Sepatu Butut Keramat

M Syalu
Chapter #3

Adu Kesaktian

Cukup cepat Yoga dan Hendi menemukan alamat praktik Ki Sopo Melongo, karena selain cukup dekat, lokasinya juga memang berada di tepi jalan raya. Usai membayar uang pendaftaran kepada si mbak resepsionis cantik—berpakaian formal yang lengkap dengan dasi kupu-kupunya—mereka pun langsung dipersilakan duduk di ruang tunggu.

Ruang tunggu berbentuk lorong panjang tampak sepi. Selain mereka berdua, hanya ada satu orang laki-laki yang juga tampak menunggu. Sepatu butut yang dibawa Yoga kali ini bukan hanya dimasukkan ke dalam kantong plastik, tetapi juga dibungkus dengan kertas koran berlapis-lapis.

“Lagi nunggu juga, yah, Mas?” sapa Hendi kepada pria kerempeng berkulit gelap yang duduk tepat di sebelah kirinya.

Namun, pria itu tak menjawab. Meski menoleh, dia cuma cengar-cengir, hingga terpampanglah dua gigi depannya yang ompong.

“Emm, saya tau, pasti mau tanya-tanya soal jodoh, kan?” lanjut Hendi begitu yakin menebak, karena terlihat jelas betapa culunnya wajah pria kerempeng itu.

Namun, lagi-lagi pria itu tak menjawab. Dia cuma terus saja nyengir. Saat hampir sekitar setengah menit dia nyengir, tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak sambil melotot tak henti-henti. Hendi pun terperanjat, hingga lekas bergeser menjauhinya.

“Kayaknya dia orang sinting, bro?” bisik Hendi di telinga Yoga.

Yoga tak berkomentar, cuma nyengir menatap handphone.

“Alfred…! Alfred…! Jangan ganggu klien!” seru si mbak resepsionis sembari memunculkan kepala dari balik dinding ruang kerjanya. Mendengar itu, seketika si pria kerempeng pun terdiam. Pandangannya lurus ke depan, dengan wajah melongo sambil terus menganga.

Tak lama waktu berselang, datang sepasang suami istri yang ikut duduk di ruang tunggu. Penampilan mereka terlihat begitu high class, menunjukkan kalau mereka memang berasal dari kalangan menengah atas.

“Sudah lama menunggunya, Mas?” sapa suaminya yang berdasi mewah saat baru saja duduk tepat di sebelah kanan Yoga.

“Baru, Pak,” jawab Yoga, senyum.

“Sudah sering kemari?”

“Baru kali ini, Pak.”

“Kalau saya, ini yang kelima kalinya,” jelas si pria berdasi sembari membakar ujung rokoknya. “Rokok, Mas?” lanjutnya menawari.

“Terima kasih, Pak. Tidak merokok.”

“Ki Sopo Melongo itu memang benar-benar sakti,” si pria berdasi menatap ke depan sambil menyemburkan asap dari mulutnya. “Kunjungan saya yang sebelum ini benar-benar sangat memuaskan. Waktu itu, saya kehilangan dompet. Begitu sadar, saya pun langsung datang kemari.”

“Wah, langsung ketemu, Pak?” potong Yoga.

“Nggak... waktu itu saya langsung disuruh oleh Ki Sopo Melongo untuk segera pergi ke lapangan Monas. Saya disuruh berdiri tepat menghadap ke arah tugu Monas itu.”

“Oh ya? Berapa lama?”

“Sampai sore.”

“Terus, ketemu dompetnya?”

“Nggak....”

“Lho?” Yoga terkejut hingga menarik kepalanya sedikit ke belakang.

“Setelah menjelang maghrib, akhirnya saya pulang. Tentu dengan perasaan penuh kekecewaan dong... karena dari siang sampai sore terus berdiri, bahkan sampai kulit saya terasa meletak akibat terjemur seharian, namun pulang dengan tangan hampa. Malamnya, saya merasa sangat gelisah, hingga sulit rasanya memejamkan mata. Maklum, di dalam dompet itu bukan hanya ada uang tunai yang lumayan banyak, tapi juga semua kartu ATM, kartu kredit, dan beberapa benda berharga lainnya. E... tapi kemudian, keesokan harinya, tiba-tiba datang ke rumah saya seorang perempuan, cuannntik betul!”

“Oh, pasti perempuan itu datang membawakan dompet Bapak, yah?” Yoga lagi-lagi coba menebak akhir cerita.

