Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #8

BAB 8: AYAH YANG MALU KARENA TAK BERDAYA

Ketika tubuh Pak Joko merosot untuk kedua kalinya, Fajar tidak lagi punya tenaga untuk menolak.

Anak itu berlutut di samping ayahnya, kedua tangannya menahan bahu kurus yang terasa seperti bisa patah jika digenggam terlalu kuat. Wajah Fajar pucat. Seluruh keberanian yang tadi ia pakai untuk menolak Bu Rara datang, untuk menjaga harga diri keluarganya, untuk berkata bahwa dunia Bu Rara jauh, runtuh begitu saja di depan napas ayahnya yang tersengal.

“Pak,” bisiknya. “Pak, dengar saya?”

Pak Joko membuka mata, tetapi pandangannya tidak benar-benar menempel pada wajah Fajar. Bibirnya bergerak sedikit. Suara yang keluar hanya desah patah.

Bilqis berdiri di dekat tungku, memegang susu kotak dengan dua tangan. Sedotan yang belum dibuka masih menempel di plastiknya. Matanya membesar, tetapi ia tidak menangis. Anak itu seperti sudah belajar bahwa menangis kadang membuat orang dewasa makin panik.

Rara merasakan telapak tangannya basah oleh keringat.

Ia bukan dokter. Ia tidak punya hak untuk menyimpulkan apa pun. Tetapi melihat napas Pak Joko yang pendek, warna pucat di sekitar bibirnya, dan tangan yang bergetar tanpa kendali, satu hal terasa jelas: keluarga ini tidak bisa terus menunggu.

“Fajar,” kata Rara, berusaha membuat suaranya tetap tenang, “kita bawa Bapak ke klinik sekarang.”

Fajar menoleh. Matanya merah, tapi belum menangis. “Pakai apa?”

Pertanyaan itu menghentikan Rara lebih cepat daripada penolakan.

Pakai apa.

Di kota, dalam keadaan panik, orang mungkin membuka ponsel, memesan kendaraan, menelepon ambulans, mencari kontak rumah sakit. Di rumah Fajar, pertanyaan pertama bukan ke mana, melainkan pakai apa. Sebuah kalimat pendek yang di dalamnya sudah ada kemiskinan, jarak, dan rasa takut terhadap biaya.

Rara menatap sepeda jengkinya di luar, bersandar di bawah pohon randu. Tidak mungkin. Pak Joko tidak akan sanggup duduk di boncengan. Berjalan kaki jelas mustahil. Rumah terdekat pun tampak jauh dari bantuan yang cukup.

“Di dekat sini ada becak?” tanya Rara.

Fajar menggeleng cepat. “Jarang lewat.”

“Motor tetangga?”

“Tidak ada yang bisa dipakai.” Suaranya makin rendah. “Kalau ada pun...”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Rara paham.

Kalau ada pun harus membayar. Kalau ada pun harus berutang budi. Kalau ada pun keluarga ini sudah terlalu sering menelan rasa malu untuk meminta.

Pak Joko batuk lagi. Kali ini tubuhnya membungkuk sampai dahi hampir menyentuh lutut. Suaranya kering, kasar, seperti ranting dipatahkan berkali-kali. Fajar memegang punggung ayahnya, menepuk pelan dengan gerakan kikuk.

“Sudah, Pak. Sudah...”

Pak Joko mengangkat tangan, memberi isyarat agar anaknya berhenti cemas, tetapi gerakan itu justru tampak menyedihkan. Jari-jarinya kurus, kukunya menghitam di beberapa bagian. Ada luka kecil yang tampak lama tidak benar-benar sembuh.

“Ndak usah,” ucap Pak Joko setelah batuknya reda. “Bapak cuma... masuk angin.”

“Bapak jangan bohong,” kata Fajar.

Pak Joko tersenyum lemah. “Anak kecil kok berani bilang bapaknya bohong.”

