dan kau tidak akan bisa merubah takdir ini.”
Wijaya menatap wajah Malik dengan tajam sambil berkata, “Tidak! Aku masih bisa melakukan sesuatu agar dia tetap bisa tetap menjalani hidupnya seperti ini .Lihat saja apa yang bisa aku lakukan untuknya!”