Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #3

BAB 3: ANAK YANG DATANG PUKUL SEMBILAN TIGA PULUH

Bangku kosong itu ternyata punya cara sendiri untuk mengganggu pikiran Rara.

Selama Pak Damar mengajar, mata Rara beberapa kali terseret ke sana. Meja kayu di baris kedua dari belakang itu tidak berbeda jauh dari meja lain: kakinya sedikit timpang, permukaannya penuh goresan, sudut kanannya pernah patah lalu dipaku kembali. Tetapi karena tidak ada tubuh kecil yang mendudukinya, meja itu tampak lebih luas, lebih diam, lebih menunggu.

Di pojok meja, nama Fajar tertulis tipis dengan pensil. Bukan huruf yang rapi. Garisnya naik turun, seperti ditulis tergesa-gesa, mungkin saat guru sedang menoleh ke papan tulis. Di sebelahnya ada gambar kecil menyerupai matahari, tetapi sinarnya tidak selesai.

Rara duduk di kursi belakang kelas, mencatat hal-hal kecil di buku cokelatnya.

Kelas lima SDN 1 Wisnu Bakti berisi anak-anak dengan berbagai jenis gelisah. Ada yang duduk tegak seperti takut salah bernapas. Ada yang menggoyang-goyangkan kaki di bawah meja. Ada yang menaruh dagu di tangan sambil menatap keluar jendela, seolah burung gereja di dahan mangga jauh lebih penting daripada pecahan di papan tulis. Ada pula yang terlalu ingin menjawab semua pertanyaan, bahkan sebelum Pak Damar selesai bicara.

“Siapa yang bisa menyederhanakan pecahan ini?” tanya Pak Damar sambil menulis angka di papan.

Beberapa tangan terangkat. Tidak banyak.

Rara memperhatikan cara Pak Damar mengajar. Suaranya datar, tetapi bukan karena tidak peduli. Lebih seperti orang yang sudah terlalu sering menghemat tenaga. Ia tahu kapan harus menegur, kapan harus pura-pura tidak melihat anak yang mencoret buku, kapan harus memberi pujian kecil agar kelas tidak benar-benar padam.

Seorang anak laki-laki di depan menjawab salah. Beberapa temannya tertawa.

Pak Damar mengetuk meja dengan kapur. “Yang tertawa maju menggantikan.”

Tawa langsung berhenti.

Rara menahan senyum. Teguran itu sederhana, tetapi bekerja.

Namun semakin lama ia mengamati, semakin jelas ada sesuatu yang tidak seimbang di kelas itu. Anak-anak tertentu selalu percaya diri. Anak-anak lain menunggu disebut nama, lalu menjawab dengan suara hampir hilang. Beberapa murid tampak sudah terbiasa merasa tidak pintar, seolah kebodohan adalah baju yang mereka pakai setiap hari dan tidak pernah bisa dicuci bersih.

Pukul delapan lebih dua puluh, matahari mulai naik lebih tinggi. Cahaya masuk lewat jendela kiri, jatuh miring di lantai semen. Debu bergerak di dalam cahaya itu, pelan-pelan, seperti serbuk halus yang tidak punya tujuan.

Dari halaman, terdengar suara kelas lain membaca serempak. Dari dapur kecil sekolah, samar tercium bau teh manis dan gorengan. Bau itu bercampur dengan kapur tulis, keringat anak-anak, dan tanah kering yang masuk melalui jendela.

Rara mengusap lehernya. Udara di kelas terasa gerah meski jendela terbuka.

Di luar, halaman sekolah tampak semakin pucat di bawah matahari. Retakan tanah di dekat tiang bendera terlihat lebih jelas daripada pagi tadi. Seekor ayam lewat di pinggir pagar, mematuk sesuatu, lalu pergi begitu saja seolah halaman itu tidak menyediakan apa pun yang layak dicari.

“Bu Rara.”

Rara menoleh. Pak Damar memberi isyarat agar ia maju.

“Anak-anak, sekarang coba dengarkan Bu Rara sebentar. Beliau mau memperkenalkan cara belajar membaca cerita pendek. Siapa tahu nanti kalian tidak cuma bisa menjawab soal, tapi juga bisa mengerti perasaan tokoh.”

Beberapa anak mengeluh pelan. Kata perasaan tampaknya tidak lebih menarik daripada pecahan.

Rara berdiri. Ia mengambil kapur, merasakan serbuk putihnya menempel di ujung jari. Kapur itu pendek, hampir habis. Ia menulis di papan:

KELUARGA

Lalu ia berbalik.

“Kalau mendengar kata ini, apa yang kalian pikirkan?”

Kelas diam beberapa detik.

Seorang anak perempuan berkepang dua mengangkat tangan. “Ibu.”

“Bagus. Siapa lagi?”

