Pukul tujuh malam, Desa Wisnu Bakti tidak benar-benar gelap.
Di beberapa rumah, lampu kuning menyala redup dari balik jendela. Di warung Bu Karti, suara televisi terdengar pecah, bercampur tawa dua orang bapak yang sedang minum kopi. Dari musala kecil dekat pertigaan, suara anak-anak mengaji masih mengalun, kadang serempak, kadang saling mendahului. Di kejauhan, anjing menggonggong pendek, lalu diam.
Namun di jalan menuju rumah Fajar, gelap terasa lebih tebal.
Rara duduk di bangku becak tua yang baru saja meninggalkan halaman rumah sakit kabupaten. Tubuhnya lelah sampai ke tulang. Di pangkuannya, tas kain berisi dokumen Pak Joko, kuitansi, surat rujukan, dan beberapa catatan kecil terasa lebih berat daripada seharusnya. Di sisi lain, Bilqis tertidur dengan kepala menempel pada lengan Rara, napasnya kecil-kecil, masih menyisakan bau susu dan obat dari ruang tunggu rumah sakit.
Pak Joko sudah berada di bangsal.
Akhirnya.
Semua itu terjadi setelah surat dari kelurahan selesai, setelah ambulans desa yang dijanjikan Pak Jarot benar-benar datang menjelang sore, setelah perjalanan yang dipenuhi batuk tertahan dan wajah Fajar yang kaku seperti batu, setelah pendaftaran rumah sakit yang membuat Rara berkali-kali membuka map, menandatangani berkas, menjelaskan ulang, dan menahan diri agar tidak tampak panik.
Pak Joko belum sembuh. Jauh dari sembuh.
Dokter rumah sakit hanya mengatakan kondisi Pak Joko harus dipantau. Pemeriksaan lanjutan masih diperlukan. Ada gangguan pernapasan, kelemahan tubuh, dan kemungkinan paparan jangka panjang yang perlu ditelusuri. Tidak ada kepastian yang cukup menenangkan. Namun malam itu, setidaknya Pak Joko tidak lagi berbaring di rumah miring yang tiangnya seperti menunggu roboh. Ia berada di tempat yang memiliki oksigen, perawat, obat, dan lampu putih yang menyala sepanjang malam.
Bagi Rara, itu sudah seperti memenangkan sesuatu.
Bagi Fajar, mungkin itu masih terlalu asing untuk disebut kemenangan.
Anak itu tidak ikut pulang bersama Rara dan Bilqis. Tadi, ketika Pak Joko sudah dipindahkan ke bangsal, Fajar menolak meninggalkan ayahnya. Ia duduk di kursi plastik dekat ranjang, masih memakai seragam sekolah yang kusut, tangan menggenggam ujung selimut Pak Joko seperti takut ayahnya akan hilang jika dilepas.
“Fajar, kamu perlu pulang sebentar,” kata Rara waktu itu. “Ambil pakaian, makan, istirahat.”
Fajar menggeleng.
“Bapak sudah ditangani.”
“Saya tunggu.”
“Bilqis juga perlu pulang.”
Fajar menatap adiknya yang tertidur di kursi ruang tunggu, kepalanya terkulai, sandal kecilnya hampir lepas. Wajahnya berubah. Ada rasa bersalah yang lewat di sana.
“Ibu antar Bilqis pulang dulu,” kata Rara. “Kamu tinggal di sini sebentar. Nanti kalau sudah bisa, pulang ambil barang. Atau Ibu kembali.”
Fajar menatapnya. “Ibu tidak usah balik.”
“Kenapa?”
“Sudah terlalu banyak.”
Kalimat itu membuat Rara diam.
Sudah terlalu banyak.
Terlalu banyak uang. Terlalu banyak waktu. Terlalu banyak bantuan. Terlalu banyak rasa malu yang harus ia tanggung karena menerima semua itu dari seorang guru yang baru beberapa minggu mengenalnya.
Rara tidak memaksa. Ia hanya menitipkan uang kecil untuk makan, yang awalnya Fajar tolak, lalu akhirnya ia letakkan diam-diam di bawah kotak obat Pak Joko. Entah anak itu sudah menemukannya atau belum.
Sekarang, dalam becak yang bergerak pelan menuju rumah Fajar, Rara merasa tubuhnya seperti kertas basah. Ia belum makan dengan benar sejak pagi. Sisa teh manis di kantin rumah sakit masih meninggalkan rasa getir di lidah. Kerudungnya berbau keringat, debu jalan, dan aroma karbol rumah sakit.
Becak berderit saat melewati jalan berlubang.
Bilqis terbangun sedikit. “Bapak?”
“Bapak di rumah sakit,” jawab Rara lembut. “Tidur lagi, Qis.”
“Mas Fajar?”
“Mas Fajar jaga Bapak dulu.”
Bilqis mengangguk dalam kantuk, lalu kembali memejamkan mata.
Rara menatap wajah kecil itu. Ada lingkar gelap di bawah matanya, terlalu nyata untuk anak seusianya. Bilqis seharusnya mengantuk karena bermain terlalu lama, bukan karena menunggu hasil pemeriksaan ayahnya. Ia seharusnya memegang boneka, bukan map lusuh. Ia seharusnya belajar menyanyi di TK, bukan menghafal letak KTP dan kartu keluarga dalam kaleng biskuit.
