Sepatu Butut Keramat

M Syalu
Chapter #8

Percaya atau Celaka

Hari mulai gelap ketika Yoga menapaki gang sempit perkampungan menuju kosannya. Sepatu butut itu tetap setia di tentengan, tapi sekarang sudah terbungkus rapi dalam kantong plastik hitam—berkah sisa yang ditemukannya setelah turun dari bus. Yoga terpaksa membungkusnya setelah bau busuk sepatu itu sukses memicu kepanikan massal dan huru-hara di antara para penumpang, plus dia tidak mau seluruh isi tas ranselnya terkontaminasi radiasi yang bisa merusak indra penciuman seumur hidup.

Semua orang pasti pernah mengalami kesialan, tapi apa yang menimpa Yoga hari ini sudah lewat batas wajar. Otak mahasiswanya terus berputar hebat, terjebak di antara batas tipis logika ilmiah dan kenyataan magis yang di luar nalar.

Rumah tempatnya indekos lumayan besar. Meski jauh dari kata mewah, tapi tidak masalah, karena yang penting murah. Kamarnya berada di lantai dua, tepat di tengah lorong. Dari kaca jendela, cahaya lampu sudah menyala benderang—tanda kalau Hendi, teman sekamarnya, sudah pulang sejak sore tadi.

“Cie… yang abis ketemuan sama cewek idaman,” kelakar Hendi saat Yoga baru saja memunculkan batang hidungnya di balik pintu. “Oh, betapa bahagianya hati yang tengah di mabuk asmara, hingga rasanya dunia ini hanya milik berdua. Yang lain cuma ngontrak.”

Yoga tak menghiraukan gurauan Hendi. Awan di wajahnya menggantung mendung, tubuhnya ambruk melunglai di atas kasur.

“Lho, kok bete?” lanjut Hendi, mesem.

Namun, Yoga tetap bungkam, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong penuh trauma.

“Wih, apaan tuh? Bagi dong!” Mata Hendi mendadak berbinar melihat kresek hitam yang ditaruh Yoga begitu saja di samping tempat tidur. Mengira itu martabak telur atau gorengan hangat, Hendi langsung menyambarnya. Namun, begitu ikatan kresek terbuka, wajah Hendi langsung berkerut ekstrem. Dia refleks mundur tiga langkah sambil membekap hidungnya rapat-rapat. “Buset, apaan nih?!”

Yoga langsung melompat duduk, khawatir Hendi berbuat yang tidak-tidak terhadap sepatunya.

“Sejak kapan lo koleksi rongsokan beraroma pembuangan akhir kayak gini, bro?” lanjut Hendi melotot.

“Itu bukan sepatu sembarangan. Itu sepatu keramat,” tegas Yoga dengan ekspresi yang jauh lebih serius daripada mahasiswa yang sedang ujian negara.

“Bwahaha!” Hendi langsung meledak dalam tawa. “Bro, kita ini sebentar lagi bakal ngegantiin para politikus di gedung DPR sana. Masa calon wakil rakyat masa depan percaya takhayul nggak realistis banget kayak gitu? Apa jadinya bangsa ini nanti?”

Sambil tetap terbahak, Hendi mengikat kembali kresek itu. Dia melangkah cepat menuju jendela kamar, berniat melemparkannya ke luar demi menyelamatkan sirkulasi oksigen di kamar mereka.

Lihat selengkapnya