Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #2

BAB 2: PINTU SEKOLAH WISNU BAKTI

Pagi di Desa Wisnu Bakti datang dengan cara yang pelan, tetapi tidak lembut.

Rara terbangun sebelum alarm ponselnya berbunyi. Bukan karena tidur nyenyak, melainkan karena ayam jantan tetangga berkokok seperti sedang memarahi seluruh isi kampung. Ia membuka mata dalam gelap yang belum sepenuhnya pergi. Atap kayu di atasnya tampak samar. Di beberapa sela genting, cahaya pagi menyelip tipis seperti benang.

Beberapa detik, ia lupa sedang berada di mana.

Lalu bau kayu tua, selimut yang agak lembap, dan sisa debu semalam mengembalikan semuanya: rumah nenek, Desa Wisnu Bakti, janji yang terlalu besar untuk dibawa oleh satu tubuh yang masih pegal.

Rara bangun perlahan. Punggungnya protes. Lengannya terasa berat akibat bebenah seharian kemarin. Di lantai dekat dipan, tas kerjanya sudah ia siapkan semalam: map berisi fotokopi ijazah, surat lamaran, daftar riwayat hidup, beberapa sertifikat, dan buku catatan kecil bersampul cokelat. Ia menatap map itu lama.

Kertas-kertas itu tampak begitu rapi.

Terlalu rapi untuk sebuah desa yang semalam menyambutnya dengan rindu, debu, dan rumah tua yang seolah belum selesai berduka.

Rara menggeleng pelan, seolah pikiran buruk bisa jatuh begitu saja dari kepalanya.

“Fokus dulu, Ra,” gumamnya.

Ia mandi dengan air sumur yang dinginnya menusuk tulang. Saat membasuh wajah, ia berhenti sebentar, menatap ember. Air tampak jernih setelah didiamkan. Mungkin rumah tua memang perlu waktu untuk kembali hidup, pikirnya. Sama seperti dirinya.

Di dapur, ia membuat teh tawar panas dan memakan dua potong roti yang dibawanya dari kota. Roti itu sudah agak keras di pinggirnya. Ia mengunyah pelan sambil memandang halaman belakang. Sepeda jengki tua peninggalan nenek berdiri bersandar pada dinding, seperti pasien yang menunggu giliran diperiksa.

Rara mendekatinya setelah sarapan. Ia memegang setang berkarat itu, lalu mencoba memutar roda depan.

Seret.

“Belum bisa diajak perang hari ini, ya?” katanya pelan.

Bel kecil di setang masih miring. Rara memencetnya sekali.

Tring.

Bunyinya sumbang, tapi cukup membuat sudut bibirnya naik.

Ia belum sempat membawanya ke bengkel. Ban kempis, rantai kering, dan remnya entah masih hidup atau sudah menyerah pada umur. Untuk hari pertama ke sekolah, ia terpaksa memakai ojek lagi. Satu pengeluaran yang membuat dompetnya sedikit meringis, tetapi ia tidak punya pilihan.

Sebelum keluar, Rara berdiri di depan foto neneknya. Ia merapikan kerudung warna krem di depan kaca buram, memastikan mapnya tidak tertinggal, lalu menatap wajah tua di bingkai kayu itu.

“Doakan,” katanya.

Foto itu diam.

Tapi diam itu cukup.

Di depan gang, tukang ojek yang kemarin ternyata sudah menunggu dekat warung. Namanya Pak Manto, baru Rara tahu setelah ia menyapa seorang ibu penjual gorengan. Lelaki itu sedang menyeruput kopi dari gelas kecil, kakinya menyilang, wajahnya masih mengantuk.

“Ke SD, Mbak Rara?” tanyanya saat melihat Rara datang.

“Iya, Pak. Kalau Bapak tidak repot.”

“Repot itu kalau disuruh jadi kepala sekolah.” Pak Manto terkekeh sendiri, lalu menaruh gelas kopinya. “Kalau cuma ngantar, masih kuat.”

Rara ikut tersenyum. Ada rasa ringan yang sebentar mampir.

Motor melaju melewati jalan desa yang mulai hidup. Anak-anak berseragam berjalan berkelompok, beberapa membawa tas terlalu besar untuk punggung kecil mereka. Ibu-ibu menjemur pakaian di halaman. Seorang kakek menyapu daun kering di depan rumah sambil batuk-batuk. Dari dapur-dapur warga, asap tipis naik membawa bau bawang goreng dan kayu bakar.

Di satu sisi, desa itu terasa akrab.

Namun semakin motor mendekati sekolah, Rara mulai memperhatikan bahwa tanah di sekitar halaman sekolah tampak berbeda dari halaman-halaman rumah warga yang baru saja ia lewati.

Rumput di pinggir jalan dekat sekolah tidak serapat di dekat rumah-rumah warga. Beberapa batang ilalang tampak kering di ujungnya, seolah terlalu lama menanggung panas. Tetapi beberapa ratus meter sebelumnya, kebun pisang, pohon mangga, dan sawah kecil warga masih tampak hijau. Perbedaan itu halus, belum cukup untuk disebut masalah, tetapi cukup untuk membuat Rara menoleh sekali lagi.

Rara mengamati sebentar, lalu menarik napas pelan.

Pak Manto tidak berkomentar. Ia hanya menurunkan kecepatan karena jalan berlubang.

