Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #49

Maafkan Ayah Saya

Sebenarnya suasana pagi hari itu sangat cerah. Matahari bersinar begitu terangnya. Namun semua itu tak berarti apa-apa bagi Ratna saat melihat kedua mata suaminya yang nampak sayu.

Pagi itu raut wajah Wijaya rmemang nampak sangat lesu. Tubuhnya begitu lemah seolah tak memiliki daya lagi untuk hidup. Ia hanya bisa duduk di sofa. Ada sebuah laptop yang telah terbuka di hadapannya. Tapi ia enggan untuk memegangnya dan memeriksa pekerjaan para karyawannya. Ratna ingin mencoba menghibur hati suaminya tersebut. Mungkin dengan segelas kopi ia bisa membuat hati suaminya itu kembali tenang walau masalah dalam hidupnya belum usai.

Ratna meletakkan segelas kopi yang dipegangnya itu di atas meja. Kemudian ia duduk di samping Wijaya yang tengah duduk menyandarkan dirinya di sofa sambil meletakkan tangannya pada dahinya. Mengetahui bahwa Ratna berada di sampingnya, Wijaya langsung memperbaiki posisi duduknya. Lalu ia pun mengambil segelas kopi yang diletakkan di atas meja dan meminumnya dengan perlahan.

“Aku baru saja mendengar kabar dari Maryam bahwa Malik berencana untuk mengadu dombamu dengan Surya. Dengan memperlihatkan apa yang dilakukan Surya di luar sana padamu, dia berfikir bahwa Mas akan membenci Surya. Dengan begitu, Mas tidak akan memaafkan kesalahan Surya. Apalagi mengembalikannya ke rumah ini. Dia ingin menggunakan Mas untuk mengembalikan nama baiknya,” ucap Ratna mengawali pembicaraan.

Wijaya meletakkan gelas yang dipegangnya di atas meja. Kemudian ia menghela nafas sejenak lalu menjawab, ”Itu semua memang benar. Dia juga ingin agar aku selalu di sampingnya selama di rumah itu. Sehingga jika Surya melihatku berjalan bersamanya, Surya pasti akan membenciku. Dia ingin agar aku kembali mengikuti jalannya yang salah. Dan seperti yang kamu katakan, dengan begitu nama baiknya akan kembali.”

“Tapi aku tidak akan menjadi sepertinya. Yang selalu memelihara sifat jahatnya itu. Yang dapat menyiksa banyak orang. Bahkan putra bungsunya sendiri telah menjadi korban. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku sendirilah yang akan membawa Surya kembali ke rumah ini," lanjut Wijaya.

Setelah menyelesaikan kata-katanya, Wijaya menarik nafas panjang. Kemudian ia menghadapkan wajahnya pada Ratna. Ia menggenggam kedua tangan istrinya itu dan memandang matanya dengan penuh kelembutan.

Wijaya berkata, ”Aku berjanji padamu bahwa aku akan membawa Surya kembali ke rumah ini dengan kedua tanganku sendiri. Aku akan menebus kesalahanku pada kalian berdua. Aku akan mengembalikan senyummu dan kebahagiaan Surya."

Percayalah kepadaku, bahwa orang yang membuat rumah ini semakin berwarna akan kembali pada kita," lanjutnya meyakinkan.

Ratna meneteskan air mata setelah mendengar pernyataan dari Wijaya. Seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.Seorang yang telah mengusir putranya dengan sangat kejam kini berniat untuk mengembalikannya dengan tangannya sendiri. Ia mencoba mengusap air matanya kemudian berkata, ”Ya, aku sangat percaya pada Mas. Mas tidak seperti Malik yang tak kan bisa dipisahkan dengan sifat kejamnya itu. Mas adalah orang yang baik. Juga ayah yang baik. Mas menjadi kejam seperti Malik karena sebuah masalah besar yang datang dalam hidup kita. Aku bisa memakluminya. Dan aku yakin kalau Mas pasti akan kembali menjadi orang yang baik seperti semula. Mas akan kembali menjadi diri Mas yang sesungguhnya.”

Malam telah gelap gulita. Semua orang telah terlelap dalam tidurnya. Semuanya nampak tenang. Tak ada suara apapun yang dapat mengganggu telinga. Jauh berbeda dengan suasana hati Jaya yang berantakan.Tak tahu bagaimana cara merapikannya kembali. Semuanya serba tak menentu.

Lihat selengkapnya