Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #10

BAB 10: SENYUM PAK JAROT

Kantor kelurahan Desa Wisnu Bakti berdiri di tepi jalan utama, tidak jauh dari lapangan kecil tempat anak-anak biasa bermain bola saat sore.

Bangunannya dicat krem, tetapi warna itu sudah kusam oleh panas dan debu. Di depan pintu masuk, tiang bendera berdiri tegak dengan tali yang bergesekan pelan tertiup angin. Ada papan nama besar bertuliskan KANTOR KELURAHAN WISNU BAKTI, hurufnya biru tua, beberapa bagian catnya mulai mengelupas. Di samping papan itu, tertempel poster pelayanan masyarakat: senyum petugas, prosedur administrasi, dan kalimat besar tentang pelayanan cepat, mudah, dan transparan.

Rara membaca kalimat itu sambil menuntun sepeda jengkinya ke tempat parkir.

Cepat.

Mudah.

Transparan.

Tiga kata yang terdengar gagah di atas kertas. Rara ingin mempercayainya. Ia tahu banyak petugas bekerja sungguh-sungguh, tetapi ia juga tahu bagi orang miskin yang membawa dokumen lusuh dalam map plastik, satu meja yang lambat saja bisa terasa seperti tembok.

Di belakangnya, Fajar berjalan dengan langkah kaku. Ia memakai seragam sekolah, tetapi bajunya tidak benar-benar rapi. Kerahnya agak miring, rambutnya belum sempat disisir sempurna, dan matanya menyimpan bekas kurang tidur. Di tangan kirinya, ia memegang map plastik berisi KTP Pak Joko, KK, surat rujukan, dan beberapa fotokopi yang semalam mereka susun sampai larut.

Bilqis tidak ikut. Pagi tadi anak itu dititipkan sebentar kepada tetangga, meski Fajar tampak tidak tenang meninggalkannya. Pak Joko juga tidak ikut ke kelurahan karena tubuhnya masih terlalu lemah. Rara sempat berpikir membawa Pak Joko akan membuat permohonan mereka lebih cepat dipercaya, tetapi membayangkan laki-laki itu duduk di ruang tunggu dengan napas tersengal hanya demi membuktikan bahwa ia benar-benar miskin membuat dada Rara terasa sakit.

Maka mereka datang berdua.

Guru dan murid.

Satu membawa keberanian yang belum tentu cukup. Satu membawa rasa malu yang terlalu lama dipaksa tunduk.

“Fajar,” kata Rara sebelum masuk, “kalau nanti ada yang bertanya, jawab pelan-pelan saja. Tidak perlu takut.”

Fajar menatap pintu kantor. “Saya tidak takut.”

Rara tidak membantah.

Anak itu memang tidak tampak takut. Ia tampak seperti orang yang sedang menahan diri agar tidak terlihat membutuhkan siapa pun.

Mereka masuk.

Ruang pelayanan kelurahan tidak terlalu luas. Ada beberapa kursi plastik berjajar, meja petugas dengan kaca pembatas rendah, kalender besar di dinding, dan kipas angin yang berputar malas. Bau kertas lama, tinta stempel, keringat orang menunggu, dan kopi hitam bercampur di udara.

Di sudut ruangan, seorang ibu menggendong bayi sambil mengipas-ngipas dengan map. Seorang bapak tua duduk memegang surat tanah, bibirnya komat-kamit membaca sesuatu. Dua pemuda bersandar di dekat pintu sambil memainkan ponsel. Di balik meja pelayanan, seorang petugas perempuan menulis di buku besar, wajahnya tidak ramah tetapi juga tidak galak. Lebih tepatnya: lelah.

Rara mengambil nomor antrean dari kotak kecil.

Nomor dua belas.

Di layar panggilan, baru nomor tujuh.

Fajar duduk di kursi paling ujung. Ia menaruh map di pangkuan dan memegangnya dengan dua tangan. Rara duduk di sebelahnya. Di dekat kaki mereka, lantai keramik terasa dingin, tetapi udara ruangan tetap panas.

“Sudah makan?” tanya Rara pelan.

Fajar menggeleng.

Rara menoleh. “Kenapa?”

