Sepatu Butut Keramat

M Syalu
Chapter #1

Bab 1 - Jomblo Ngenes

Jam kuliah terakhir akhirnya selesai.

Begitu dosen meninggalkan kelas, mahasiswa langsung berhamburan keluar seolah baru saja dibebaskan dari kerja paksa. Lorong-lorong kampus mendadak ramai oleh langkah kaki, suara obrolan, dan keluhan tentang tugas yang seolah tidak pernah ada habisnya.

Hari itu nyaris tidak ada yang istimewa.

Perkuliahan berjalan seperti biasa. Kantin tetap penuh. Satpam masih sibuk meniup peluit kepada mahasiswa yang parkir sembarangan. Bahkan Patrick, penjaga perpustakaan, wajahnya tetap terlihat mesum seperti biasanya.

Singkatnya, Kamis sore itu tampak biasa-biasa saja.

Tak satu pun orang di kampus menyangka bahwa hari itu bakal menjadi awal dari rangkaian kekacauan dalam hidup Yoga.

Tentu saja, Yoga sendiri juga belum tahu.

Yang ada di pikirannya saat ini cuma dua hal: Sandra, dan bagaimana caranya bisa bertemu dengannya.

Karena itulah, begitu keluar dari gedung fakultas, ia bersama Hendi langsung berjalan menuju parkiran motor.

“Jadi, kan, kita langsung ke mal?” tanya Hendi dengan wajah berbinar.

Tubuhnya yang lumayan gempal sama sekali tidak mengurangi kelincahan langkahnya. Maklum, hari itu merupakan jadwal rilis volume terbaru serial komik favoritnya.

“Aduh, sorry banget, bro… gue ada acara. Besok aja, yah?” jawab Yoga.

Meski ekspresinya tampak menyesal, pandangannya tetap fokus pada linimasa aplikasi X di ponselnya.

Hendi mendadak mengerem langkah. Alisnya bertaut tajam. Mata sipitnya membelalak menatap Yoga dengan tatapan tak percaya.

“Lha, gimana, sih? Kan semalam lo udah janji mau nemenin gue ke toko buku?”

“Ya besok-besok masih bisa, kali. Komik begituan mah nggak bakal langsung langka dalam sehari.”

Mood Hendi seketika terjun bebas.

“Ah, nggak asyik banget, lo, bro… lagian tumben banget pake ada acara segala. Acara apaan, sih?”

“Anak-anak teater ngajak gue meeting.”

Hendi langsung mengernyit.

“Lho, bukannya lo udah pensiun dari dunia persandiwaraan itu?”

Yoga hanya tersenyum tipis.

“Jangan-jangan ini demi si gadis impian lo itu, lagi?”

“Gitu, deh.”

“Di mana? Di sini?”

“Bukan, di kafe deket Taman Ria Rio.”

Yoga mengunci layar ponselnya. Mereka sudah berhenti tepat di depan sepeda motor Hendi yang terselip di antara barisan motor lain.

“Mending lo ikut gue aja, lah! Kalau si Sandra hadir, kemungkinan besar si Erin juga ada. Siapa tahu ini hari keberuntungan kita.”

Mendengar nama Erin disebut, pundak Hendi langsung merosot. Semangat yang tadi menggebu-gebu mendadak menguap entah ke mana.

“Kayaknya gue mau nyerah ajalah buat dapetin si Erin.”

Yoga menoleh. “Kok tiba-tiba?”

Lihat selengkapnya