Yoga terus tenggelam dalam lamunan di kursi panjang itu sendirian. Bayangan Sandra dan Aprizal masih berputar-putar di kepalanya seperti video pendek yang diputar berulang-ulang.
“Cinta memang kejam,” gumam Yoga.
Tak lama, tiba-tiba seorang pengemis setengah baya—berpenampilan the kill and the kumel—datang menghampirinya.
“Mas... minta sedekahnya, Mas…” gumam si pengemis memelas sambil menyodorkan kaleng bekas cat yang berisi beberapa koin bergemerincing.
Yoga melirik pria itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dahinya berkerut.
“Maaf, Pak. Kalau saya perhatikan, Bapak ini masih terlihat cukup muda dan juga sehat. Kenapa mengemis? Kenapa nggak coba cari pekerjaan saja?”
“Mau kerja apa, Mas? Lah wong SD aja saya nggak lulus.”
“Yah, apa, kek. Gali kuburan, kek. Atau kalau nggak mau kerja berat, jualan apa, kek. Yang penting halal, Pak.”
Si pengemis menghela napas.
“Yah, saya juga maunya, sih, gitu. Cuma, mungkin belum ada kesempatannya aja kali, Mas.”
“Kesempatan itu kadang harus dicari, Pak.”
“Mas ngomong gampang.”
Yoga sedikit tersentak. Ia tidak menyangka pengemis itu akan membalas.
“Ya... tapi kalau begini caranya, Bapak sama saja merendahkan martabat Bapak sendiri.”
Si pengemis mengernyit.
“Jangan gitu dong, Mas... saya jadi merasa tersinggung, lho. Mas nggak pernah jadi pengemis, sih, jadi nggak bakal bisa ngerti perasaan kami.”
Yoga melotot.
Mendengar bantahan si pengemis, yang menurutnya sangat nggak logis, membuat ekspresinya berubah sangar. Bibirnya bersiap melepaskan argumen-argumen mematikan.
“Oh, oke, oke, oke. Gini aja deh, Mas,” tutur si pengemis, buru-buru meredakan situasi. “Biar sama-sama enak, gimana kalau Mas bayarin barang saya saja?”
“Barang?”
Yoga menatapnya heran.
“Barang apaan?”
Si pengemis bergegas mengeluarkan sesuatu dari tas selempangnya yang terbuat dari plastik kresek hitam buluk, yang terhubung dengan tali rafia merah menyilang di tubuhnya.
“Ini, Mas!”
Yoga memandang benda itu.
Sebuah sepatu Warrior.
Atau setidaknya, pernah menjadi sepatu Warrior.
Kondisinya sudah usang. Baunya dahsyat, seperti tidak pernah dicuci selama ribuan tahun. Rupa dan warnanya pun sudah tak karuan; mungkin benda itu lebih pantas disebut fosil ketimbang sepatu.
Yoga pun tertawa cekikikan.