“Oh, nggak… perempuan cantik itu rupanya seorang SPG yang coba menawarkan sebuah produk baru dari perusahaan ternama di Indonesia. Tapi anehnya, perempuan itu demen banget ngobrol panjang lebar sama saya. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, dia mau saya ajak makan malam di luar. Setelah itu, hubungan kami semakin hari semakin dekat, dan akhirnya kami pun memutuskan untuk menikah.”

“Oh, pasti Ibu ini, yah?” ucap Yoga sembari menunjuk perempuan yang duduk di sebelah pria itu, sekalipun dia agak kecewa, karena gambaran kata ‘cuannntik’ yang didengarnya tadi meleset cukup jauh dari perkiraannya.

“Oh, bukan... kalau ini Istri ketiga saya.”

“Oh... lha, terus, bagaimana akhirnya dengan dompet Anda?” Yoga nyerah menebak.

“Setelah sekitar satu bulan kami menikah, saya pun menghubungi kembali Ki Sopo Melongo lewat telepon. Tentu dengan maksud menanyakan kembali dompet saya yang hilang itu. Eh, ternyata beliau jawab gini: ‘Sebenarnya, dompet Anda beserta isinya itu tidak hilang, tetapi sudah dipakai untuk membayar mahar mendapatkan jodoh.’ Wah, saya sampai berdecak kagum waktu itu, hingga kemudian saya menghadiahkan sebuah mobil untuk beliau.”

Yoga terdiam tanpa ekspresi. Dia bingung, bapak itu sedang cerita, atau lagi latihan stand up comedy? Tapi yang pasti, dia sudah enggan mendengar ceritanya lagi. Dia pun pura-pura khusyuk menatap handphone-nya.

Tak lama kemudian, si mbak resepsionis memberitahukan bahwa mereka berdua telah sampai pada gilirannya untuk menemui Ki Sopo Melongo.

“E... ruangannya yang sebelah mana, yah, Mbak?” seru Yoga mengeraskan suaranya, karena si mbak resepsionis kembali hanya memunculkan kepalanya.

“Lurus saja. Nanti pas mentok, ada pintu di sebelah kiri. Langsung buka saja pintunya,” jelas si mbak resepsionis.

Mereka berdua pun langsung bergerak. Saat membuka pintunya, rupanya mereka tidak langsung mendapati ruangan sang paranormal. Di balik pintu tersebut hanyalah sebuah lorong panjang yang berdesain persis seperti lorong gua batu. Cahaya lorong redup, berwarna merah api pelita. Suasananya begitu hening, hingga mereka dapat mendengar suara langkah kaki mereka sendiri. Lorong yang lumayan panjang itu diakhiri dengan sebuah tangga besi yang melingkar ke bawah tanah. Setelah mereka melewati tangga besi tersebut, rupanya lagi-lagi mereka menjumpai sebuah lorong.

Suasana di lorong bawah tanah terasa lebih menyeramkan. Sesekali sayup-sayup terdengar suara aneh yang membuat merinding bulu roma. Pada bagian dindingnya, banyak terpampang benda-benda menakutkan, seperti tengkorak manusia ataupun patung binatang-binatang buas yang diawetkan. Lorong yang tak terlalu panjang—dibandingkan yang sebelumnya—itu diakhiri oleh sebuah pintu, yang tepat di bagian atasnya bertuliskan: ‘Pintu Surga’. Mereka pun langsung mengetuk pintu tersebut sambil mengucapkan salam. Mereka sempat mengulanginya hingga tiga kali, bahkan sampai sedikit berteriak, karena walau sudah sempat terdiam cukup lama, namun belum juga ada yang memberi respons.

“Jangan-jangan udah tidur, kali?” Hendi coba menebak.

“Ah, nggak mungkin. Kalo dia udah tidur, si Mbak resepsionis nggak bakalan nyuruh kita masuk. Lagian, yang gue tau, orang sakti itu biasanya jarang tidur.”

“Apa jangan-jangan, dia lagi boker dulu sementara?”

“Kalo itu bisa jadi.”

Lantaran enggan menunggu lebih lama lagi, Yoga pun mengambil inisiatif langsung membuka handle pintu. Dan ternyata pintu tak dikunci, membuat mereka kemudian sepakat untuk langsung masuk ke dalam.

Tak seperti yang sempat mereka perkirakan, ruangan yang mereka masuki saat ini tak sedikit pun mirip ruang pertapaan. Desain ruangan seperti ruang tamu mewah biasa, yang lengkap dengan sofa indah serta pernak-pernik lainnya. Di salah satu dinding terdapat sebuah layar TV LED 32 inch.

