Sepatu Butut Keramat

M Syalu
Chapter #5

Mahar Mendapat Jodoh

Cukup cepat Yoga dan Hendi menemukan alamat praktik Ki Sopo Melongo. Selain dekat, lokasinya memang strategis di tepi jalan raya. Bangunannya cukup besar, bahkan jauh lebih megah daripada yang mereka bayangkan.

Dindingnya dicat bersih, kaca depannya mengilap, dan pintu masuknya menggunakan kaca otomatis yang terbuka sendiri setiap kali ada orang mendekat.

Yoga berhenti di depan pintu.

“Ini bener tempatnya?”

Hendi memeriksa alamat di ponselnya.

“Bener.”

“Kenapa kayak kantor notaris?”

“Namanya juga paranormal profesional.”

“Paranormal kok kayak punya cabang perusahaan?”

“Berarti sukses.”

Mereka akhirnya masuk. Begitu pintu otomatis terbuka, hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut.

Yoga sedikit terkejut.

“Wih.”

Di dalam, suasananya jauh dari bayangan mereka tentang tempat praktik paranormal. Tidak ada asap kemenyan, tidak ada kepala tengkorak, tidak ada lukisan makhluk menyeramkan.

Yang ada justru sofa empuk, meja kaca, dispenser air mineral, tanaman hias, dan sebuah televisi layar datar yang menampilkan tayangan berita.

Yoga memandangi sekeliling.

“Gue jadi bingung.”

“Kenapa?”

“Ini tempat paranormal atau klinik kecantikan?”

Hendi menahan tawa.

“Udah, jangan banyak komentar.”

Yoga masih belum puas. Matanya menyapu ke sudut ruangan, mencari-cari sesuatu yang mistis—mungkin dupa, mungkin keris, mungkin foto-foto seram. Tapi yang ia temukan hanya sebuah akuarium kecil berisi ikan mas koki yang berenang malas.

“Bahkan ikannya aja kelihatan lebih normal dari hidup gue belakangan ini,” gumamnya pelan.

Usai membayar uang pendaftaran kepada resepsionis cantik berpakaian formal lengkap dengan dasi kupu-kupu, mereka langsung dipersilakan masuk ke ruang tunggu.

Mereka beruntung. Ruang tunggu tampak sepi. Selain mereka berdua, hanya ada satu pria lain yang duduk menunggu lebih dulu.

“Lagi nunggu juga, ya, Mas?” sapa Hendi pada pria kerempeng berkulit gelap di sebelah kirinya.

Pria itu tak menjawab. Ia hanya menoleh sambil cengar-cengir, memperlihatkan dua gigi depannya yang ompong.

“Emm, saya tahu. Pasti mau tanya-tanya soal jodoh, kan?” lanjut Hendi, begitu yakin menebak lantaran terlihat jelas betapa culunnya wajah pria kerempeng itu.

Lagi-lagi, pria itu tak menjawab. Dia cuma terus nyengir.

Yoga meliriknya sebentar, lalu kembali melihat ponsel.

Namun, setelah setengah menit menyeringai tanpa suara, tiba-tiba pria itu tertawa terbahak-bahak sambil melotot lebar.

“HAHAHAHAHA!”

Hendi terperanjat, spontan menggeser pantatnya menjauh.

“Kayaknya doi orang sinting, bro?” bisik Hendi ke telinga Yoga.

Lihat selengkapnya