Sepatu Butut Keramat

M Syalu
Chapter #6

Hidung Belang

Pukul 19.00 WIB. Tak sesuai aplikasi prakiraan cuaca bikinan Mbah Google, ternyata malam ini langit cerah, hingga keindahan purnama penuh tampak begitu memesona menghias angkasa. Dari rumah orang tua Hendi, mereka berdua langsung meluncur menuju rumah Sandra, karena sesuai perintah Noorman kemarin, Yoga harus memberi laporan kepadanya tepat pukul 20.00.

Malam ini malam Minggu. Walau saat ini mereka mendatangi rumah Sandra, tapi tentu tak bisa disebut melancong. Namun, di tengah jalan, Yoga sempat meminjam uang kepada Hendi guna membeli dua loyang martabak manis, tentunya besar harapan dapat sedikit merubah sikap Noorman kepadanya.

Pukul 19.50, mereka pun tiba di rumah Sandra. Mereka disambut Mbok Iyem. Mbok Iyem langsung mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu, juga segera dijamu dengan kopi panas dan kue bolu. Tak sesuai rencana, ternyata Noorman tak di rumah. Menurut penjelasan Mbok Iyem, malam ini Noorman akan pulang terlambat. Selain itu, rupanya Sandra juga sedang keluar. Katanya, selepas maghrib tadi dia dijemput oleh dua orang pria dan satu orang wanita dengan mobil.

“Kayaknya, tiga orang yang jemput Sandra itu si Aprizal, Murodi, sama si Erin,” tutur Hendi, yang sementara ini berani duduk santai layaknya di rumah sendiri.

“Ya, bisa jadi,” balas Yoga dengan ekspresi seakan tak peduli, sementara pandangannya terus fokus pada layar handphone-nya, karena kebetulan dapat terhubung dengan WiFi yang tersedia.

“Pastinya mereka berempat sedang bersenang-senang malam ini,” lanjut Hendi, yang membuat Yoga kemudian menatapnya dengan mata menyipit.

“Tapi sialnya, malah gue yang dibenci sama bokap-nya.”

“Yang sabar yah, Mas!” balas Hendi nyengir, walau sebenarnya dia pun turut merasa sedih, karena biar bagaimanapun dia sangat menyukai Erin. “Ya sudahlah… sementara masih banyak hal yang juga harus kita selesaikan,” lanjut Hendi sembari melemaskan tubuhnya. “Emm, oh iya, kira-kira kapan rencana kita membawa sepatu keramat lo itu ke tempat ustadz?”

“Emang lo udah dapet ustadz-nya?”

“Menurut gue, kalo masalah nyari ustadz sih soal gampang, bro. Di Jakarta banyak.”

“Kalo gitu, berarti kita tinggal cari waktu yang tepat aja.”

“Ya, begitulah....”

Menunggu terkadang memanglah menjadi sesuatu yang menyebalkan. Apalagi di tengah suasana yang sunyi dan membosankan. Sudah 2 jam lebih waktu telah terlewati, namun belum juga ada tanda-tanda kepulangan Noorman ataupun si tuan putri. Terlalu bete menunggu membuat mereka berdua mengantuk, hingga tak sadar akhirnya terlelap dalam posisi duduk saling menyandarkan pundak.

Pukul sebelas kurang sepuluh, akhirnya Sandra pulang. Dia tidak sendiri, karena ketiga temannya rupanya mampir. Dan ternyata memang tepat apa yang Yoga dan Hendi prediksikan, ketiga orang tersebut adalah Aprizal, Murodi, dan juga Erin.

“Ada tamu yah, Mbok?” tanya Sandra saat Mbok Iyem baru saja membukakan pintu, pastinya karena Sandra melihat ada sepeda motor yang terparkir di halaman rumahnya.

“Iya, Non. Itu, di ruang tamu, lagi pada tidur.”

“Hah, tidur?” Sandra melotot, lalu bergegas masuk ke ruang tamu.

Sandra pun langsung mesem saat melihat Yoga dan Hendi yang tertidur duduk saling berdekatan layaknya sepasang kekasih di atas kendaraan.

“Mas, Mas, bangun! Keretanya udah sampe!” seloroh Sandra sembari menepuk-nepuk lengan kanan Yoga.

Yoga pun terbangun dengan keadaan terperanjat, hingga matanya sempat melotot kebingungan. Apalagi saat dia melihat Hendi yang menyandarkan kepala di pundaknya.

