Berbeda dengan kemarin, pagi ini udara terasa hangat. Akhir pekan dengan cuaca cerah biasanya memang sering dimanfaatkan oleh umumnya warga Jakarta untuk menghabiskan waktu berlibur atau mungkin sekadar berkeliling, sehingga di pukul 09.30 ini jalan raya tampak cukup ramai kendaraan.
Tak kepikiran untuk mandi dan bersalin pakaian, Yoga dan Hendi langsung bergerak menuju ke tempat kos temannya, Tom. Di tengah perjalan, Yoga menyuruh Hendi untuk berhenti di sebuah warteg, tentunya guna mengisi amunisi.
Sebelum sempat melahap nasi yang sudah ditaruh di hadapannya, Yoga menyempatkan diri menghitung uang yang diberikan Noorman tadi. Uang itu berjumlah satu juta rupiah. Tentu Hendi terus menatapnya keheranan.
“Anjay, banyak juga duit lo, bro?”
“Nih, pegang!” balas Yoga sembari menggeser uang sejumlah lima ratus ribu ke dekat piring Hendi.
“Apaan, nih?” Hendi makin bingung sambil terus mengunyah nasinya.
“Dari bokapnya Sandra. Cuma dikasih sejuta. Tapi lumayan lah, daripada nggak.”
“Lho, dibayar toh kita rupanya?”
“Tadi gue yang minta,” jelas Yoga sambil mulai menyantap makanannya.
“Gile, berani juga lo?”
“Yah, biar bagaimanapun kita perlu biaya operasional. Lagian, mana ada orang kerja nggak dibayar? Anggota DPR yang waktu kampanye teriak-teriak ikhlas mau berbakti untuk negeri aja digaji. Udah gitu minta dinaikin mulu lagi.”
“Tapi sempet dimaki-maki nggak waktu lo minta?”
“Ya, udah pastilah….” Yoga nyengir.
Hendi juga ikut nyengir. “Kacau, horor banget tuh orang.”
“Wajarlah… namanya juga apparat. Apalagi jabatannya tinggi. Justru malah lucu kalo dia ngondek.”
“Iya juga sih.” Hendi setuju. “Sepertinya, Anda memang sangat cocok untuk jadi menantunya, Mas.”
“Ah, nggak tau deh.” Yoga wajahnya berubah masam.
“Lho, kenapa? Kayaknya semalem gue liat hubungan lo sama si Sandra udah semakin banyak kemajuan. Apa mungkin karena lo takut kalah saing sama si Aprizal?”
“Ya, termasuk itu juga, sih.”
“Lho, kan kemaren lo bilang: selama janur kuning belum melengkung, maka kesempatan pun belum terbendung.”
“Iya, tapi masalahnya bukan cuma itu doang, bro. Semalem, waktu lo udah ngorok, gue sempet ngobrol sama si Sandra di luar. Lo tau nggak? Dia ngira, kalo gue itu cowok penipu yang suka gonta-ganti cewek, alias cowok hidung belang. Padahal kan lo tahu sendiri, sampe gini hari gue belum pernah berhasil dapet cewek.”
“Hmm… mungkin, gara-gara dia pernah ngeliat lo beberapa kali jalan sama cewek yang berbeda, jadi dia ngira lo itu cowok hidung belang.”
“Iya, mungkin gitu.”
“Kalau begitu sih, berarti tinggal lo jelasin yang sebenarnya aja, kan?”
“Semalem gue udah sempet coba jelasin ke dia, eh… gue malah dibilang hebat ngarang cerita.” Yoga nyengir di akhir kalimatnya.
Hendi juga ikut nyengir. “Ya, tapi dia nggak salah juga sih… kerjaan lo kan emang tukang ngarang cerita, hehehe.”