Fajar menunduk. Bibirnya bergetar, tetapi ia menahannya rapat-rapat.

Rara berdiri. “Saya cari kendaraan.”

Fajar langsung menatapnya. “Bu, jangan—”

“Fajar.” Kali ini suara Rara lebih tegas. “Nanti kamu boleh marah kepada Ibu. Boleh bilang Ibu ikut campur. Tapi sekarang Bapakmu harus diperiksa.”

Anak itu terdiam.

Rara keluar rumah. Udara sore menyambutnya dengan bau debu, daun randu, dan karung rongsok yang tergeletak di dekat pintu. Ia menuntun sepeda cepat-cepat ke jalan tanah, lalu mengayuh ke arah warung tua yang tadi ia lewati. Rantai sepeda berbunyi lebih keras karena ia mengayuh terburu-buru.

Di warung, perempuan tua tadi sedang menutup papan jendela.

“Bu!” panggil Rara, napasnya memburu.

Perempuan itu menoleh kaget. “Ada apa, Mbak Guru?”

“Pak Joko kambuh. Saya perlu kendaraan ke klinik. Di sini ada becak? Motor bak? Apa saja?”

Wajah perempuan itu berubah. “Joko kambuh lagi?”

“Lagi?”

Perempuan tua itu tidak menjawab pertanyaan itu. Ia meletakkan papan jendela, lalu berteriak ke arah rumah sebelah. “Min! Min! Becakmu masih ada?”

Seorang lelaki kurus keluar dari belakang rumah, kausnya basah oleh keringat, sarungnya digulung setengah paha. “Ada apa, Mak?”

“Joko mau dibawa ke klinik.”

Lelaki itu memandang Rara sebentar, lalu wajahnya mengeras oleh pemahaman. “Sebentar.”

Ia menghilang ke samping rumah. Tidak lama kemudian, suara roda besi terdengar berderit. Sebuah becak tua muncul, catnya mengelupas, joknya ditambal plastik hitam, dan sandaran penumpangnya miring sedikit. Bukan kendaraan yang layak untuk orang sakit parah, tetapi itulah satu-satunya yang muncul.

“Bisa, Pak?” tanya Rara.

Lelaki itu mengangguk. “Bisa. Tapi jalannya pelan, Bu. Kalau lewat jalan utama agak muter.”

“Tidak apa-apa. Yang penting sampai.”

Perempuan tua itu menatap Rara. “Uang belakangan saja. Jangan ribut soal uang sekarang.”

Rara mengangguk, tetapi dadanya terasa tertusuk. Bahkan dalam keadaan genting, uang tetap berdiri di pintu seperti penjaga yang tidak punya belas kasihan.

Mereka kembali ke rumah Fajar.

Saat becak berhenti di depan halaman, Fajar sudah menyiapkan sarung untuk ayahnya. Bilqis berdiri di samping pintu dengan wajah tegang. Pak Joko berusaha tersenyum ketika melihat becak, seolah ia bukan orang yang hendak dibawa dalam keadaan hampir roboh, melainkan tamu yang merepotkan tuan rumah.

“Wah,” katanya lirih, “sampai pakai rombongan.”

“Bapak diam dulu,” kata Fajar, suaranya pecah.

Pak Joko menatap anaknya. Senyum itu melemah.

Rara membantu dari sisi kiri, Fajar dari sisi kanan, lelaki pemilik becak menopang dari belakang. Mengangkat Pak Joko ke becak ternyata jauh lebih sulit daripada yang Rara bayangkan. Tubuhnya ringan, tetapi kelemahannya membuat setiap gerakan tidak stabil. Kakinya seperti tidak patuh pada lantai. Tangannya mencari pegangan, gagal, lalu menggenggam lengan Fajar terlalu kuat.

“Maaf,” bisik Pak Joko.

Fajar menggeleng cepat. “Tidak apa-apa.”

“Bapak berat, ya?”

“Tidak, Pak.”

Lihat selengkapnya