“Permisi! Assalamu'alaikum!” Untuk kesekian kalinya Yoga mengucapkan salam sambil menghadap ke arah dalam, lantaran sejauh ini mereka belum juga merasakan keberadaan barang seorang pun di sana. Mereka berdua pun kebingungan.

Karena merasa tidak sopan bila begitu saja coba menyelonong lebih ke dalam, mereka memutuskan duduk menunggu di sofa. Saat baru beberapa detik mereka menaruh bokongnya, mereka pun terperanjat. Tiba-tiba TV LED berlayar lebar yang menggantung di dinding menyala dengan sendirinya. Layar TV menampilkan video live si Mbak resepsionis cantik yang tengah berada di ruang kerjanya.

“Lho, Mbak, Mbak, Mbak!” Yoga berteriak memanggil-manggilnya, bahkan sampai bergerak mendekati layar TV, karena si mbak resepsionis tak menghadap ke arah kamera. Dia hanya tampak sibuk me-refresh make-up di wajahnya sambil senyam-senyum sendiri menatap kaca.

Ternyata si mbak resepsionis dapat mendengar panggilan Yoga, karena layar TV rupanya memang difungsikan sebagai alat komunikasi. Dia menengok, lalu berkata, “Langsung masuk ke kamar Ki Sopo saja, Mas, yang ada di paling ujung ruangan.” Mendengar itu, mereka berdua pun bergegas mencari kamar yang diberitahukan.

Cukup mudah mereka menemukannya, karena di bagian dalam hanya ada satu pintu yang tampak tertutup. Mereka langsung mengetuknya sambil sekali lagi mengucapkan salam, walau pada akhirnya lagi-lagi mereka harus kecewa, karena tak ada seorang pun yang menjawabnya. Mereka pun kembali sepakat untuk langsung membuka pintu, kemudian masuk.

Sangat jauh berbeda dengan nuansa sebelumnya, kali ini keseluruhan desain ruangan yang mereka masuki tampak sebagaimana kamar dukun pada umumnya. Meski begitu, vibes kehororannya tak terlalu terasa, mungkin akibat alunan musik yang sayup-sayup menghiasi ruangan bukanlah musik tradisional beraroma mistik yang bisa membuat perasaan bergidik, melainkan irama dangdut ceria yang mampu membuat hati tergoda. Musik itu berjudul: Buka Sitik Joss.

Jauh di ujung ruangan, mereka mendapati wujud seorang pria paruh baya tengah duduk bersila menghadap ke arah pintu masuk. Pria itu berpakaian serba hitam yang lengkap dengan ikat kepala, sementara di sekelilingnya dipenuhi bermacam ragam perlengkapan ritual perdukunan, termasuk kepulan asap kemenyan. Tentu sudah jelas, pria itulah sang paranormal yang mereka ingin temui. Mereka pun bergegas menghampiri.

Rupanya musik irama ceria itu berasal dari handphone milik Ki Sopo, yang sementara ini sedang terus diangkatnya dekat telinga. Dia tampak begitu khusyuk mendengarkan, dengan ekspresi melongo, persis orang dongok.

“Permisi, Ki, selamat malam!” seru Yoga saat mereka berdua hampir mendekati Ki Sopo. Namun, entah apa yang terjadi dengan Ki Sopo? Tak sedikit pun dia berkutik. Dia hanya terus saja melongo menikmati musiknya.

Mereka pun mengambil inisiatif untuk langsung duduk di atas hambal cukup dekat menghadap Ki Sopo.

“E... permisi, Ki!” Yoga lebih mengeraskan suaranya, bahkan sambil memetik-metikkan jarinya.

“Sial!” pekik Ki Sopo keras sambil melotot, yang kemudian tentu saja membuat Yoga dan Hendi begitu terperanjat, hingga hampir saja melompat. Selang sepersekian detik kemudian, Ki Sopo bergegas mengangkat kedua tangannya. Bagian telapaknya diarahkan tepat ke wajah Yoga, dan tangan lainnya ke arah Hendi. Kedua tangannya pun bergetar, sementara matanya dipejam kuat, sehingga ekspresinya tampak begitu serius, seraya mengeluarkan jurus.

“Apa yang kalian bawa? Energi negatifnya begitu kuat, membuat semua peliharaan saya ketakutan, hingga segera bersembunyi di belakang tubuh saya,” lanjut Ki Sopo dengan nada cukup tinggi. Walau masih dengan gaya dan ekspresi yang sama, tapi kali ini matanya telah sedikit ia buka.