Becak berhenti di depan rumah Fajar.
Rumah itu tampak lebih rapuh dalam gelap. Lampu kecil di dalam menyala redup, membuat celah-celah papan tampak seperti garis luka. Pohon randu di samping rumah berdiri diam, bayangannya jatuh miring ke tanah. Di teras, karung rongsok Fajar masih tergeletak, seolah hari belum selesai menagih pekerjaannya.
“Terima kasih, Pak,” kata Rara kepada tukang becak.
Lelaki itu mengangguk. “Besok kalau perlu ke rumah sakit lagi, panggil saja lewat warung.”
Rara membayar dengan uang yang lagi-lagi membuat dompetnya menipis. Tukang becak sempat menolak setengah ongkos, tetapi Rara tetap memaksa membayar. Ia tidak ingin kebaikan orang lain terus-menerus ikut terbebani oleh krisis yang belum jelas kapan selesai.
Ia membangunkan Bilqis pelan.
“Sudah sampai, Qis.”
Bilqis membuka mata, bingung sebentar, lalu turun dari becak dengan langkah limbung. Rara membimbingnya masuk ke rumah. Di dalam, suasana kosong terasa langsung menyergap. Tikar tempat Pak Joko biasa berbaring kini hanya menyisakan lekuk tubuh di permukaannya. Bantal tipis masih ada, tetapi tanpa kepala yang menindihnya, bantal itu tampak kehilangan tugas.
Bilqis berdiri menatap tikar itu.
“Bapak tidur di sana nanti?” tanyanya.
“Untuk sementara Bapak tidur di rumah sakit.”
“Kalau malam Bapak kedinginan?”
“Di sana ada selimut.”
“Kalau Bapak batuk?”
“Di sana ada perawat.”
Bilqis menunduk. “Kalau Bapak cari aku?”
Rara tidak langsung menjawab.
Ia berjongkok di depan Bilqis, merapikan rambut anak itu yang mulai lepas ikatannya. “Besok kita jenguk Bapak lagi.”
Bilqis mengangguk, tetapi wajahnya tetap murung. Ia berjalan ke dekat tikar, mengambil kipas kardus yang biasa ia pakai untuk mengipasi Pak Joko, lalu memeluknya. Benda itu hanya potongan kardus bekas mi instan, pinggirnya sudah melengkung, tetapi di tangan Bilqis tampak seperti sesuatu yang sangat penting.
Rara menyiapkan air minum, membasuh wajah Bilqis dengan kain basah, lalu membantunya berbaring. Anak itu menolak tidur di bilik kecil.
“Mau di sini,” katanya. “Dekat tempat Bapak.”
Rara tidak membantah.
Ia membentangkan kain tipis di atas tubuh Bilqis. Tidak sampai lima menit, anak itu tertidur, satu tangannya masih memegang kipas kardus.
Rumah itu menjadi sunyi.
Rara duduk di lantai, punggung bersandar pada dinding papan. Tubuhnya menolak bergerak. Di luar, jangkrik berbunyi. Sesekali terdengar motor lewat jauh di jalan utama. Bau obat gosok masih tertinggal di dalam rumah, bercampur bau kayu lembap, arang dapur, dan karung barang bekas.
Ia memejamkan mata sebentar.
Namun bukannya tenang, wajah Pak Jarot muncul dalam ingatannya.
Senyum itu.
Cara ia berkata, “Kita tunggu hasil dokter. Jangan sampai ada omongan bahwa ini karena limbah.”
Cara ia menyebut Pak Hermawan sebagai orang yang membantu desa.
Cara stempelnya menghantam kertas: tok.
Rara membuka mata.
Di sudut rumah, karung rongsok Fajar tergeletak. Beberapa potongan kabel menyembul dari mulut karung. Ada noda hitam di kainnya. Ia menatap benda itu lama, lalu memalingkan wajah. Malam ini bukan malam untuk menyelidiki. Malam ini ia hanya perlu memastikan Bilqis aman, Fajar pulang, dan keluarga itu tidak benar-benar hancur oleh rasa takut.
Tetapi Fajar belum pulang.
Jam di ponsel Rara menunjukkan pukul 19.17.
Ia mengirim pesan singkat ke nomor yang tadi dipakai petugas bangsal untuk menghubungi keluarga pasien, berharap mungkin Fajar bisa membaca jika ponsel pinjaman rumah sakit diberikan kepadanya. Tidak terkirim. Sinyal di rumah itu lemah, naik turun seperti napas Pak Joko sebelum dibawa ke klinik.
Rara berdiri, berjalan ke teras.
Angin malam menyentuh wajahnya. Dari arah belakang desa, bau asam samar kembali datang. Lebih tipis dari siang, tetapi tetap ada. Ia menatap jalan gelap di depan rumah. Tidak ada bayangan Fajar. Tidak ada suara langkah.
Ia menunggu.
Pukul 19.31, dari kejauhan terdengar langkah kaki cepat.
Rara menegakkan tubuh.
Bayangan kecil muncul dari arah jalan utama, bergerak terburu-buru, hampir berlari. Ketika mendekat, ia mengenali tubuh kurus itu, tas kain di bahu, seragam kusut, rambut lepek. Fajar.
Anak itu berhenti mendadak ketika melihat Rara di teras.
Wajahnya panik.
“Bu?”
“Fajar.”