Di tengah ketakutannya akan nasib buruk yang menimpa putranya, tiba-tiba Wijaya dikejutkan dengan kedatangan dua orang anak laki-laki yang tengah mengendarai sebuah sepeda di depannya. Melihat hal tersebut, Wijaya langsung terbangun dari lamunannya. Ia kemudian memanggil kedua anak yang tengah berpapasan dengannya itu. Setelah mengetahui bahwa mereka tengah dipanggil oleh Wijaya ,Satria menghentikan kayuhan sepedanya. Kemudian ia menyuruh Syams untuk turun dari sepedanya tersebut. Setelah Syams turun, Satria mendorong mundur sepedanya untuk menghampiri orang tua yang baru saja memanggil mereka itu. Syams pun ikut berjalan mendekati pria tua tersebut. Walau mereka tak mengerti mengapa mereka dipanggil oleh lelaki tua itu.
Setelah Syams dan Satria tiba di hadapannya, Wijaya berkata, “Hmm... Nak, Om ingin bertanya pada kalian. Apa kalian mengenal tentang seorang pemuda bernama Surya? Barangkali kalian mengenalnya.”
Syams dan Satria terdiam. Mereka tak mengerti tentang orang yang tengah dibicarakan oleh orang tua yang berdiri di hadapan mereka itu. Satria malah bailk bertanya, ”Surya? Siapa Surya? Om berbicara tentang siapa?”
Kini berbalik Wijaya yang tak mengerti mengapa kedua anak di hadapannya itu tak mengenal orang yang tengah ia tanyakan pada mereka. Ia pun kembali bertanya, “Apa? Kenapa kalian tidak mengenalnya? Padahal namanya sudah tidak asing lagi di tempat ini. Dia pendatang di desa ini. Surya. Nama lengkapnya Surya Wijaya. Apa. kalian benar-benar tidak mengenalnya?”
Tiba-tiba Syams langsung teringat sebuah hal setelah mendengarkan penjelasan dari Wijaya. Ia pun berkata, “Oh... Pak Jaya maksudnya?"
"Pak Jaya?" tanya Wijaya semakin tak mengerti.
Syams mengangguk. Kemudian ia menjawab, "Benar Om. Pak Jaya. Sekarang nama panggilannya bukan Surya lagi. Tapi Pak Jaya. Beliau sengaja mengubah nama panggilannya untuk menghormati orang tuanya. Juga agar beliau selalu teringat pada orang tuanya saat orang memanggilnya dengan nama Jaya. Padahal orang tuanya sudah mengusirnya dari rumah.”
Hati Wijaya bak tersayat pisau belati setelah mendengarkan penjelasan dari Syams. Tak pernah terbayangkan olehnya betapa murninya hati sang putra. Ia sudah dengan tega mengusir putra kesayangannya itu dari rumah. Kala itu ia bukanlah manusia lagi. Ia lebih kejam dari monster dengan berbuat begitu kejam pada putranya sendiri.
Ia mengira bahwa putranya itu akan sangat membencinya setelah apa yang ia perbuat padanya. Ia mengira bahwa putranya pasti tak akan mempunyai maaf yang kan diberikan padanya karena rasa sakit yang begitu mendalam yang pernah ia berikan padanya kala itu. Namun ternyata tidak. Ternyata apa yang ia kira selama ini salah.