“Tidak sempat.”

Rara membuka tasnya, mengeluarkan satu roti kecil yang ia beli di warung sebelum berangkat. “Makan ini.”

Fajar langsung menggeleng. “Tidak usah.”

“Fajar.”

“Saya tidak lapar.”

Perutnya berbunyi pelan.

Rara mendengarnya. Fajar juga mendengarnya. Anak itu menunduk, wajahnya menegang oleh malu.

Rara tidak berkomentar. Ia hanya meletakkan roti itu di atas map Fajar.

“Kalau nanti lapar, makan.”

Fajar menatap roti itu lama. Tangannya tidak menyentuh, tetapi ia juga tidak mengembalikannya.

Nomor delapan dipanggil.

Seorang ibu berdiri dan mendekat ke meja. Suaranya rendah, memohon sesuatu tentang surat domisili anaknya. Petugas menjawab dengan kalimat pendek. Ada kata “kurang fotokopi”, “RT”, “besok lagi”. Ibu itu menunduk, menggendong bayinya lebih erat, lalu kembali duduk dengan wajah kosong.

Fajar melihatnya.

“Kalau kurang satu kertas, kita juga disuruh pulang?” tanyanya.

“Mungkin,” jawab Rara jujur.

“Kalau begitu kenapa datang?”

“Karena kalau tidak datang, kita pasti tidak mendapat apa-apa.”

Fajar diam.

Nomor demi nomor berjalan lambat. Setiap orang datang membawa masalah yang menurut mereka mendesak, tetapi di meja pelayanan semuanya berubah menjadi berkas. Nama, tanggal lahir, alamat, tanda tangan, stempel. Hidup seseorang diperkecil menjadi kolom yang harus diisi benar.

Ketika nomor dua belas dipanggil, Fajar berdiri terlalu cepat sampai mapnya hampir jatuh. Rara menahannya.

“Pelan.”

Mereka mendekat ke meja.

Petugas perempuan itu mengangkat wajah. “Keperluan?”

Rara menjawab, “Mengurus surat keterangan tidak mampu untuk rujukan rumah sakit. Atas nama Bapak Joko, ayah dari Fajar.”

Petugas mengulurkan tangan. “Berkasnya.”

Fajar menyerahkan map. Petugas membuka satu per satu. KTP. KK. Surat rujukan klinik. Fotokopi. Surat keterangan dari RT yang pagi tadi mereka dapatkan dengan tergesa setelah Rara mendatangi rumah ketua RT sebelum sekolah dimulai.

Petugas membaca tanpa ekspresi.

“Fotokopi KK kurang satu.”

Fajar langsung menatap Rara.

Rara menarik napas. “Bisa difotokopi di dekat sini, Bu?”

“Depan jalan ada. Tapi tunggu dulu. Ini nama istrinya masih tercantum, status belum diperbarui.”

“Ibu Fajar sudah meninggal, Bu,” kata Rara.

Petugas menatap Fajar sebentar, lalu kembali ke berkas. “Surat kematian ada?”

Fajar mengeluarkan kertas dari saku bajunya. Kertas itu dilipat kecil, pinggirnya mulai rapuh. Ia menyerahkannya dengan gerakan hati-hati.

Petugas membukanya. “Ini fotokopinya?”

“Aslinya,” jawab Fajar.

“Fotokopi juga harus ada.”

Fajar menutup mata sebentar.

Rara merasakan bahu anak itu menegang di sampingnya.

“Kami fotokopi sekalian,” kata Rara cepat. “Ada lagi yang kurang, Bu?”

Petugas memeriksa. “Sebenarnya harus ada pengantar RW juga. Tapi bisa menyusul kalau lurah acc. Tunggu sebentar.”

Ia berdiri membawa berkas itu ke ruangan belakang.

Fajar menatap punggung petugas itu seperti menatap pintu yang mungkin tidak terbuka.

“Bu,” katanya pelan, “kalau disuruh pulang, saya kerja saja.”

“Kita belum disuruh pulang.”

“Tadi ibu itu disuruh besok lagi.”

“Kita usahakan hari ini.”

“Kalau tidak bisa?”

Lihat selengkapnya