Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #6

BAB 6: DUNIA YANG TIDAK MENGENYANGKAN

Fajar tidak datang ke sekolah keesokan paginya.

Bangkunya kosong sejak bel pertama dipukul. Debu tipis menempel di permukaan mejanya, di atas goresan nama yang mulai pudar. Rizal beberapa kali menoleh ke kursi kosong itu, lalu kembali menatap papan tulis dengan wajah gelisah. Putri duduk di baris depan seperti biasa, alat tulisnya berjajar rapi, rambutnya diikat pita biru tua. Ia tampak tidak terganggu.

Atau mungkin ia terlalu pandai menunjukkan bahwa dirinya tidak terganggu.

Rara mencoba mengajar seperti biasa. Ia menulis soal pemahaman bacaan di papan, menjelaskan pelan-pelan, memberi contoh, lalu meminta anak-anak mengerjakan. Suaranya tetap tenang. Tangannya tetap bergerak. Senyumnya tetap muncul saat seorang anak salah membaca kata “pengorbanan” menjadi “pengorengan”.

Tetapi matanya selalu kembali ke bangku Fajar.

Setiap kali pintu kelas berderit karena angin, Rara menoleh. Setiap kali ada langkah kaki di lorong, dadanya mengira Fajar datang. Tapi sampai jam istirahat, sampai anak-anak membuka bekal, sampai halaman sekolah kembali penuh suara, anak itu tidak muncul.

“Dia memang begitu, Bu,” kata Pak Surya di ruang guru sambil menuang kopi. “Kalau habis ditegur, besoknya hilang. Seperti kucing disiram air.”

Bu Lilis yang sedang memotong pisang goreng menoleh. “Pak Surya ini kalau menyamakan anak dengan binatang kok lancar sekali.”

“Saya menyamakan perilakunya, bukan anaknya.”

“Sama saja pedasnya.”

Pak Surya mengangkat bahu. “Lho, kita ini bicara kenyataan.”

Rara duduk di dekat jendela, memegang gelas teh yang belum ia minum. Di luar, anak-anak berkumpul di bawah pohon mangga. Putri duduk di bangku semen dikelilingi beberapa teman. Dari kejauhan, Rara melihat Putri membuka kotak bekal, lalu anak-anak di sekitarnya mencondongkan badan. Ada tawa kecil, ada mata yang berbinar, ada tangan yang menerima sesuatu.

“Bu Rara,” Pak Damar memanggil pelan.

Rara menoleh.

Pak Damar duduk di kursi seberang, wajahnya tampak lebih lelah dari biasa. “Jangan menyalahkan diri terlalu jauh.”

Kalimat itu membuat Rara menurunkan gelasnya.

“Saya yang mendorongnya di depan kelas, Pak.”

“Saya tidak bilang Ibu tidak salah.”

Rara menatapnya.

Pak Damar menghela napas. “Saya bilang jangan terlalu jauh. Kalau semua guru berhenti berbuat hanya karena takut salah, kita tinggal membagikan buku lalu pulang. Tapi kalau sudah salah, ya dilihat salahnya di mana.”

Rara tersenyum tipis, pahit. “Pak Damar sedang menghibur atau menegur?”

“Dua-duanya. Hemat waktu.”

Bu Lilis tertawa kecil. Bahkan Pak Surya mendengus, entah geli atau tidak setuju.

Rara menatap lagi ke arah halaman. Angin mengangkat debu tipis di sekitar kaki anak-anak. Di bawah pohon, Putri tertawa. Di meja kosong dalam kelas, nama Fajar tetap diam.

“Ibu punya alamat Fajar?” tanya Rara.

Pak Damar terdiam sebentar. “Ada di buku induk. Tapi...”

“Tapi?”

“Jangan datang hari ini dengan wajah guru yang mau menyelamatkan dunia.”

Rara hampir menjawab, tetapi menahan diri.

Pak Damar melanjutkan, “Datanglah sebagai orang yang ingin tahu. Itu lebih aman untuk anak seperti Fajar.”

Kalimat itu menempel di kepala Rara sampai siang.

Namun sebelum ia bisa meminta alamat ke bagian administrasi, Fajar muncul.

Bukan saat pelajaran. Bukan saat istirahat. Bukan saat ada guru yang siap menegur. Ia muncul menjelang pulang, ketika beberapa kelas sudah mulai ribut menutup buku. Fajar berdiri di dekat pintu ruang guru, tubuhnya setengah bersembunyi di balik tiang. Bajunya bukan seragam putih merah, melainkan kaus pudar berwarna abu-abu dan celana pendek lusuh. Di bahunya tergantung karung plastik kosong yang dilipat.

Pak Surya melihatnya lebih dulu.

“Nah, itu anaknya. Baru ingat sekolah?”

Fajar menunduk.

Rara berdiri sebelum kalimat lain telanjur jatuh lebih tajam.

“Fajar.”

Anak itu meliriknya, lalu cepat-cepat menunduk lagi.

“Kamu dari mana?” tanya Pak Surya.

Fajar menggenggam tali karungnya. “Saya...”

Suaranya habis di tengah.

Pak Surya meletakkan gelas. “Kalau ditanya guru itu jawab yang jelas.”

“Pak,” sela Rara pelan.

Pak Surya menoleh. “Apa?”

“Biar saya bicara sebentar.”

Ruang guru menjadi hening beberapa detik. Bu Lilis menatap Fajar dengan kasihan yang berusaha disembunyikan. Pak Damar hanya diam, tetapi matanya memberi isyarat agar Rara berhati-hati.

Rara keluar dari ruang guru. Ia tidak langsung mendekati Fajar. Ia berdiri beberapa langkah darinya, memberi ruang agar anak itu tidak merasa dikepung.

“Kamu mau mengambil sesuatu?” tanya Rara.

Fajar mengangguk kecil. “Buku.”

“Buku yang kemarin Ibu beri?”

Ia menggeleng. “Buku saya. Ketinggalan.”

Rara tahu itu mungkin benar. Mungkin juga alasan. Tetapi ia memilih tidak membongkarnya di depan guru lain.

“Kita ambil sama-sama?”

Fajar tampak ragu. Ia melirik ruang guru, lalu mengangguk.

Mereka berjalan menuju kelas lima. Lorong sekolah sudah mulai sepi. Dari beberapa kelas terdengar suara anak-anak membaca doa pulang. Di halaman, matahari siang membuat tanah terlihat lebih pucat. Angin membawa debu halus dari arah lapangan belakang, cukup untuk membuat Rara menyipitkan mata.

Fajar berjalan setengah langkah di belakang Rara.

Rara sengaja memperlambat langkah.

“Kamu tidak masuk hari ini,” katanya.

Fajar tidak menjawab.

“Kamu sakit?”

“Tidak.”

“Kalau begitu?”

Fajar menatap lantai semen. Sandalnya aus. Tumitnya pecah-pecah halus. Ada luka kecil di dekat mata kakinya, mengering kecokelatan.

“Saya ada kerja,” katanya akhirnya.

Rara berhenti.

Fajar ikut berhenti, tetapi tidak menatapnya.

“Kerja apa?”

Lihat selengkapnya