“Eh, San, udah pulang,” gumam Yoga nyengir sambil menggeliat, lalu segera membangunkan Hendi.

“Dari tadi, Ga?”

“Bukan dari tadi lagi, Mbak, dari kemaren,” sungut Yoga.

“Ya, salah sendiri, kenapa nggak telepon atau WA dulu?”

“Maksudnya sih biar surprise aja gitu. E… nggak taunya malah jadi nunggu sampe bulukan begini.”

Sandra pun nyengir.

Tak lama kemudian, Aprizal, Murodi, dan juga Erin ikut masuk ke ruang tamu.

“Oh… ternyata sang penulis kita toh, tamunya,” ujar Aprizal langsung duduk di sofa. “Dari tadi, bro?” lanjutnya sembari mencomot sepotong martabak yang dibawa Yoga.

“Gitu deh,” sahut Yoga, lalu menyesap kopinya yang sudah adem. “Emm… San, numpang ke toilet dong, pengin pipis nih,” lanjutnya langsung berdiri mendekati Sandra.

“Ayo,” sahut Sandra, lalu menuntunnya ke dalam. “Tumben, ada apakah gerangan tiba-tiba mampir?” lanjut Sandra saat mereka berdua telah sampai di dapur dan sudah cukup dekat dengan kamar kecil.

“Ya, main aja… emang nggak boleh?”

“Ya bolehlah… tapi, emangnya nggak takut sama Pak Raden Noorman?”

“Wah, justru saya sengaja datang memang ingin menemui beliau.”

Mendengar itu, Sandra pun terkejut, hingga segera menghentikan langkah lalu meraih tangan Yoga guna menahan.

“Ada urusan apa memangnya sama papah? Jangan-jangan kamu disuruh yang nggak-nggak yah sama dia?”

Yoga sedikit tersentak. Dia baru sadar, kalau seharusnya Sandra memang tak perlu tahu urusannya dengan papahnya. Dia pun kebingungan memberi jawaban.

“E, nggak kok, emm... cuma urusan bisnis kecil-kecilan aja,” Yoga coba berdusta sambil terus pasang wajah santainya. “E… di sini yah, toiletnya?” lanjutnya, sambil langsung saja bergegas memasukinya.

Selama Yoga melakukan prosesi pembuangan air seninya, rupanya Sandra tetap berdiri di dapur menunggunya. Sepertinya dia memang sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi antara Yoga dan papahnya.

“Lho, ditungguin toh? Mau pipis juga rupanya?” ucap Yoga usai keluar dari kamar kecil.

“Nggak. Pengen nungguin Mas aja.”

“Lho, kayak anak TK aja pipis pake ditungguin segala,” seloroh Yoga nyengir, lalu segera melangkah untuk kembali menuju ruang tamu. Namun, saat baru beberapa langkah, Sandra pun segera meraih tangannya, tentu agar Yoga menghentikan langkahnya.

“Jangan sampai aku marah lho, Mas,” ancam Sandra dengan wajah cemberut.

Yoga nyengir menatap mata Sandra yang tampak garang memelototinya. “Lho, ada apa ini? Kok, tiba-tiba saya kayak jadi tersangka gini?”

“Akh… udah, jangan ngeles. Cepet kasih tahu yang sebenarnya terjadi antara kamu sama papah!” Sandra menguatkan cengkramannya, sementara wajahnya semakin sangar.

“Lho, kan tadi saya udah bilang, nggak ada masalah apa-apa.”

“Bohong.” Sandra mendelik.

Yoga terdiam, sambil tersenyum terus menatap wajah Sandra yang menawan. Meski tampak marah, namun keindahannya tetap memancar, dan merasuk hingga jiwa Yoga bergetar. Yoga begitu gembira, membuat api asmara seketika membakar sanubarinya. Inilah momen yang selama ini ia nantikan. Segala keresahan yang ada pun seperti sirna, bahkan luka-luka seakan tak lagi menyakiti raga.

“Emm... kemarin saya memang dikasih tugas sama papah kamu.”

“Tugas apa?” potong Sandra, mengernyit.

“Yah, cuma tugas kecil aja.”

“Iya, apa tugasnya?”

“Emm, untuk sementara mungkin saya nggak bisa kasih tau kamu dulu, karena papah kamu juga melarangnya. Tapi yang pasti, kamu nggak usah mikir yang aneh-aneh, karena nggak ada yang perlu untuk dikhawatirkan. Emm, saya janji deh, kalo nanti waktunya sudah tepat, saya akan kasih tahu.”