“Sekolahnya masih jauh, Pak?” tanya Rara, bukan karena tidak tahu jarak, tetapi karena butuh suara manusia untuk mengusir rasa ganjil.

“Sebentar lagi. Itu kelihatan pagarnya.”

SDN 1 Wisnu Bakti muncul di balik deretan pohon mangga tua.

Bangunannya sederhana, dindingnya dicat putih dan biru muda, tetapi warna putihnya sudah kusam seperti baju yang terlalu sering dicuci dengan air keruh. Pagar besinya rendah, sebagian catnya mengelupas. Di depan gerbang, papan nama sekolah berdiri miring sedikit: SDN 1 WISNU BAKTI. Huruf-hurufnya masih terbaca jelas, meski ada bekas lumut di sudut kanan.

Halaman sekolah cukup luas.

Namun sesuatu di sana membuat Rara tidak langsung turun.

Tanah halaman itu gersang.

Bukan sekadar kering karena kemarau. Ia pernah melihat halaman sekolah desa yang berdebu, lapangan yang retak, atau kebun sekolah yang gagal dirawat. Tanah di sini tampak lebih lelah dibanding halaman rumah-rumah warga yang barusan ia lewati, tetapi Rara belum punya alasan untuk menamai keanehan itu selain kurang air, kurang perawatan, atau musim yang terlalu keras.

Padahal di luar pagar, agak jauh dari halaman sekolah, rumpun pisang di halaman warga terlihat hijau. Pohon mangga di tepi jalan berdaun lebat. Kontras itu mencolok, tetapi masih bisa saja dijelaskan oleh banyak hal.

“Sudah sampai, Mbak,” kata Pak Manto.

Rara tersentak kecil. “Oh. Iya.”

Ia turun, membayar ongkos, lalu berdiri di depan gerbang sambil merapikan map di dadanya. Di dalam halaman, beberapa murid berlarian. Sepatu mereka mengangkat debu tipis setiap kali menginjak tanah. Seorang anak laki-laki tertawa keras saat mengejar temannya. Anak lain duduk di bawah pohon dengan kotak bekal di pangkuan. Dunia anak-anak tetap berjalan, bahkan di atas tanah yang terlihat lelah.

Rara melangkah masuk.

Seorang guru perempuan berusia sekitar empat puluh lima tahun menyambutnya di teras kantor. Tubuhnya agak berisi, rambutnya disanggul sederhana, dan kacamata bertengger di ujung hidung. Wajahnya ramah, tetapi matanya menyimpan kebiasaan menilai cepat.

“Bu Rara?” tanyanya.

“Iya. Saya Rara, Bu.” Rara menunduk sopan. “Saya yang kemarin sudah menghubungi sekolah.”

“Saya Bu Lilis. Guru kelas tiga.” Perempuan itu menjabat tangan Rara. Telapak tangannya hangat dan sedikit berbau kapur tulis. “Ibu Kepala sudah menunggu. Mari.”

Rara mengikuti Bu Lilis melewati teras. Di dinding kantor, ada beberapa poster pendidikan yang warnanya mulai pudar: ajakan rajin membaca, tata tertib sekolah, dan gambar pahlawan nasional. Dari ruang kelas sebelah terdengar suara anak-anak mengeja bersama-sama, tidak kompak tetapi penuh tenaga.

“A... yam... ayam.”

“Ba... ju... baju.”

Rara menoleh sebentar. Suara itu menimbulkan getaran kecil di dadanya.

Ia ingin berada di sana. Di antara suara anak-anak yang belum selesai menjadi apa pun. Di antara huruf-huruf pertama, angka-angka yang masih membingungkan, dan mata-mata kecil yang sering kali lebih jujur daripada orang dewasa.

Namun saat melewati ruang guru, ia menangkap percakapan terputus.

“Kalau anak itu telat lagi, ya sudah...”

“Sudah terlalu sering.”

“Kasihan kelasnya juga.”

Percakapan berhenti begitu Rara masuk. Dua guru yang sedang duduk dekat lemari cepat-cepat menunduk ke tumpukan buku. Seorang guru laki-laki berdeham, lalu pura-pura mencari sesuatu di laci.

Rara tidak bertanya.

Tetapi namanya belum ia tahu pun, anak itu sudah hadir sebagai bayangan.

Bu Lilis mengetuk pintu ruang kepala sekolah.

“Bu, Bu Rara sudah datang.”

“Masuk.”

Suara dari dalam tenang, agak berat, dan tidak terburu-buru.

Ruang kepala sekolah tidak besar. Ada meja kayu tua di tengah, lemari arsip di kanan, rak buku kecil di kiri, dan satu jendela yang menghadap ke halaman gersang. Di belakang meja duduk seorang perempuan berusia sekitar akhir lima puluhan. Rambutnya yang mulai beruban disisir rapi ke belakang. Wajahnya tidak keras, tetapi ada garis-garis pengalaman yang membuatnya tampak seperti orang yang terlalu sering menelan kecewa tanpa sempat mengeluh.

Ibu Sintang.

Rara langsung tahu, bahkan sebelum Bu Lilis memperkenalkan.

Perempuan itu berdiri.

“Selamat datang, Bu Rara.”

“Terima kasih, Bu.” Rara menjabat tangannya. Tangan Ibu Sintang dingin, tetapi genggamannya mantap.

Lihat selengkapnya