Di tengah langkahnya mencari halte TransJakarta terdekat untuk pulang, perut Yoga tiba-tiba keroncongan. Maklum saja, sejak pagi buta dia cuma sempat mengganjal perut dengan sepotong bakwan yang diberi Hendi.
Berhubung dia berniat memasak mi instan di kosan nanti, saat berhenti di sebuah warung kecil di pinggir jalan, Yoga hanya berniat membeli sebutir permen karet. Menurut teorinya, mengunyah permen karet bisa sedikit mengelabui rasa lapar. Setidaknya mulut terus bergerak sehingga dia tidak tampak seperti mahasiswa yang baru keluar dari program puasa ekstrem.
Ketika hendak mengambil uang receh dari saku celana, Yoga tiba-tiba berhenti.
Dia baru sadar kalau sepatu butut itu masih terkempit di bawah ketiaknya.
“Ya ampun... masih kebawa.”
Entah karena lapar, kesal, atau memang otaknya sedang kehilangan sebagian fungsi, Yoga mengambil keputusan paling bodoh hari itu. Tanpa berpikir panjang, dia melemparkan sepatu rombeng tersebut ke belakang tubuhnya.
Cukup kuat rupanya dia melempar.
Sepatu itu melambung tinggi di udara, lalu tanpa diduga mendarat dengan suara kecipak keras tepat di dalam panci kuah tukang bakso yang kebetulan penutupnya sedang terbuka karena sedang melayani pembeli.
SPLASH!
Kuah bakso muncrat ke segala arah.
“Bangsat…! Kerjaan siapa, nih?!”
Tukang bakso melonjak dari tempatnya. Wajahnya merah padam. Ia menatap panci, lalu memelototi para pelanggan.
Seorang gadis remaja lugu yang duduk di ujung barisan antrean langsung ketakutan. Dia buru-buru menunjuk jarinya ke arah Yoga yang berada tidak jauh di seberang jalan, memberi isyarat mutlak bahwa dialah dalang di balik sabotase kuah bakso itu.
Si tukang bakso seketika kesetanan.
Dengan sebelah tangan menenteng centong kuahnya yang bergagang panjang dan tangan lainnya menenteng sepatu butut yang sudah berlumuran kuah, dia berjalan cepat menghampiri Yoga. Beberapa pelanggannya juga tampak berduyun membuntutinya.
“Woi, bangsat! Ngajak gue ribut, lo?!” pekik si tukang bakso, mendelik.
Yoga terkesiap, refleks memutar badannya ke belakang.
“Eh, ada apa, ya, Mas?”
“Apa-apaan maksud lo?! Ngajak gue berantem, hah?!” Si tukang bakso matanya terus menyala, wajahnya makin sangar, seperti kucing terinjak buntutnya.
Yoga makin bingung.
“Tenang, tenang, Mas! Semua bisa diselesaikan secara damai dengan kepala dingin,” ucap Yoga sok bijak. “Sebenarnya ada masalah apa, ya?”
“Banyak bacot lo!”
Si tukang bakso yang sudah tidak kuasa menahan emosi langsung mengayunkan centong kuahnya, menyerang Yoga secara vertikal.
Beruntung, insting bertahan hidup Yoga bekerja cepat. Dia berhasil mengelak, sehingga wajahnya hanya terkena sedikit cipratan kuah bakso yang untungnya sudah dingin.
Di tengah kepanikan, Yoga benar-benar kebingungan. Apakah gerangan yang menyebabkan pria itu kesetanan.
Namun, teka-teki itu langsung terjawab ketika matanya menangkap wujud sepatu butut berlumur kuah yang sedang digenggam erat oleh si tukang bakso.
Tak berani menghadapi kenyataan, dia pun segera mengeluarkan jurus andalan: langkah seribu.
Berada di atas puncak amarah, si tukang bakso tentu tak membiarkan Yoga melarikan diri. Beberapa orang yang menyaksikan juga ikut mengejar, bahkan sebagian ada yang sembari merekam dengan kamera ponsel, seolah jadi wartawan dadakan.
Yoga, perutnya kosong membuat tubuhnya jadi lebih enteng, sehingga ia dapat berlari bak seekor kelinci.
Kesal tak mampu menggapai Yoga yang terlalu gesit berlari, si tukang bakso mengambil inisiatif melempar centong kuahnya ke arah belakang kepala Yoga. Sayangnya, lemparan itu meleset jauh dan berdenting keras di aspal.
Si tukang bakso tak langsung menyerah. Dilemparnya lagi Yoga dengan sepatu butut yang masih dipegangnya, dan kali ini lemparannya tepat mengenai sasaran.
PLAK!
“Adaw!”