Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #9

BAB 9: SURAT KETERANGAN TIDAK MAMPU

Di klinik kecil bercat hijau itu, kemiskinan tidak datang sambil berteriak.

Ia duduk diam di kursi panjang, memakai sandal putus yang disambung kawat, memeluk kantong plastik berisi obat, menatap lantai saat perawat menyebut biaya, lalu tersenyum malu seolah penyakit adalah kesalahan pribadi.

Rara baru benar-benar melihatnya sore itu.

Sebelumnya, kemiskinan baginya adalah data dalam jurnal pendidikan, angka dalam laporan desa, cerita dalam seminar pengabdian, atau wajah anak-anak yang datang ke sekolah dengan seragam kusam. Ia tahu kemiskinan ada. Ia tahu dampaknya besar. Ia bahkan pernah menulis makalah tentang bagaimana kondisi ekonomi keluarga memengaruhi prestasi belajar anak.

Namun di klinik itu, kemiskinan punya nama.

Pak Joko.

Fajar.

Bilqis.

Dan ketiganya sedang duduk di ruang tunggu dengan cara yang membuat dada Rara terasa seperti diremas pelan-pelan.

Pak Joko sudah diberi penanganan awal. Napasnya sedikit lebih teratur, meski wajahnya masih pucat. Dokter menyarankan agar ia segera dirujuk ke rumah sakit besar di kota kabupaten. Kata segera itu menggantung di atas mereka seperti lampu yang terlalu terang: semua orang bisa melihatnya, tetapi tidak semua mampu mencapainya.

Fajar berdiri dekat pintu ruang periksa, kedua tangannya menggenggam tali tas kain. Tali itu sudah kusut, dan jemarinya mencengkeram terlalu kuat sampai kulit di buku jarinya menegang. Bilqis duduk di kursi panjang, kaki kecilnya menggantung tidak sampai menyentuh lantai. Susu kotak yang tadi dibawa Rara sudah ia habiskan setengah, tetapi sedotannya kini ia gigit-gigit tanpa sadar.

Rara berdiri di depan meja administrasi klinik, menghitung uang di dalam dompet.

Lembar lima puluh ribu.

Dua lembar dua puluh ribu.

Beberapa lembar sepuluh ribu.

Uang receh yang bunyinya terlalu jujur ketika bergesekan.

Ia menghitung sekali. Lalu menghitung lagi. Tidak berubah.

Jumlah itu cukup untuk membayar biaya pemeriksaan awal dan obat sementara. Mungkin juga ongkos becak pulang. Tetapi untuk rujukan, transportasi, biaya rumah sakit, pemeriksaan lanjutan, rawat inap, obat, makan anak-anak, dan kebutuhan lain yang akan muncul seperti lubang baru di jalan rusak, uang itu tidak berarti banyak.

Rara menutup dompet.

Perawat di meja administrasi menatapnya dengan wajah yang berusaha tetap netral.

“Untuk malam ini, obat sementara dulu bisa dibawa, Bu,” kata perawat itu. “Tapi surat rujukan sudah dibuat. Kalau bisa jangan ditunda terlalu lama.”

“Kalau memakai surat keterangan tidak mampu?” tanya Rara.

Perawat itu mengangguk pelan. “Bisa membantu proses keringanan. Tapi harus ada surat dari kelurahan atau desa. Biasanya juga perlu KTP, KK, dan surat pendukung lain. Kalau ada BPJS aktif lebih baik, tapi tadi anaknya bilang belum ada.”

Rara menoleh ke Fajar.

Fajar menunduk lebih dalam.

“KTP Pak Joko ada?” tanya Rara pelan.

Fajar mengangguk. “Mungkin.”

“Mungkin?”

“Di rumah. Di kotak. Dulu Bapak yang simpan.”

“KK?”

Fajar diam sebentar. “Ada. Kayaknya.”

Rara tidak mengoreksi kata kayaknya. Di rumah seperti rumah Fajar, dokumen bukan benda yang hidup di map khusus dengan label rapi. Dokumen bisa terselip di bawah tumpukan kain, di dalam plastik bekas gula, di sela lemari reyot, atau hilang dimakan rayap bersama rasa tenang.

Dokter keluar dari ruang periksa dan menghampiri mereka. Wajahnya masih serius, tetapi suaranya lebih lembut daripada tadi.

“Pak Joko sudah boleh dibawa pulang dulu kalau belum bisa langsung dirujuk, tapi jangan dibiarkan sendirian. Kalau sesak lagi, muntah, kesadaran menurun, atau batuk darah lebih banyak, segera bawa ke rumah sakit. Tidak usah menunggu.”

Fajar mengangguk cepat, seperti anak yang berusaha menyimpan semua perintah di kepala padahal kepalanya sudah penuh.

“Bu,” panggil Rara. “Menurut dokter, penyebabnya apa?”

Dokter menatap Rara sebentar, lalu melirik Fajar dan Bilqis. Ia tampak menimbang kata.

“Belum bisa dipastikan tanpa pemeriksaan lebih lengkap,” jawabnya. “Ada kemungkinan gangguan paru dan saraf, bisa karena infeksi, bisa karena paparan tertentu, bisa juga kombinasi kondisi lama. Riwayat pekerjaannya bagaimana?”

“Memulung,” jawab Rara.

“Di area seperti apa?”

Fajar langsung menegang.

Rara menangkap itu. “Di area pembuangan barang bekas, Dok. Banyak logam, kabel, mungkin cairan dari barang-barang bekas. Tapi kami belum tahu pasti.”

Dokter mengangguk lambat. “Kalau ada riwayat paparan bahan kimia atau logam berat, itu harus diperiksa lebih serius. Tapi sekali lagi, jangan langsung menyimpulkan. Yang penting sekarang kondisi fisiknya distabilkan dan diperiksa lengkap.”

Rara mengangguk. “Baik, Dok.”

Fajar menatapnya. Ada kecurigaan kecil di matanya. Mungkin ia takut Rara akan mengubah sakit ayahnya menjadi cerita yang disebarkan orang. Mungkin ia takut kata bahan kimia terdengar seperti masalah besar yang tidak sanggup ia hadapi. Atau mungkin ia hanya takut pada semua kata yang tidak bisa dibayar dengan uang receh hasil memulung.

Pak Joko keluar dibantu perawat. Ia berjalan pelan, satu tangan memegang dinding. Wajahnya tampak malu sebelum siapa pun sempat melihatnya.

“Bikin repot saja,” katanya pelan.

Fajar mendekat cepat. “Jangan jalan sendiri, Pak.”

“Bapak masih bisa.”

“Pegangan.”

“Dilihat orang.”

“Biar.”

Satu kata itu keluar dari Fajar dengan keras yang tidak biasa. Pak Joko menoleh kepada anaknya. Beberapa detik, ayah dan anak itu saling menatap. Yang satu malu karena tidak berdaya. Yang satu marah karena terlalu takut kehilangan.

Rara membayar biaya klinik. Saat uang berpindah dari tangannya ke laci administrasi, ada rasa kosong yang langsung terasa. Ia tidak menyesal, tetapi ia sadar: niat baik pun punya batas jika tidak segera menemukan jalan lain.

Lihat selengkapnya