Sepasang Satria Piningit

Anggrek Handayani
Chapter #50

Bertemu Surya Kembali

Syams semakin tidak tega untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Jaya. Ia sungguh merasa berdosa jika ia benar-benar melakukannya. Namun apa boleh buat? Semua itu merupakan kebenarannya.

Syams memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. Lalu ia menjawab pertanyaan dari sang guru dengan berkata, “Iya Pak Guru. Saya berkata benar. Saya melihatnya sendiri. Apak sedang berbicara dengan Tuan Johannes di depan langgar ini. Mereka sangat senang membicarakan tentang penjualan rumah ini,” jawab Syams.

“Saya tidak sendiri saat melihatnya. Saya bersama dengan Uda Nashir, Uda Aziz, Uni Aisyah, dan juga Kak Satria. Kalau Pak Guru tidak percaya pada saya, maka Pak Guru bisa menanyakannya langsung pada Kak Satria," lanjut Syams.

Jaya menghela nafas pendek lalu berkata, ”Yaaah... Aku percaya. Ini memang situasi yang sangat sulit. Ini adalah salah satu ujian untuk seorang ksatria. Dan kau tidak perlu meminta maaf padaku atau pada siapapun. Karena memang ini bukanlah kesalahanmu.”

"Pasti sangat sulit untuk menghadapi musibah ini. Apalagi musibah ini berasal dari ayah murid bapak sendiri,” ucap Syams sambil kembali menundukkan kepalanya.

Jaya menolehkan wajahnya pada Syams. Kemudian ia memandangi sejenak wajah muridnya yang sedang tertunduk karena rasa bersalahnya tersebut. Ia pun berkata, “Sudahlah jangan terlalu difikirkan! Lebih baik sekarang kau pulang bersama Satria dan bersiap berangkat sekolah.”

“Baik Pak guru!” jawab Syams dengan lirih.

Syams memohon izin pada Jaya untuk meninggalkan tempat tersebut. Jaya menganggukkan kepalanya sebagai pertanda atas izinnya pada Syams. Setelah mendapatkan izin, Syams berjalan perlahan meninggalkan Jaya. Sesekali ia menolehkan wajahnya pada Jaya. Jaya kembali menganggukkan kepalanya sebagai sebuah isyarat agar Syams tetap berjalan dan tak memikirkan masalah besar yang sedang terjadi.

Syams bergegas untuk menghampiri Satria yang telah siap dengan sepedanya di tempat parkir. Rasa bersalah masih menghantuinya di setiap langkahnya. Ia tak tahu bagaimana cara meminta maaf pada sang guru. Ia juga tak tahu bagaimana caranya agar ia dapat mengembalikan senyum sang guru yang telah hilang.

Di sisi lain, Wijaya tak berhenti berusaha untuk membujuk Lurah. Keinginannya yang kuat agar sang lurah dapat mengubah keputusannya untuk tak menjual rumah kosong itu tak terbantahkan lagi. Ia berusaha keras untuk memenangkan adu mulut yang tengah terjadi antara dirinya dengan sang lurah. Walau semua yang diucapkannya itu tak pernah mendapatkan tanggapan.

“Saya berjanji pada Bapak bahwa saya akan membeli rumah itu dengan harga yang yang tinggi. Bahkan lebih tinggi dari yang ditawarkan oleh tuan tanah itu,” bujuk Wijaya.

“Sudahlah Bapak tidak usah mengganggu saya lagi! Sebenarnya Bapak ini siapa? Kenapa Bapak bersikeras agar saya tak menjual rumah itu? Apa keuntungan Bapak dari semua itu! Apa keuntungan Bapak dengan membeli rumah itu?Lagipula sama saja kan kalau saya mau menjual rumah itu pada Tuan Malik atau pada anda?” jawab sang lurah.

Wijaya terdiam sejenak lalu menjawab, ”Tentang siapa saya itu bukanlah masalah. Tapi saya bukanlah orang seperti Tuan Malik yang ingin membeli rumah itu untuk kejahatan. Saya membeli tanah itu untuk kepentingan masyarakat.”

Sang lurah menolehkan wajahnya pada Wijaya sejenak. Kemudian ia tertawa kecil lalu berkata, "Anda ini lama-lama seperti Jaya yang selalu berbicara tentang kepentingan masyarakat. Bahkan Jaya pun tak mampu untuk membeli rumah itu dan hanya bisa pasrah. Kenapa anda malah bersikeras untuk mendapatkan rumah itu?"

"Sudahlah, sebaiknya anda pergi saja dari hadapan saya! Jangan pernah mengganggu saya lagi!” lanjut sang lurah.

Lurah itu menutup dokumen yang berada di hadapannya. Kemudian ia memukul meja dengan kedua tangannya. Lalu ia meninggalkan balai desa dan menyisakan Wijaya di dalamnya. Walau begitu, Wijaya tak ingin menyerah begitu saja. Ia tetap ingin berusaha keras untuk mewujudkan keinginannya itu. Walau dengan cara apapun Lurah itu harus menjual rumah itu padanya. Bukan pada Malik. Atau memilih untuk tidak menjualnya agar tidak menimbulkan masalah besar yang akan menimpa seluruh warga kampung tersebut.

Wijaya meninggalkan balai desa itu dengan masih memikirkan cara untuk mengambil alih rumah itu dari tangan-tangan jahat seperti Malik dan Johannes. Setelah tiba di sebuah rumah yang disebut langgar itu ia menghentikan langkahnya. Ia berdiri tegak sambil memandang rumah tersebut dengan hati yang pedih.

Lihat selengkapnya