Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #7

BAB 7: RUMAH YANG HAMPIR ROBOH

Alamat Fajar tidak tertulis rapi di buku administrasi mana pun.

Setidaknya, tidak seperti alamat yang biasa Rara temukan di formulir sekolah. Tidak ada nama jalan yang jelas, tidak ada nomor rumah, tidak ada patokan yang membuat seseorang dari kota bisa merasa aman ketika mencarinya. Di buku induk, kolom alamat Fajar hanya berisi tulisan tangan yang agak miring: Dusun Krajan Lor, belakang kebun bambu, dekat bekas penggilingan.

Rara membaca tulisan itu tiga kali.

Belakang kebun bambu.

Dekat bekas penggilingan.

Kata-kata itu terdengar lebih seperti petunjuk berburu harta karun daripada alamat rumah seorang murid. Tetapi mungkin begitulah cara desa mengingat tempat. Bukan dengan angka, melainkan dengan pohon, tikungan, warung, sumur tua, rumah orang yang sudah meninggal, dan bangunan yang tidak lagi dipakai tetapi tetap menjadi penanda.

“Bu Rara benar mau ke sana?” tanya Bu Lilis.

Rara menutup buku induk pelan. “Saya hanya ingin memastikan keadaan Fajar.”

Bu Lilis memandang ke arah pintu ruang guru, memastikan Pak Surya tidak sedang mendengarkan. “Kalau mau ke rumah Fajar, jangan terlalu sore. Jalan ke sana agak sepi.”

“Jauh?”

“Tidak terlalu jauh kalau pakai motor. Tapi kalau pakai sepeda...” Bu Lilis melirik ke halaman, tempat sepeda jengki Rara bersandar di bawah pohon mangga. “Lumayan bikin betis ingat umur.”

Rara tersenyum kecil. “Betis saya masih bisa diajak berunding.”

Bu Lilis tidak ikut tertawa. Wajahnya justru melunak dengan cara yang membuat Rara merasa akan mendengar sesuatu yang berat.

“Bu,” katanya lebih pelan, “hati-hati kalau bertanya pada Fajar. Anak itu... keras karena sering malu.”

Rara menatapnya.

“Bukan keras seperti anak nakal,” lanjut Bu Lilis. “Keras seperti nasi kemarin yang lupa ditutup. Bukan salah nasinya, tapi sudah telanjur kena angin semalaman.”

Perumpamaan itu sederhana, hampir lucu, tetapi Rara tidak tertawa.

Ia hanya mengangguk.

Sepulang sekolah, Rara tidak langsung pulang ke rumah neneknya. Ia mengayuh sepeda melewati jalan kecil yang kemarin sempat ia ikuti sampai dekat kebun bambu. Matahari condong ke barat, tetapi panasnya masih tersisa di punggung. Rantai sepeda mengeluarkan bunyi halus, tik-tik-tik, setiap kali pedal bergerak.

Di keranjang kecil yang ia pasang seadanya di depan sepeda, ada satu kantong plastik berisi roti tawar, dua bungkus susu kotak, dan beberapa pisang. Ia membelinya di warung Bu Karti dengan sisa uang yang sudah ia hitung sebelum berangkat. Tidak banyak. Tidak mewah. Ia bahkan sempat berdiri terlalu lama di depan rak warung, menimbang apakah harus membeli susu atau menunda karena uangnya makin tipis.

Pada akhirnya ia membeli dua.

Satu untuk adik Fajar, jika benar anak itu ada.

Satu lagi entah untuk siapa. Mungkin untuk keberaniannya sendiri.

Jalan menuju Dusun Krajan Lor mulai menyempit setelah melewati rumah-rumah terakhir yang temboknya masih bercat. Aspal berubah menjadi jalan tanah bercampur kerikil. Di kiri kanan, kebun warga tumbuh tidak beraturan: pisang, singkong, pepaya, semak liar, dan bambu yang batangnya saling bergesekan jika angin lewat. Suara gesekan itu membuat suasana terasa seperti ada orang berbisik dari balik daun.

Rara berhenti di depan warung kecil yang hampir tutup. Seorang perempuan tua sedang memasukkan gorengan sisa ke dalam baskom.

“Permisi, Bu,” sapa Rara. “Saya mau tanya rumahnya Fajar. Murid kelas lima SDN 1 Wisnu Bakti.”

