Seminggu setelah Rara mulai mengajar di SDN 1 Wisnu Bakti, kelas lima mulai mengenal kebiasaan baru Bu Rara.
Ia tidak langsung mengubah banyak hal.
Ia tidak datang membawa poster warna-warni dari kota lalu menempel semuanya di dinding seperti orang yang hendak menutupi retak dengan kertas. Ia tidak memarahi Pak Damar karena cara mengajarnya terlalu datar. Ia juga tidak membantah Pak Surya setiap kali lelaki itu mengeluh tentang murid yang “susah dibentuk”.
Rara belajar menahan diri.
Setiap pagi ia datang lebih awal, kadang masih memakai ojek Pak Manto, kadang berjalan kaki setengah jalan ketika uang receh di dompetnya mulai menipis. Sepeda jengki peninggalan neneknya sudah ia bawa ke bengkel kecil dekat pasar. Tukang bengkel bilang rantainya harus diganti, bannya harus ditambal, remnya minta disetel ulang, dan belnya “masih bisa hidup asal jangan terlalu berharap suaranya merdu.”
Rara tertawa waktu itu, tapi di dalam hati ia menghitung biaya satu per satu.
Di sekolah, ia lebih banyak mengamati.
Ia mengamati anak-anak yang selalu membuka bekal lebih awal karena perutnya sudah lapar sejak jam pertama. Ia mengamati anak yang pura-pura membaca padahal matanya tidak bergerak mengikuti huruf. Ia mengamati Fajar yang tetap sering terlambat, meski tidak selalu pukul sembilan tiga puluh. Kadang pukul delapan lewat lima belas, kadang pukul sembilan kurang sepuluh, kadang datang tepat waktu tetapi wajahnya seperti orang yang seluruh malamnya dipinjam paksa oleh sesuatu.
Setiap Fajar masuk kelas, ia selalu menunduk.
Setiap guru bertanya alasan keterlambatannya, jawabannya pendek.
“Maaf, Pak.”
“Maaf, Bu.”
Atau hanya diam.
Rara belum memaksa.
Ia tahu diam bukan selalu dinding. Kadang diam adalah pintu yang dikunci dari dalam. Kalau didobrak, orang di dalamnya bisa makin ketakutan.
Pagi itu, udara sekolah lebih gerah dari biasanya. Langit berwarna putih kusam, tidak biru, seolah matahari dibungkus kain tipis yang kotor. Halaman sekolah berdebu. Tanah di dekat tiang bendera tampak makin pecah setelah beberapa hari tanpa hujan. Anak-anak yang berlari meninggalkan jejak tipis di permukaannya, lalu jejak itu cepat hilang tertutup debu lain.
Rara datang dengan sepeda jengki yang baru selesai diperbaiki.
Belnya memang tidak merdu.
Tring-nya masih sumbang, seperti suara sendok jatuh ke panci. Tetapi sepeda itu bisa berjalan. Rantainya tidak lagi menjerit setiap dikayuh. Remnya masih agak keras, tetapi cukup membuat Rara tidak menabrak kambing yang tiba-tiba menyeberang di dekat warung Bu Karti.
Ketika ia menuntun sepeda masuk ke halaman sekolah, beberapa murid langsung menoleh.
“Bu Rara punya sepeda jadul!” seru Rizal dari dekat pohon mangga.
“Jadul tapi setia,” jawab Rara sambil memarkirkannya di samping kantor guru.
“Belnya bunyi, Bu?”
Rara menekan bel.
Tring.
Anak-anak tertawa.
Seorang anak perempuan berkerudung kecil berkata, “Kayak suara cicak kecebur gelas, Bu.”
Rara menahan tawa. “Itu namanya suara perjuangan. Bel sepeda yang sudah melewati banyak zaman.”
Rizal mengangguk sok serius. “Berarti lebih tua dari Pak Surya, Bu?”
“Rizal,” suara Pak Surya muncul dari belakang mereka.
Rizal langsung kabur.
Rara menutup mulutnya dengan punggung tangan. Pak Surya melintas sambil membawa map, wajahnya dibuat galak, tetapi telinganya merah sedikit. Pagi itu terasa lebih ringan.
Di jalan menuju sekolah, Putri sebenarnya sudah lebih dulu menunjukkan ketidaksukaannya.