“Dan yang lebih parahnya lagi, lo tau nggak? Polisi ganteng yang sama bokapnya tadi itu, itu calon suaminya si Sandra. Jadi setelah si Sandra lulus nanti, mereka langsung mau dikawinin,” lanjut Yoga. Sebenarnya belum ada seorang pun yang menjelaskan tentang hal tersebut kepadanya, tapi dia merasa sangat yakin menebak.
“Waduh, ribet dong kalau begitu ceritanya.” Hendi merasa ikut prihatin. “Emm… jadi, sekarang lo mau milih nyerah, gitu?”
“Ah, nggak tau deh, pusing pala gue.”
“Terus, bagaimana dengan aksi intelijen kita? Apa tetap lanjut?” Hendi tentunya sadar, sejak awal semua ini memang hanya demi mendekati Sandra.
“Ya, lanjut lah... udah kepalang tanggung. Lagian, dibayar ini, kan. Yah, itung-itung kerja part time lah....”
Usai mengisi amunisi, mereka berdua pun langsung melanjutkan perjalanan ke tempat kos temannya, Tom. Begitu sampai, Tom nampak sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi. Walau belum terlihat begitu pulih karena beberapa perban di wajah masih menghiasi, namun Tom terlihat bersemangat, membuat Yoga dan Hendi juga bertambah antusias. Tanpa banyak basa-basi, Tom pun langsung mengajak mereka berangkat ke tempat bos-nya. Tom yang diboncengi Omen, melaju lebih dulu, sementara Hendi dan Yoga terus menempel di belakangnya.
Rupanya, lokasi markas bos-nya Tom cukup jauh. Sudah lebih dari satu setengah jam mereka terus berkendara, hingga akhirnya mereka dibawa masuk ke dalam sebuah kompleks perumahan yang bernama Taman Harapan Baru di daerah Bekasi. Yoga tersentak, karena kebetulan rumah orang tua sekaligus tanah kelahirannya tak jauh dari sana.
Mereka berhenti di depan sebuah rumah yang lumayan besar. Mereka berempat langsung saja masuk ke dalam. Tidak ada yang aneh dengan rumah itu. Baik bagian luar maupun dalamnya tampak seperti rumah tinggal biasa saja. Mereka disuruh menunggu di ruang tamu oleh seorang pembantu perempuan, bahkan sempat disuguhi minuman layaknya tamu seperti biasanya.
“Ini rumah tinggal kan, Tom?” tanya Yoga yang duduk di sebelah Tom.
“Ini salah satu rumahnya Pak Steven. Yang kemaren sempet kita temui di gedung tua itu loh.”
“Yang ganteng itu, yah?” Hendi ikut bicara.
“Yup.”
Tak lama kemudian, dari dalam muncul tiga orang, yang tidak lain adalah tiga orang yang sempat mereka temui kemarin. Seperti kemarin pula; Yoga dan Hendi kembali digeledah, namun karena mereka percaya diri tak membawa sesuatu yang patut dicurigai, mereka berdua terus menampilkan sikap santai.
“Buat apaan sih lo bawa-bawa terus ni sepatu butut?” tanya si gondrong saat dia kembali menemukan sepatu butut itu di dalam tas Yoga.
“E... itu jimat saya, Bang,” balas Yoga nyengir.
“Hah, jimat.” Si gondrong melotot. “Hari gini, masih percaya sama yang begituan? Musyrik, tau sih, lo.”
Yoga cuma nyengir menanggapi ucapan si gondrong, karena tentunya ucapan semacam itu nggak pantes banget diucapkan oleh seorang pelaku kriminal sepertinya.
“Ah, sudah, sudah!” gumam Steven lalu menyuruh mereka untuk kembali duduk. “Apa kalian yakin ingin bergabung dengan bisnis kami?” lanjut Steven, sementara mereka telah duduk saling berhadapan di atas sofa.
“Yakin, Pak!” Yoga menyahut.
“Emm, apa motivasi kalian?”
“Ya, mau cari uang lah, Pak.” Kembali Yoga menyahut cukup tenang.
“Apa kalian tahu risikonya?”