Perempuan itu menoleh. Matanya menyipit sebentar, menilai Rara dari kerudung, tas, sampai sepeda tua yang ia tuntun.

“Fajar anaknya Joko?”

“Mungkin, Bu. Ayahnya Pak Joko?”

“Iya.” Perempuan itu menghela napas. “Lurus terus, nanti ketemu kebun bambu. Setelah itu ada bekas penggilingan padi. Rumahnya lewat sedikit, yang miring dekat pohon randu.”

“Rumah yang miring?”

Perempuan tua itu menutup baskom. “Nanti juga tahu sendiri.”

Ada rasa tidak enak yang bergerak di dada Rara.

“Terima kasih, Bu.”

“Mbak guru baru itu ya?”

Rara mengangguk. “Iya.”

Perempuan itu menatapnya lebih lama. “Fajar itu anaknya ndak banyak omong. Kalau kelihatan susah diajak bicara, jangan langsung dikira kurang ajar.”

Rara terdiam.

Hari itu, sudah dua orang mengatakan hal yang hampir sama dengan cara berbeda.

Keras karena malu.

Diam bukan kurang ajar.

“Baik, Bu,” jawab Rara pelan.

Rara kembali mengayuh sepeda.

Semakin dekat ke kebun bambu, udara semakin lembap. Tanah di beberapa bagian becek meski tidak hujan. Bau daun busuk bercampur dengan bau barang-barang bekas yang lama tersimpan. Rara belum memikirkan apa pun selain satu hal: Fajar melewati jalan seperti ini hampir setiap hari.

Rara memperlambat kayuhan.

Di depan, bekas penggilingan padi berdiri seperti tulang bangunan yang dilupakan. Dindingnya sebagian roboh, atap sengnya berkarat, dan di lantainya tumbuh rumput liar. Mesin penggiling yang sudah tidak dipakai tampak dari celah pintu, hitam, diam, seperti hewan besar yang mati berdiri.

Rara melewatinya.

Lalu ia melihat rumah itu.

Ia langsung tahu, bahkan sebelum melihat pohon randu di sampingnya.

Rumah itu memang miring.

Bukan miring sedikit seperti bangunan tua yang kalah oleh waktu, melainkan miring dengan cara yang membuat orang ingin menahan napas saat mendekat. Dindingnya dari papan, beberapa bagian ditambal seng bekas dan terpal biru yang sudah pudar. Tiang depannya menyangga atap dengan sudut yang tidak meyakinkan. Gentingnya banyak yang bergeser. Di bawah jendela, ada ember pecah, sandal anak-anak yang talinya putus, dan tumpukan karung plastik.

Halamannya kecil. Tanahnya keras dan kering di bagian depan, tetapi dekat parit belakang tampak lembap kehitaman. Tidak ada bunga. Tidak ada pagar. Hanya seutas tali jemuran yang melintang dari tiang rumah ke batang randu, digantungi dua baju lusuh dan satu kain sarung yang sudah sangat tipis.

Rara turun dari sepeda.

Kakinya menjejak tanah yang berdebu. Ia menuntun sepeda pelan sampai dekat halaman, lalu berhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena lelah mengayuh.

Dari dalam rumah terdengar suara batuk.

Dalam. Kasar. Panjang.

Batuk itu bukan batuk orang masuk angin. Bunyinya seperti sesuatu di dalam dada sedang dipaksa keluar tetapi tersangkut di tempat yang salah.

Rara menggenggam setang sepeda lebih kuat.

Ia hampir memanggil salam, tetapi sebelum suaranya keluar, tirai kain di pintu bergerak.

Seorang anak perempuan kecil muncul.

Usianya mungkin lima tahun, mungkin enam. Sulit menebaknya karena tubuhnya terlalu kurus. Rambutnya diikat dua, tetapi ikatan sebelah kiri hampir lepas. Bajunya kebesaran, warna kuningnya sudah pudar menjadi seperti kunyit yang terlalu lama direndam air. Di pipinya ada bekas debu, dan di tangan kanannya ia memegang sendok alumunium.

Anak itu menatap Rara.

Rara menatap anak itu.

Beberapa detik berlalu tanpa kata.

“Assalamu’alaikum,” kata Rara akhirnya, lembut.

Lihat selengkapnya