Hari-hari setelah kedatangan Putri membuat kelas lima berubah dengan cara yang mula-mula tampak kecil.
Tidak ada meja yang pindah tempat. Tidak ada jadwal pelajaran yang berubah. Bel sekolah tetap dipukul tiga kali setiap pergantian jam, kapur tulis tetap patah di tangan Pak Damar, dan halaman sekolah tetap mengangkat debu setiap kali anak-anak berlari. Tetapi sesuatu di antara murid-murid bergeser pelan, seperti kursi yang digeser sedikit demi sedikit sampai orang baru sadar ketika kakinya tersandung.
Putri duduk di baris depan, tetapi pengaruhnya menjalar sampai ke belakang.
Setiap istirahat, beberapa anak berkumpul di sekitar mejanya. Kadang ia membawa cokelat kecil, kadang biskuit berlapis krim, kadang stiker warna-warni bergambar tokoh kartun. Ia tidak selalu membagikannya dengan sombong. Ada hari ketika ia tampak benar-benar senang melihat Sari tertawa karena mendapatkan penghapus berbentuk stroberi. Ada juga hari ketika ia menahan kotak makan di pangkuannya sedikit lebih lama, menunggu anak-anak menatap lebih dulu sebelum ia berkata, “Mau?”
Rara memperhatikan semua itu tanpa langsung menegur.
Anak-anak suka hadiah. Itu wajar. Anak-anak suka hal baru. Itu juga wajar. Yang membuat dada Rara sering terasa tidak enak adalah cara beberapa anak mulai mengukur teman mereka dari apa yang bisa dibawa ke sekolah.
“Punyamu pensilnya cuma satu, Zal?” tanya Putri suatu pagi.
Rizal mengangkat pensil pendeknya. “Masih bisa buat nulis.”
“Kalau di sekolahku dulu, pensil kayak begitu sudah dibuang.”
Rizal tertawa, karena ia mengira itu lelucon.
Fajar tidak tertawa.
Ia duduk di bangkunya, menyalin soal dari papan. Pensilnya bahkan lebih pendek dari milik Rizal. Saat mendengar ucapan Putri, jari-jarinya berhenti sebentar, lalu kembali bergerak. Tidak ada wajah marah. Tidak ada bantahan. Hanya diam yang makin dalam.
Rara melihatnya dari meja guru.
Dalam dua minggu itu, Fajar masih sering datang terlambat. Tidak selalu separah pukul sembilan tiga puluh, tetapi cukup sering untuk membuat Pak Surya beberapa kali menggeleng di ruang guru.
“Anak itu seperti jam rusak,” katanya suatu siang. “Kadang jalan, kadang berhenti. Kalau dibetulkan juga kumat lagi.”
Rara sedang mencuci gelas di wastafel kecil ruang guru ketika mendengar itu. Air keran mengalir kecil dan dingin di tangannya. Ia menahan diri untuk tidak menjawab. Belajar diam ternyata lebih sulit daripada belajar bicara.
Ia belum tahu rumah Fajar. Belum tahu apa yang membuat anak itu datang dengan mata merah dan tangan yang kadang masih menyimpan noda hitam di sela kuku. Ia hanya tahu satu hal: setiap kali Fajar terlambat, wajahnya tidak tampak seperti wajah anak yang baru bangun kesiangan. Ia tampak seperti seseorang yang sudah mengalahkan banyak hal sebelum sampai ke kelas.
Hari itu, matahari berdiri terlalu garang di atas SDN 1 Wisnu Bakti. Udara di kelas lengket. Kipas angin mati di sudut ruangan seperti pajangan yang sudah menyerah. Pak Damar sedang keluar sebentar ke kantor kepala sekolah untuk mengambil berkas, sehingga Rara diminta menjaga kelas lima sambil memberi latihan membaca pemahaman.
Anak-anak diminta membaca teks tentang seorang anak yang membantu ibunya berjualan sayur di pasar. Setelah itu, mereka harus menjawab lima pertanyaan.
Rara sengaja memilih teks sederhana. Bukan karena ia meremehkan mereka, tetapi karena ia ingin melihat siapa yang benar-benar membaca dan siapa yang hanya menebak dari kata-kata kunci. Ia berjalan perlahan di antara bangku, memerhatikan dahi yang berkerut, bibir yang komat-kamit, dan jari-jari kecil yang bergerak menyusuri baris.
Putri selesai paling cepat.
Ia mengangkat tangan tinggi-tinggi. “Bu, saya sudah.”
“Periksa lagi,” kata Rara.
“Sudah benar semua.”
“Coba periksa lagi dengan lebih pelan.”
Putri menurunkan tangan. Wajahnya menunjukkan sedikit ketidaksabaran, tetapi ia menunduk lagi ke buku.
Di belakang, Fajar masih menatap paragraf pertama. Bibirnya bergerak pelan mengikuti kata-kata. Rara mendekat, tetapi tidak berhenti tepat di sampingnya. Ia tahu Fajar sering makin kaku jika diperhatikan terlalu jelas.
“Bu,” Putri memanggil lagi setelah beberapa menit. “Kalau ada yang belum selesai, berarti harus ditunggu semua?”
Beberapa anak menoleh.
Rara berdiri di tengah kelas. “Di kelas, kadang kita menunggu teman. Kadang teman menunggu kita.”
“Tapi kalau temannya lama terus?”
Nada Putri ringan. Terlalu ringan untuk kalimat yang mulai mengarah ke tempat yang tidak baik.
“Kalau lama, kita cari tahu bagian mana yang sulit.”