“Ayah,” jawab anak laki-laki dekat jendela.

“Adik,” kata yang lain.

“Makan bareng,” sahut seorang anak dari belakang.

“Dimarahi,” celetuk anak yang tadi menggoyangkan kaki.

Kelas tertawa.

Rara ikut tertawa kecil. “Itu juga bagian dari keluarga.”

Anak itu nyengir, lalu menunduk.

Rara menulis beberapa jawaban di papan. Ibu. Ayah. Adik. Makan. Marah. Rumah. Ia sengaja membiarkan tulisan anak-anak itu berdiri tanpa ia rapikan terlalu sempurna. Kata-kata mereka masih mentah, tetapi jujur.

“Sekarang, Ibu mau tanya,” katanya. “Apakah keluarga selalu menyenangkan?”

Kelas tidak langsung menjawab.

Pertanyaan itu seperti menabrak sesuatu yang tidak biasa dibicarakan di ruang kelas. Beberapa anak saling pandang. Ada yang tersenyum ragu. Ada yang menunduk.

Pak Damar, dari samping kelas, melirik Rara sebentar. Mungkin heran. Mungkin menilai.

Seorang anak perempuan kecil mengangkat tangan setengah. “Kadang kalau ibu marah, tidak menyenangkan, Bu.”

“Kenapa ibu marah?”

“Karena saya lupa nyapu.”

“Lalu kamu marah balik?”

Anak itu menggeleng cepat. “Takut.”

Kelas tertawa lagi.

Rara tersenyum. “Nah, dalam cerita, keluarga itu bisa membuat tokoh bahagia, bisa juga membuat tokoh takut, sedih, atau kuat. Kalau kita membaca cerita, jangan cuma lihat tokohnya melakukan apa. Perhatikan juga siapa yang dia sayangi. Biasanya dari situ kita tahu kenapa dia berbuat sesuatu.”

Ia berhenti sebentar.

Di bangku kosong milik Fajar, debu tipis masih menempel.

Rara tidak tahu mengapa tiba-tiba ia merasa kalimat itu bukan hanya untuk murid-murid yang hadir.

Biasanya dari situ kita tahu kenapa dia berbuat sesuatu.

Pelajaran berlanjut dengan membaca teks pendek dari buku paket. Anak-anak diminta mencari tokoh utama dan alasan tokoh itu membantu ibunya berjualan. Rara berjalan di antara bangku. Beberapa anak mengikuti dengan baik. Beberapa lain hanya menyalin jawaban teman.

Saat melewati bangku kosong Fajar, Rara melihat bagian bawah mejanya. Ada sebuah tali rafia kecil terikat di sana. Warnanya biru pudar. Mungkin bekas pengikat tas. Mungkin bekas mainan. Entah mengapa, benda kecil itu membuat bangku tersebut terasa tidak sepenuhnya kosong. Seperti pemiliknya baru pergi sebentar dan akan kembali dengan napas terburu-buru.

Pukul sembilan kurang lima, bel istirahat berbunyi.

Anak-anak langsung pecah seperti sekawanan burung. Ada yang berlari ke halaman, ada yang membuka bekal, ada yang menuju kantin kecil di samping sekolah. Kursi bergeser, sendok beradu dengan kotak makan, suara tawa memenuhi ruangan.

Rara berdiri di dekat pintu, membiarkan anak-anak lewat.

Seorang anak laki-laki berhenti di depannya. Tubuhnya kurus, rambutnya dipotong terlalu pendek.

“Bu,” katanya.

“Iya?”

“Kalau Bu Rara guru baru, berarti nanti sering di kelas lima?”

“Sepertinya begitu.”

Anak itu menoleh ke bangku kosong Fajar, lalu mendekat sedikit. Suaranya dikecilkan. “Bu, jangan galak-galak sama Fajar.”

Rara menatapnya. “Kenapa?”

Anak itu tampak menyesal sudah bicara. Ia menggaruk lehernya. “Enggak apa-apa.”

“Namamu siapa?”

“Rizal.”

“Rizal, Fajar temanmu?”

Ia mengangkat bahu. “Kadang.”

Jawaban itu terlalu pendek untuk disebut jawaban.

Sebelum Rara sempat bertanya lagi, seorang temannya memanggil dari halaman. “Zal! Ayo beli cilok!”

Rizal langsung lari, seolah pertanyaan Rara tadi bisa mengejarnya.

Rara berdiri beberapa detik di ambang pintu.

Jangan galak-galak sama Fajar.

Kalimat itu ringan, tetapi meninggalkan bekas.

Di ruang guru saat istirahat, percakapan tentang Fajar akhirnya datang juga, tanpa perlu Rara memancingnya.

“Belum datang lagi?” tanya Pak Surya sambil membuka bungkus nasi.

Lihat selengkapnya