Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #1

BAB 1: TANAH YANG TIDAK LAGI SAMA

Tanah pertama yang diinjak Rara di Desa Wisnu Bakti tidak langsung memeluknya seperti yang ia bayangkan selama bertahun-tahun.

Ia turun dari ojek tua di ujung jalan berbatu, menggenggam tali tas ranselnya terlalu kuat hingga ruas jarinya memutih. Ban motor yang membawanya tadi meninggalkan garis tipis di tanah merah yang kering. Debunya naik pelan, menempel di ujung rok panjangnya, di kulit tangannya, di bibirnya yang sejak tadi menahan banyak kata.

Desa itu tetap indah.

Bukit hijau mengurungnya seperti telapak tangan raksasa. Pohon-pohon kelapa berdiri malas di belakang rumah-rumah warga. Sawah di sisi kiri jalan masih memantulkan langit sore yang pucat. Di beberapa halaman, bunga kertas tumbuh liar, merah muda dan ungu, seakan desa ini tidak pernah mengenal duka.

Namun rindu punya cara aneh untuk menguji seseorang.

Dari jauh, Desa Wisnu Bakti masih tampak seperti gambar yang ia simpan di kepala: hijau, tenang, dan seolah tidak pernah berubah. Tetapi begitu kakinya benar-benar berdiri di sana, Rara merasakan jarak kecil antara kenangan dan kenyataan.

Bukan karena desa itu rusak. Bukan karena sawahnya hilang. Justru semuanya masih terlalu akrab: pohon kelapa, bunga kertas, suara ayam, dan angin sore yang lewat di sela rumah-rumah warga.

Yang berubah mungkin bukan desanya lebih dulu, melainkan cara Rara memandangnya. Anak kecil yang dulu berlari tanpa takut kini pulang sebagai perempuan dewasa dengan tas ransel, uang terbatas, dan janji yang belum tentu sanggup ia bayar.

Ia berdiri beberapa detik lebih lama dari seharusnya, seperti orang yang baru sadar bahwa pulang tidak selalu berarti kembali ke tempat yang sama.

“Turun di sini saja, Mbak?” tanya tukang ojek sambil menoleh. Lelaki itu berusia sekitar lima puluh, kulitnya gelap terbakar matahari, kumisnya tipis, helmnya sudah pudar warnanya. Di belakang jok motornya tergantung karung kecil berisi botol bensin eceran.

Rara tersadar. “Iya, Pak. Rumahnya tinggal masuk gang itu, kan?”

Tukang ojek mengikuti arah telunjuk Rara, lalu mengangguk. “Rumah Mbah Wening?”

Nama itu menyentuh sesuatu yang lembut di dada Rara.

Ia mengangguk lebih pelan. “Iya.”

“Oalah.” Lelaki itu menurunkan nada suaranya. “Sudah lama kosong itu, Mbak. Warga sini kira ndak ada yang bakal nempati lagi.”

Rara memaksa tersenyum. “Saya cucunya.”

“Cucunya Mbah Wening?” Mata tukang ojek itu agak melebar, lalu wajahnya berubah menjadi ramah dengan cara yang canggung. “Wah. Dulu Mbah Wening itu orang baik. Kalau ada anak kecil jatuh di jalan, belum tentu ibunya tahu, Mbah Wening sudah duluan bawa minyak kayu putih.”

Rara tertawa kecil, tetapi bunyinya patah di tengah.

Ia ingat tangan neneknya. Keriput, hangat, selalu berbau bawang merah dan kapur sirih. Tangan yang dulu mengikat rambut Rara sebelum sekolah, yang menepuk punggungnya saat ia menangis karena rindu orang tua, yang menyelipkan uang lima ratus rupiah ke sakunya sambil berbisik, “Jangan buat jajan gula-gula terus. Nanti gigimu protes.”

“Beliau memang begitu,” kata Rara.

Tukang ojek mengangguk-angguk. “Sekarang desa sudah beda, Mbak.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, tetapi Rara menangkap sesuatu di belakangnya. Ada jeda. Ada kehati-hatian. Ada kata yang tidak jadi keluar.

“Beda bagaimana, Pak?” tanya Rara.

Lelaki itu tersenyum, lalu melirik sebentar ke ujung gang, ke rumah-rumah yang sebagian sudah direnovasi dan sebagian lain masih berdiri dengan napas lama. “Ya... zaman kan berubah. Anak-anak sekarang sudah pegang HP. Orang-orang juga sibuk urusan masing-masing.”

Rara menunggu kelanjutan kalimat itu. Tidak ada.

Ia mengambil dompet kecil dari tas. “Berapa, Pak?”

“Lima belas ribu saja.”

Rara menghitung uang dengan hati-hati. Lembar dua ribuan dan lima ribuan terasa lebih tipis di tangannya dari biasanya. Ia belum mulai bekerja, belum menerima gaji, dan tabungan kecilnya harus cukup hingga akhir bulan. Ia membayar, lalu menunduk sedikit.

“Terima kasih, Pak.”

“Sama-sama, Mbak Rara.” Tukang ojek memasang kembali helmnya. “Kalau butuh ojek ke sekolah, bisa panggil saya. Tapi dari rumah Mbah Wening ke SD itu lumayan, dua kilo ada. Kalau tiap hari ojek ya...”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi Rara paham.

Kalau tiap hari ojek, uangnya akan cepat habis.

“Insyaallah saya pikirkan nanti,” jawab Rara.

Motor itu pergi dengan suara knalpot kasar, meninggalkan Rara di mulut gang yang tanahnya kering oleh kemarau. Ia mengangkat tas ransel ke bahu, menarik koper kecil dengan roda yang berkali-kali tersangkut batu. Setiap beberapa langkah, roda koper itu berbunyi krek, krek, seperti tulang tua yang dipaksa berjalan.

Gang menuju rumah neneknya lebih sempit dari ingatannya.

Dulu, saat ia kecil, gang itu terasa seperti lorong menuju dunia rahasia. Ia biasa berlari tanpa sandal, mengejar capung, menghindari ayam jago milik tetangga yang galak bukan main. Di ujung gang, neneknya sering berdiri sambil membawa tampah berisi beras, pura-pura marah kalau Rara pulang dengan lutut penuh lumpur.

Sekarang gang itu lebih sunyi.

Beberapa rumah sudah direnovasi dengan tembok keramik mengilap. Beberapa lainnya tetap dari papan, tetapi tampak lebih lelah. Di salah satu pagar, ada spanduk kecil bekas acara pemilihan kepala desa yang warnanya sudah luntur. Di warung pojok, dua ibu-ibu berhenti mengaduk kopi ketika melihat Rara lewat.

Ia tersenyum sopan.

Mereka membalas, tetapi cepat-cepat menunduk, lalu berbisik.

Rara terus berjalan.

Rumah itu muncul setelah belokan ketiga.

Rumah neneknya.

Atap gentingnya kusam, beberapa bagiannya ditumbuhi lumut. Dinding kayunya menghitam dimakan waktu. Jendela depan tertutup rapat, kacanya buram oleh debu. Halaman yang dulu penuh bunga kenanga kini lebih mirip tanah kosong yang kalah perang: rumput liar tumbuh sembarangan, daun kering menumpuk di sudut, dan pot-pot pecah berbaring seperti orang yang kelelahan.

Lihat selengkapnya