Yoga ditinggal sendirian.
Dia masih berdiri mematung di tepi jalan, menatap sepatu bututnya yang tergeletak di atas aspal. Tangannya gemetar. Napasnya masih belum sepenuhnya teratur setelah serangkaian kejadian aneh yang baru saja dialaminya.
Ucapan si pengemis tua kembali terngiang di kepalanya.
Sepatu ini bukan sepatu sembarangan.
Yoga menggeleng cepat.
“Ah, nggak mungkin.”
Sebagai mahasiswa yang selalu mendewakan logika, tentu sulit baginya menerima takhayul begitu saja. Sepatu ya sepatu. Benda mati tidak mungkin punya niat jahat, apalagi mendatangkan kesialan.
Masalahnya, rentetan kejadian tadi terasa terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Sepatu dilempar, masuk ke panci bakso. Dilempar tukang bakso, ditemukan dua pemuda, masuk ke wajan gorengan, dilempar lagi, lalu menghantam pengendara motor.
Yoga mengusap wajah.
“Ini kebetulan yang terlalu niat.”
Dia terdiam beberapa saat, lalu memaksa pikirannya kembali berpikir positif.
“Semua ini cuma rangkaian kejadian yang kebetulan terjadi bersamaan.” Yoga mengangguk sendiri. “Titik.”
Dia memungut sepatu itu dan kembali melangkah.
Namun belum jauh berjalan, dia berhenti lagi.
“Nggak.” Yoga menatap benda di tangannya. “Gue nggak mau bawa pulang ini.”
Beberapa meter kemudian, dia menemukan tong sampah besar yang hampir penuh. Tutupnya dibuka, lalu sepatu butut itu diletakkan di atas tumpukan sampah.
“Kembalilah ke asalmu, wahai sepatu keramat.” Yoga bahkan sempat memberi hormat kecil. “Semoga kita nggak pernah ketemu lagi.”
Tutup tong sampah diturunkan.
Yoga pun berjalan pergi dengan langkah lega.
Setidaknya, begitu yang dia kira.
Tak lama, Yoga tiba di tepi jalan raya utama. Di seberang jalan terlihat halte TransJakarta yang terhubung dengan jembatan penyeberangan.
Tujuannya sederhana: menyeberang, naik bus, lalu pulang ke kosan dan melupakan semua kegilaan hari itu.
Langkahnya melambat ketika seorang ibu tua dengan wajah penuh keriput berjalan santai dari arah berlawanan.
Masalahnya, outfit serta dandanan si ibu tiada tanding. Meriah dan heboh, sama sekali tidak cocok dengan usianya.
Yoga membatin.
Kalau Shania Gracia alumni JKT48 yang berdandan se-norak itu, pasti masih tetap sedap dipandang. Tapi kalau ibunya yang pakai? Hmm...
Namun baru beberapa langkah mendekat, sebuah benda melayang cepat dari belakang Yoga.
PLAK!
Benda itu tepat menghantam wajah ibu tersebut.
Yoga membelalak.
“Waduh!”
Seorang bocah yang sedang bermain lempar-tangkap dengan temannya langsung berlari. Ternyata si ibu hanya korban salah sasaran.
Si ibu menor berubah jadi singa murka.
Dengan mata mendelik, dia memungut benda yang menghantam wajahnya, bersiap melempar balik si bocah.
Sadar bahaya mengancam, si bocah cerdik langsung melompat dan berlindung di balik punggung Yoga. Otomatis, bidikan maut si ibu menor kini mengunci Yoga sepenuhnya.
Yoga mengangkat kedua tangan.
“Bu, tenang. Anak kecil itu cuma salah—”
Kalimatnya terputus.
Matanya terpaku pada benda yang sedang digenggam ibu tersebut.
Dunia seakan berhenti berputar.
Kedua mata Yoga membesar.
Itu sepatu bututnya.
Sepatu sialan yang baru saja dia masukkan ke tong sampah.
“Ya Allah...”
Yoga mundur selangkah.
“Stop, Bu, stop!”
Namun si ibu mengira Yoga sedang menantangnya. Dengan penuh emosi, dia melempar sepatu itu ke arah wajah Yoga.
Yoga berhasil menghndar.
WUSSS!
Sepatu melintas hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.
Namun perjalanan benda terkutuk itu belum selesai.
Sepatu melayang ke arah jalan raya dan menghantam kaca helm seorang pengendara motor yang sedang melaju.
PLAK!
Motor langsung oleng.