Ia duduk di kursi belakang mobil dengan tangan terlipat di dada. Sejak keluar dari rumah dinas, wajahnya tidak benar-benar cerah. Matanya beberapa kali memandang keluar jendela, ke rumah-rumah warga yang pagarnya rendah, ke anak-anak berseragam merah putih yang berjalan kaki sambil membawa tas di punggung, lalu ke jalan desa yang tidak semulus jalan kota.
“Ma, benar aku harus sekolah di situ?” tanyanya akhirnya.
Ibunya, yang duduk di sampingnya, menoleh pelan. Wajah perempuan itu lembut, tetapi tampak lelah oleh urusan pindahan yang belum seluruhnya selesai. “Di SDN 1 Wisnu Bakti?”
Putri mengangguk. Bibirnya maju sedikit. “Sekolahnya kecil, kan? Aku sudah lihat dari jalan kemarin. Bangunannya biasa sekali.”
“Biasa bukan berarti buruk.”
“Tapi sekolahku yang dulu jauh lebih bagus. Ada perpustakaan besar, ruang musik, lapangan bersih, kelasnya dingin. Di sini...” Putri melihat ke luar jendela lagi. “Jalannya saja berdebu.”
Ibunya menghela napas pendek. Tidak marah, tetapi juga tidak sepenuhnya membela. “Putri, mau bagaimana lagi? Pilihan sekolah dasar di desa ini memang tidak banyak. Yang paling dekat, resmi, dan masuk akal ya SDN 1 Wisnu Bakti.”
“Kenapa aku tidak sekolah di kota saja?”
“Karena Papa sekarang bertugas di sini. Mama juga sudah menyusul. Administrasi pindahmu dari sekolah lama sudah selesai. Mulai hari ini, kamu belajar di sana.” Perempuan itu merapikan pita di rambut Putri yang sebenarnya sudah rapi. “Sekolah itu sederhana, tapi tetap sekolah yang layak. Guru-gurunya ada. Anak-anaknya belajar setiap hari. Jangan menilai tempat hanya karena tidak seperti sekolahmu dulu.”
Putri diam. Matanya turun ke sepatu putihnya yang masih bersih.
“Kalau teman-temannya tidak selevel denganku?” tanyanya pelan, tetapi cukup tajam untuk membuat ibunya menatap lebih lama.
Ada sesuatu yang hendak ditegur, tetapi tidak jadi keluar. Mungkin karena perempuan itu terlalu sering mendengar nada serupa dari suaminya. Mungkin juga karena di rumah mereka, kata unggul sudah terlalu sering dianggap sama dengan benar.
“Kamu cukup belajar baik-baik,” kata ibunya akhirnya. “Jangan membuat masalah di hari pertama.”
Putri tidak menjawab. Mobil terus bergerak menuju gerbang sekolah, sementara di dadanya tumbuh perasaan tidak nyaman: bukan takut, melainkan rasa turun kelas yang belum bisa ia namai.
Lalu mobil hitam itu datang.
Bukan mobil desa biasa yang bannya penuh lumpur dan baknya membawa karung padi. Mobil itu mengilap, besar, dan terlalu bersih untuk jalan berbatu di depan sekolah. Ketika berhenti di depan gerbang, debu yang semula menempel di tanah seperti malu mendekati bodinya. Kaca mobilnya gelap. Logo di bagian depan berkilat ditimpa matahari.
Anak-anak yang tadi tertawa langsung diam beberapa detik.
Pintu kanan belakang terbuka.
Sepasang sepatu putih turun lebih dulu, bersih sekali sampai tampak tidak pantas menginjak halaman SDN 1 Wisnu Bakti. Lalu seorang anak perempuan keluar dari mobil. Rambutnya hitam lurus sebahu, diikat pita kecil berwarna biru tua. Seragam putih merahnya baru, licin, dan pas di badan. Tas punggungnya tampak mahal, bergambar karakter kartun luar negeri yang namanya tidak semua anak desa tahu. Di pergelangan tangannya melingkar jam kecil berwarna merah muda.
Ia berdiri di depan gerbang dengan wajah yang tidak langsung menatap sekolah.
Ia menatap debu di sepatunya.
Alisnya sedikit berkerut.
Pintu kiri belakang terbuka setelahnya. Seorang perempuan turun, merapikan ujung kerudung tipisnya, lalu menyentuh bahu Putri dengan gerakan lembut yang hampir tidak terlihat. “Ingat pesan Mama,” bisiknya. “Sekolah dulu baik-baik.”
Putri mengangguk tanpa menatap ibunya. Matanya masih tertahan pada halaman sekolah yang berdebu dan bangunan sederhana di depannya.
