Gelapnya malam itu seakan menggambarkan gelapnya hari-hari yang akan dilalui oleh keluarga Syams. Beberapa hari yang lalu, Nashir dan Aisyah terpaksa melupakan cita-cita mereka demi menuruti keserakahan sang ayah untuk menjadikan anak-anaknya menjadi pengusaha sukses sepertinya. Masalah masih belum berakhir. Masalah terus saja berdatangan satu persatu.
Hidup Syams terancam karena langgar yang ia gunakan untuk belajar dan bermain bersama teman-temannya. Langgar yang selama beberapa bulan lamanya digunakannya untuk melepaskan diri dari kesedihan. Langgar yang merupakan salah satu tempat pengobat hati yang tengah terluka parah dalam waktu yang begitu singkat akan diambil alih oleh ayahnya dan seorang tetangganya yang jahat layaknya monster.
Di saat semua tengah bersuka atas kabar buruk yang baru saja menimpanya, Malik tengah tertawa terbahak-bahak sambil terus berjalan menuju kamarnya. Ia sungguh merasa puas dengan apa yang telah dilakukannya hari itu. Walau ia gagal untuk mengadu domba Wijaya dengan putranya, tapi semua itu tak mengapa. Setidaknya dirinya bisa membuat hidup Surya menjadi menderita. Dengan begitu ia bisa membalaskan dendamnya pada Wijaya yang telah memutuskan hubungan persahabatan dengannya secara tiba-tiba.
“Haahh... Puas aku hari ini. Tak mengapa aku gagal untuk mengadu domba Wijaya dan putranya. Setidaknya aku bisa membuat hidup putranya itu menjadi menderita. Kalau hidup Surya menderita, maka Wijaya juga akan menderita. Dengan begitu dendamku dapat terbalaskan,” ucap Malik dalam perjalanan menuju kamarnya.
Malik kembali tertawa. Ia terus tertawa hingga tak tahu kapan tawa itu akan berhenti. Tawa itu semakin keras terdengar di telinga. Tawa Malik membuat Nashir, Aziz, dan Aisyah menjadi ketakutan. Dengan tubuh gemetaran, mereka menyaksikan langkah ayah mereka dari balik pintu kamar. Tawanya yang terus dilakukannya sepanjang jalan membuat duka di hati mereka semakin dalam.
Semakin lama langkah Malik semakin lepas dari pandangan membuat Nashir. Ia pun menutup pintu kamarnya. Disandarkannya tubuhnya ke dinding kamar. Pandangan matanya menatap jauh ke depan. Aziz dan Aisyah duduk di lantai dengan tubuh yang lemas dan raut wajah yang lesu.
“Sepertinya rencana apak berjalan dengan lancar. Lihat saja senyuman di wajahnya itu! Apak terlihat sangat puas dengan apa yang dilakukannya hari ini,” ucap Aziz mengawali pembicaraan.
Nashir menarik nafas sejenak lalu menjawab, ”Sepertinya memang begitu. Aku juga berfikir seperti itu. Tapi aku masih belum tahu rencana apa yang sedang apak jalankan saat ini. Aku juga tidak tahu siapa lagi yang akan menjadi korban dadi kekejaman apak.”
“Semoga saja ada yang bisa menghentikan kejahatannya itu. Agar tidak ada lagi korban dari kekejamannya itu. Apalagi Syams. Aku tidak mau Syams menjadi korban dari kekejaman apak lagi," tambah Aisyah.
“Semoga saja begitu,” ucap Nashir dengan nada lemas.
Di lain sisi, Malik yang telah tiba di depan kamarnya mulai menghentikan tawanya. Walau begitu, senyuman masih menempel kuat di wajahnya yang menyeramkan itu. Ia lalu membuka pintu kamar dengan perlahan. Saat pintu baru saja terbuka, ia melihat Maryam yang telah berdiri beberapa langkah di depannya dengan posisi membelakanginya.
Maryam membalikkan tubuhnya setelah mendengar pintu kamar yang terbuka. Tatapan matanya yang tajam mulai diarahkan pada kedua belah mata Malik. Malik yang tidak mengerti tentang sikapnya itu menjadi sangat heran. Namun ia sama sekali tak memperdulikannya. Ia pun memasuki kamar dan menutup pintu dengan rapat.
“Kenapa? Kenapa kau melakukan semua itu pada sahabatmu sendiri? Mengapa kau mengadu dombanya dengan Surya?” ucap Maryam dengan masih menatap tajam wajah Malik.