“Tahu, Pak.”
“Apa kalian tidak takut?”
“Takut, Pak.” Yoga nyengir.
“Bagus!”
“Lho, kok bagus?” celetuk Tom, bingung.
“Iya, bagus. Artinya mereka akan sangat berhati-hati dalam beraksi!” Steven memberi Tom senyum lembut.
“Oh….” Tom manggut-manggut.
“Ada enam prinsip yang menjadi kunci keberhasilan dalam menjalankan bisnis kita ini: kejujuran, keadilan, saling percaya, integritas, loyalitas, dan juga tanggung jawab. Yang paling saya tekankan adalah soal tanggung jawab. Kalian harus mampu mempertanggungjawabkan apa yang menjadi tindakan kalian, sekecil apa pun itu. Contohnya, ketika kalian melakukan pengiriman, namun ternyata barang yang sampai ke konsumen mengalami kerusakan—padahal kalian telah mengikuti seluruh prosedur—kalian harus tetap ikut bertanggung jawab agar tak merusak kepercayaan konsumen.”
Mendengar penjelasan Steven, Yoga sempat tertawa dalam hati. Betapa bagusnya isi kalimat yang ia sampaikan, tapi sayang, ujungnya tidak lain hanyalah sebuah kesesatan.
“Oke, kalian berdua saya terima. Selanjutnya, Bang Gondrong ini yang akan menjelaskan tugas kalian,” lanjut Steven, lalu kemudian langsung berdiri dan kembali masuk ke dalam.
“E... hari ini kalian langsung dapet job,” jelas si Gondrong menyambung pembicaraan. “Lokasi pengirimannya deket kok, di Plaza Taman Harapan Baru.”
“Yang tadi sempet kita lewatin itu ya, bro?” gumam Hendi dekat telinga Yoga.
“Betul,” si Gondrong menyahut. “Jadi, nanti kalian langsung duduk aja di kursi panjang depan mini market Super Indo. Nanti buyer-nya yang akan mendatangi kalian. Setelah kalian bertemu, segera cari lokasi yang paling aman untuk bertransaksi. E… trus, kalo sekiranya lebih dari dua jam si buyer nggak muncul-muncul juga, kalian langsung cabut balik kemari aja, mengerti?”
“Mengerti, Bang,” sahut Yoga dan Hendi bergantian.
Setelah itu, si Gondrong meletakkan sebuah kantong plastik hitam di atas meja, kemudian digesernya kedekat Yoga, yang tidak lain tentunya itu adalah paket yang mereka akan kirim.
“Ya sudah, kalo gitu kalian langsung berangkat sekarang! Kita janjiannya jam 1 siang,” lanjut si Gondrong. “E… dan jangan lupa, kodenya adalah?”
“Kue….” Yoga dan Hendi menjawab serempak.
“Oke, kalo begitu, selamat bekerja!” ucap si Gondrong langsung berdiri, yang tentunya sebagai isyarat agar Yoga dan Hendi segera pergi. Tapi kemudian—walau juga sudah ikut berdiri—Yoga sempat bergelagat seperti ingin mengutarakan sesuatu lagi.
“Ada apa lagi?” lanjut si Gondrong membaca gelagat Yoga.
“E… maaf, Bang. Emm… begini, kebetulan kami ini kan masih sibuk kuliah. Kalo bisa sih, ngasih jobnya jangan yang jauh-jauh dari kampus atau tempat kami tinggal.”
“Iya, gue ngerti kok. Kalian nggak perlu khawatir. Untuk masalah itu, kita sudah atur sebaik mungkin. E… kalo untuk yang sekarang, yah… bisa dibilang sebagai training lah buat kalian. Tapi tenang aja! Kalo sukses, kalian tetap dapet komisi kok.”
“Sip deh kalo begitu,” balas Yoga terlihat senang, lalu kemudian menjulurkan tangan.
“Lho, apa lagi, sih?” si gondrong kebingungan bercampur bete.