Putri menoleh ke belakang, ke arah Fajar. “Kalau semua bagian sulit?”
Kelas mendadak hening.
Fajar menunduk lebih dalam. Pensilnya berhenti di atas kertas. Rizal yang duduk di sampingnya menggeser kaki, gelisah.
Rara menatap Putri. “Putri, fokus pada pekerjaanmu sendiri.”
“Saya sudah selesai, Bu.”
“Kalau begitu, gunakan waktumu untuk membaca ulang.”
Putri memutar pensil mekaniknya dengan jari. Klik. Klik. Klik. Bunyi kecil itu terdengar tajam di ruang kelas yang sunyi.
“Di sekolah saya yang dulu,” katanya, “murid seperti itu biasanya dipisah kelasnya.”
Rara mengernyit. “Murid?”
Beberapa anak tertawa kecil karena salah ucap itu. Putri sadar, pipinya memerah sedikit.
“Murid seperti itu maksud saya,” katanya cepat.
Rara tidak tersenyum. “Seperti itu bagaimana?”
Putri menatap Fajar lagi. Kali ini lebih terang-terangan.
“Yang tidak bisa mengikuti pelajaran. Yang selalu terlambat. Yang bikin kelas jadi lambat.”
Fajar menutup bukunya pelan.
Suara buku itu tidak keras, tetapi bagi Rara terdengar seperti pintu kecil yang dikunci dari dalam.
“Putri,” kata Rara, suaranya rendah, “Ibu sudah pernah mengatakan, kamu boleh pintar, boleh cepat, boleh percaya diri. Tapi kamu tidak boleh menjadikan temanmu bahan untuk meninggikan dirimu.”
Putri duduk lebih tegak. “Saya cuma bilang kenyataan, Bu.”
“Kenyataan tidak harus diucapkan dengan cara yang membuat orang lain terluka.”
Putri mengangkat dagu. “Kalau memang dia sering terlambat dan tidak bisa menjawab, apa itu salah saya?”
Rara merasa panas naik ke wajahnya. Bukan hanya marah kepada Putri. Marah kepada ruangan yang terlalu mudah diam ketika seorang anak direndahkan. Marah kepada dirinya sendiri karena belum tahu harus melindungi Fajar tanpa membuatnya tampak seperti korban yang dipamerkan.
Fajar berdiri.
“Saya izin, Bu.”
“Duduk, Fajar,” kata Rara.
Anak itu membeku.
Ini pertama kalinya Rara menahan Fajar dengan suara yang tegas. Bukan membentak. Tetapi cukup membuatnya berhenti.
“Duduk dulu,” ulang Rara, lebih pelan.
Fajar duduk kembali. Wajahnya menunduk. Telinganya merah.
Rara menatap seluruh kelas. “Kita berhenti sebentar.”
Tidak ada yang bergerak.
Rara meletakkan buku latihan di meja. Jari-jarinya terkena serbuk kapur yang tadi menempel di papan. Ia mengusapnya perlahan, memberi waktu pada dirinya sendiri agar kalimat berikutnya tidak keluar sebagai amarah yang telanjang.
“Anak-anak,” katanya, “pintar itu bukan hanya cepat menjawab soal. Pintar juga berarti tahu kapan harus menjaga mulut. Tahu kapan teman kita sedang kesulitan. Tahu bahwa setiap orang datang ke kelas membawa beban yang tidak selalu terlihat.”
Putri menatap meja. Tetapi rahangnya masih keras.
“Bu,” katanya, lebih pelan tapi tetap menantang, “kalau semua orang punya alasan, nanti tidak ada yang disiplin.”
Kalimat itu membuat beberapa anak mengangguk kecil. Mungkin karena terdengar benar. Mungkin karena mereka takut tidak setuju dengan Putri.
Rara menarik napas.
“Kamu benar. Disiplin itu penting.”
Putri mengangkat wajah sedikit, seperti merasa menang.
“Tapi disiplin tanpa belas kasih bisa berubah menjadi kekejaman kecil,” lanjut Rara.
Putri terdiam.
Rizal menatap Rara dengan mulut sedikit terbuka, seperti baru mendengar kata yang sulit tetapi menarik.
Fajar tetap menunduk.
“Di dunia ini,” kata Rara, “ada anak yang bisa belajar karena pulang sekolah tinggal makan, mandi, lalu duduk di meja yang lampunya terang. Ada juga anak yang pulang sekolah harus membantu orang tuanya, menjaga adiknya, atau memikirkan sesuatu yang bahkan orang dewasa pun belum tentu sanggup memikulnya.”
Kata-kata itu keluar sebelum Rara sempat menimbangnya. Ia tidak menyebut nama Fajar, tetapi ia tahu seluruh kelas memikirkan Fajar. Ia merasa bersalah sedikit, namun sudah telanjur berada di tengah jalan.
Putri tertawa kecil. Bukan tawa bahagia. Tawa yang kering.
“Kalau begitu semua orang miskin boleh kalah, Bu?”
Ruang kelas terasa seperti menahan napas.
Fajar mengangkat wajahnya sedikit. Hanya sedikit. Matanya tidak menatap Putri, tetapi ke arah papan tulis. Seolah papan tulis bisa menjadi tempat bersembunyi.
Rara menatap Putri lama.
Di balik kalimat itu, ia mendengar suara lain. Mungkin suara Pak Hermawan. Mungkin meja makan besar. Mungkin kalimat yang sering diulang di rumah anak itu: yang kuat menang, yang lambat tertinggal, yang miskin harus menerima tempatnya.