“Yakin, bukan sesuatu yang berbahaya?”

“Lho, lama-lama jadi mirip kayak bapaknya, nih,” balas Yoga nyengir, yang kemudian membuatnya harus pasrah menerima bogem mentah di lengannya. Namun, kemudian Sandra kembali membuka senyum manisnya. “Nah, gitu dong… dengan senyuman seanggun ini, maka cahaya rembulan yang indah itu pun akan padam.”

Lalu mereka berdua pun bergerak kembali menuju ruang tamu.

“Emm, kamu udah dibuatin minuman, kan?” tanya Sandra terus melangkah.

“Sudah, Bu.”

“Makan juga sudah?” Sandra setengah serius.

“Sudah, sudah. Yang belum cuma tinggal dimanjain doang ini, hehehe.”

“Hah.” Sandra menganga, namun kemudian juga ikut nyengir.

Melihat Yoga dan Sandra kembali dengan senyum begitu bahagia di wajah mereka, rupanya membuat Aprizal bete abis. Apalagi saat Yoga kembali duduk di sofa—kayak dikasih lem—Sandra terus saja menempel di sebelahnya. Aprizal pun semakin jealous.

“Nggak jadi mau langsung pulang, Zal?” ucap Sandra menatap Aprizal.

“Wah, aku diusir nih ceritanya?” sahut Aprizal bergaya manja.

“Lho, tadi di sana ribut ngantuk, pengin buru-buru pulang?”

“Ya, itu kan tadi di sana… pas sampai sini, tiba-tiba mataku berubah segar kembali.”

“Iya, padahal tadi aku sempet diajakin kabur pulang duluan, lho,” Erin ikut bicara.

“Oh ya?” Sandra matanya melotot.

“Ah, cuma bercanda kok.” Aprizal nyengir. “Emm, gimana, bro? Udah dapet gambaran untuk lakonnya?” lanjut Aprizal menatap Yoga, pastinya untuk mengalihkan tema.

Yoga pun terkejut, karena sejak kemarin dia memang tak pernah sempat memikirkannya, apalagi sampai coba membuatnya.

“Waduh, sorry bro, sementara gue masih belom dapet, nih,” balas Yoga sambil berlagak pusing.

“Gimana, sih? Kan kemarin gue bilang secepatnya.” Aprizal sok tegas. “Atau, kalau lo memang nggak siap, gue juga ada temen seorang penulis profesional yang bisa bantu.”

“Oh ya?” Yoga sejenak sempat terdiam sambil mengernyit. “Emm, ya udahlah… kalo gitu, coba minta tolong sama temen lo aja deh! E... sorry, bukan berarti gue mau melarikan diri dari komitmen yang kemarin gue udah sanggupi. Emm, tapi, kayaknya sementara ini gue emang lagi nggak bisa fokus, nih.”

“Oh ya sudah kalau gitu,” balas Aprizal menyeringai, lalu bergegas membuka handphone-nya, dengan niat langsung coba menghubungi teman penulisnya.

Yoga sebenarnya paham, bahwa Aprizal sedang mencoba memberinya tekanan, atau bahkan merendahkan dirinya. Mungkin, kalau pikirannya lagi nggak bercabang, dia bisa naik pitam. Namun, rupanya dia justru malah menganggap tawaran Aprizal itu sebagai solusi, karena dengan kondisi saat ini, rasanya memang sangat sulit baginya mengerjakan tugas itu, yang kemudian berakibat buruk bagi seluruh anggota UKM teater.

“Lho, kan baru sehari… wajar dong kalau belum dapat ide?” Sandra nampaknya tetap berharap Yoga yang membuat lakonnya. Apalagi dia jadi merasa bersalah, karena menurutnya, yang membuat Yoga tak bisa fokus adalah papahnya. Di sisi lain, dia juga menganggap sikap Aprizal terlalu berlebihan.

“Ya, habis gimana? Dianya sendiri kan, yang sudah menyerah?” sahut Aprizal terus menyeringai.

“Apa saat ini kamu memang bener-bener lagi buntu banget, Ga?” lanjut Sandra lembut menatap Yoga.

Mendengar pertanyaan itu dari mulut Sandra, tentunya menjadi sesuatu banget bagi Yoga, karena kalau begitu saja dia jawab ‘iya’, itu akan membuatnya terkesan payah.

Lihat selengkapnya