“E… sepatu, Ki,” sahut Yoga, sedikit takut, lalu bergegas membuka bungkus sepatu bututnya, kemudian disodorkannya kepada Ki Sopo.

Seketika, hidung Ki Sopo mengerut saat menghirup aroma tajam dari sepatu butut.

“Siapa yang suruh buka?” bentak Ki Sopo, kembali melotot. “Bungkus lagi!”

Walau agak bingung, Yoga bergegas menurutinya.

“E… maaf, Ki. Apa harus saya bungkus seperti semula?” Yoga terlalu malas melakukannya, lantaran terlalu ribet melakukannya.

“Iya, seperti semula!”

Tak lama kemudian, Ki Sopo pun mulai menurunkan tangannya perlahan, sembari menghembuskan napas panjang, persis pendekar Cina usai mengeluarkan tenaga dalam. Ekspresinya juga berangsur mulai tampak kembali tenang. Setelah cukup lama terdiam menunggu Yoga menyelesaikan membungkus kembali sepatunya, dia pun kembali berucap, “Sekarang jelaskan, apa maksud dan tujuan kalian datang kemari?”

“Wah, sepertinya, tanpa saya beritahu pun, saya yakin Ki Sopo sudah paham masalah yang sedang kami hadapi.” Yoga cukup yakin akan kesaktian Ki Sopo membaca pikirannya.

“Ya mana saya tahu kalau kalian nggak bilang. Memangnya saya ini Tuhan apa, bisa tahu isi hati orang?” Ki Sopo kembali tampak marah.

“Oh, iya, maaf,” sahut Yoga, nyengir merasa bersalah. “Emm, begini, Ki. Maksud kedatangan kami mau menanyakan soal sepatu ini. Tadi sepertinya Ki Sopo sudah langsung merasakan keanehannya, kan?”

“Iya… terus, sepatunya mau diapakan?”

“Ya mau dibuang, Ki. Atau kalau Ki Sopo mau, silakan ambil!”

“Ah, buat apa? Saya punya banyak pusaka yang jauh lebih hebat dari yang kalian punya itu.”

“Terus, bagaimana cara saya membuangnya? Saya sudah coba berkali-kali, tapi tetap aja balik lagi. Pake tertimpa sial segala lagi. Tolong dibantu, Ki!”

“Hmm, saya paham.” Ki Sopo tampak lebih rileks, mengelus-elus janggut panjangnya yang sudah separuh putih. “Sepatu itu memang bukan sepatu sembarangan. Jadi, kalau mau dibuang, ya tentu tidak bisa sembarangan pula. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi.”

Yoga dan Hendi saling menatap, dengan mata terbelalak.

“Apa syarat-syaratnya, Ki?” kata Yoga, kembali menatap Ki Sopo, serius.

Pertama, sepatu itu harus dimandikan dengan air kembang tujuh rupa. Dan jangan lupa, proses pemandiannya harus dilakukan tepat tengah malam. Kedua, setelah selesai dimandikan, letakkan sepatu itu di atas sebuah kain putih. Ketiga, bawa satu ekor kambing bandot yang masih perjaka, lalu sembelih lehernya tepat di atas sepatu tersebut, dan jangan angkat kambing itu sampai darahnya benar-benar berhenti mengalir. Keempat, rebus sepasang ayam kate tanpa diberi bumbu, termasuk garam. Setelah empuk, letakkan ayam kate jantan di sisi kanan sepatu, sedangkan yang betina di sebelah kiri. Setelah itu, bungkus dengan kain putih tadi, kemudian masukkan ke dalam sebuah peti yang terbuat dari kayu jati. Dan yang terakhir, kubur peti itu bersama dengan kambing jantan yang sudah disembelih tadi.”

Yoga dan Hendi kembali saling menatap, namun kali ini sambil mangap.

“E... maaf, Ki. Apa nggak ada opsi lain? Yang lebih gampang dan lebih murah, gitu?” tutur Yoga. “Maklum, Ki, lagi bokek! Waktu bayar uang pendaftaran tadi aja, sudah sangat menguras kantong kami. Yah, kalo cuma buat beli kembang tujuh rupa aja sih, kami bisa.”

“Tidak bisa! Semuanya membutuhkan pengorbanan. Semakin besar pengorbanannya, maka semakin besar pula efektivitasnya. Hal ini sangat berlaku di dunia gaib.”

“Aduh... gimana yah?” Yoga pusing, garuk-garuk kepala.

“Yah, tinggal ditunggu sampai punya duit saja. Gitu saja kok repot, sih,” sungut Ki Sopo tampak bete.

Lihat selengkapnya