Dari pintu depan, seorang lelaki turun menyusul. Tubuhnya tinggi, bajunya rapi, kemeja lengan panjangnya digulung sampai siku dengan cara yang terlihat sengaja. Rambutnya disisir klimis, wajahnya bersih, dan senyumnya mudah sekali muncul, seperti orang yang tahu senyum bisa membuka banyak pintu.
Pak Hermawan.
Rara belum mengenalnya secara pribadi, tetapi namanya sudah beberapa kali ia dengar sejak tiba di desa. Pak Hermawan, kata orang-orang, sudah sekitar empat bulan bolak-balik ke Wisnu Bakti untuk mengurus pekerjaan perusahaan dan beberapa kegiatan bantuan. Dari cara Pak Manto yang sedang mangkal di seberang jalan tiba-tiba duduk lebih tegak, dari cara Bu Lilis cepat-cepat merapikan kerudung, dan dari langkah Ibu Sintang yang muncul dari kantor dengan wajah tenang tetapi lebih formal dari biasanya, Rara menangkap bahwa lelaki itu bukan orang tua murid yang benar-benar asing bagi desa ini.
“Selamat pagi, Bu Sintang,” sapa lelaki itu hangat.
“Selamat pagi, Pak Hermawan,” jawab Ibu Sintang.
Suara Ibu Sintang sopan. Terlalu sopan untuk disebut akrab.
Lelaki itu menoleh ke anak perempuan di sampingnya. “Putri, salam dulu.”
Anak perempuan itu maju setengah langkah. Ia menangkupkan tangan, lalu berkata, “Selamat pagi, Bu.”
Suaranya halus, terlatih, dan tidak terdengar gugup.
“Selamat pagi, Putri,” kata Ibu Sintang. “Selamat datang di SDN 1 Wisnu Bakti.”
Putri tersenyum kecil. Senyum yang rapi, tetapi tidak sampai ke mata.
Pak Hermawan melihat sekeliling halaman. Tatapannya menyapu bangunan sekolah yang sederhana tetapi masih terawat seadanya, pagar rendah, pot tanaman yang layu, lalu berhenti sebentar pada tanah gersang di dekat tiang bendera. Hanya sebentar. Terlalu sebentar untuk orang lain sadari. Tetapi Rara melihatnya.
“Sekolahnya sederhana, ya,” kata Pak Hermawan. Nada suaranya ramah. “Tapi sederhana itu kadang lebih hangat.”
Beberapa guru tersenyum mendengar kalimat itu.
Rara tidak ikut tersenyum secepat mereka.
Ada orang yang memuji kesederhanaan seperti sedang menghormati. Ada juga yang memuji kesederhanaan seperti sedang berdiri di tempat lebih tinggi.
Pak Hermawan mengeluarkan amplop cokelat dari tas kulitnya. “Ini berkas pindahan Putri, Bu. Administrasi dari sekolah lamanya di kota baru selesai, jadi Putri dan ibunya baru menyusul saya minggu ini. Saya harap tidak merepotkan sekolah.”
“Tidak, Pak. Kami senang menerima murid baru,” jawab Ibu Sintang.
“Putri biasanya cepat menyesuaikan diri. Di sekolah sebelumnya, dia selalu masuk tiga besar. Beberapa kali ikut lomba juga.” Pak Hermawan menoleh pada putrinya dengan senyum bangga. “Anaknya memang agak perfeksionis. Turun dari saya mungkin.”
Putri tidak menjawab. Hanya menunduk sedikit, tetapi dagunya tetap terangkat.
Anak-anak di halaman mulai berbisik.
“Mobilnya bagus.”
“Tasnya mahal itu.”
“Sepatunya putih banget.”
“Dia pindahan dari kota?”
Rara mendengar semuanya.
Ia juga melihat satu bangku di kelas lima yang belum berpenghuni pagi itu.
Dari pintu kelas yang terbuka, meja Fajar tampak kosong. Nama kecil di pojok mejanya masih ada, tetapi pemiliknya belum datang. Di tengah kedatangan Putri yang begitu rapi dan mencolok, kekosongan itu terasa seperti tanda baca yang terlambat muncul.
Rara merasakan sesuatu yang tidak nyaman merayap pelan di dadanya. Bukan karena Putri datang dengan mobil mewah. Anak tidak bisa memilih lahir di rumah seperti apa. Tetapi dunia sering terlalu cepat menjadikan benda-benda orang tua sebagai ukuran harga seorang anak.
Bel masuk berbunyi.