Bangsal rumah sakit tidak pernah benar-benar tidur.
Bahkan ketika malam sudah turun dan sebagian pasien memejamkan mata, selalu ada bunyi yang tertinggal: roda troli berderit di lorong, langkah sandal perawat yang tergesa tetapi terlatih, batuk dari ranjang ujung, suara plastik infus bergesekan pelan, dan dengung lampu putih yang membuat waktu terasa tidak punya warna.
Fajar duduk di kursi plastik di samping ranjang Pak Joko, punggungnya menempel pada dinding, kepalanya sesekali terangguk karena mengantuk. Di pangkuannya ada buku tulis pemberian Bu Rara, terbuka pada halaman pertama. Pensil pendek terjepit di antara jarinya, tetapi sejak sepuluh menit lalu tidak bergerak.
Di ranjang, Pak Joko tertidur dengan napas yang masih berat. Selimut rumah sakit menutupi tubuh kurusnya sampai dada. Di hidungnya terpasang selang oksigen. Setiap tarikan napas membuat selang itu bergerak halus, seolah ada benang tipis yang menahan Pak Joko agar tetap berada di dunia.
Fajar menatap wajah ayahnya.
Di bawah cahaya lampu bangsal, Pak Joko tampak lebih tua. Garis di pipinya lebih dalam. Bibirnya pecah-pecah. Tangan kanannya terbaring di atas selimut, kurus, gelap, dengan bekas luka kecil dan kuku yang tidak sepenuhnya bersih. Dulu tangan itu menarik gerobak, mengangkat karung, menepuk kepala Fajar saat ia masih kecil dan menangis karena jatuh dari pohon jambu.
Sekarang tangan itu bahkan tampak lelah untuk menggenggam.
“Jangan dilihati terus,” suara Pak Joko tiba-tiba muncul, serak dan pelan.
Fajar tersentak. “Bapak bangun?”
“Kalau kamu melotot begitu, orang tidur juga merasa ditagih utang.”
Fajar menunduk, lega sekaligus malu. “Saya kira Bapak tidur.”
“Sudah. Tapi kebangun gara-gara kamu napasnya berat.”
“Saya?”
“Iya. Napasmu lebih ribut dari kipas rusak.”
Fajar hampir tersenyum, tetapi tertahan di ujung bibir. Ia memperbaiki posisi duduk, lalu mengambil gelas plastik berisi air.
“Mau minum?”
Pak Joko menggeleng pelan. “Nanti.”
Fajar meletakkan gelas kembali. “Kalau mau bilang.”
Pak Joko menatap buku di pangkuan Fajar. “Itu apa?”
“Buku.”
“Bapak tahu itu buku. Maksud Bapak, buat apa?”
Fajar diam sebentar. “Belajar.”
Mata Pak Joko bergerak pelan, mencari wajah anaknya. “Sama Bu Guru?”
Fajar mengangguk.
“Di sini?”
“Iya.”
Pak Joko memejamkan mata sebentar. Ada sesuatu yang lewat di wajahnya. Mungkin malu. Mungkin lega. Mungkin rasa bersalah karena ranjang sakitnya berubah menjadi meja belajar anaknya.
“Bapak malah jadi ganggu kamu sekolah,” katanya.
Fajar langsung menatapnya. “Bapak jangan ngomong begitu.”
“Lha kenyataannya begitu.”
“Bapak sakit bukan sengaja.”
Pak Joko tersenyum tipis. “Orang miskin itu kadang sakit saja rasanya seperti sengaja merepotkan.”
Fajar menggenggam pensilnya lebih kuat. “Bapak tidur saja.”
“Marah?”
“Tidak.”
“Suaramu begitu.”
Fajar tidak menjawab.
Pak Joko menatap langit-langit bangsal. Kipas angin besar berputar pelan, mendorong udara yang berbau obat, karbol, keringat, dan nasi bungkus dari keluarga pasien lain. Di ranjang sebelah, seorang nenek batuk kecil, lalu anak perempuannya menepuk punggungnya sambil berbisik.
“Jar.”
Fajar menoleh. “Apa, Pak?”
“Kalau Bu Guru ngajari, dengarkan.”
Fajar menunduk. “Iya.”
“Bukan karena lomba itu. Bukan karena anak kota itu.”
Fajar mengangkat wajah sedikit. “Bapak tahu?”
“Bapak sakit, bukan tuli.” Pak Joko menarik napas pendek. “Kamu cerita sedikit waktu semalam. Sambil nangis-nangis.”
Wajah Fajar panas. “Saya tidak nangis-nangis.”
“Lha itu apa namanya? Hujan lokal?”
Fajar mengerutkan kening, tetapi kali ini senyumnya muncul setengah. Sangat kecil. Lalu hilang lagi.
Pak Joko menatapnya lebih lembut. “Belajar itu bukan buat mengalahkan orang lain dulu. Buat kamu punya pilihan. Bapak dulu tidak punya banyak pilihan. Jangan sampai kamu sama.”
Fajar ingin menjawab, tetapi tenggorokannya terasa berat.
Ia hanya mengangguk.
Sore berikutnya, Bu Rara datang membawa tas kain, dua kotak nasi sederhana, dan beberapa buku pelajaran yang sudutnya sudah diberi penanda kertas. Ia datang dengan wajah lelah, tetapi tetap tersenyum ketika melihat Fajar berdiri dari kursi.
“Sudah makan?” tanya Rara.
Fajar langsung curiga. “Bu Rara selalu tanya itu.”
“Karena kamu selalu kelihatan belum makan.”
“Saya sudah.”
“Jam berapa?”
Fajar diam.
Rara mengangkat satu kotak nasi. “Berarti ini untuk jaga-jaga.”
Bilqis, yang duduk di ujung ranjang sambil menggambar huruf B di kertas bekas, langsung melihat kotak itu dengan mata terang.
“Ini untuk Bilqis juga?” tanyanya.
“Untuk Bilqis, Mas Fajar, dan nanti Bapak kalau dokter memperbolehkan,” jawab Rara.
Bilqis tersenyum lebar. “Ada ayam?”
“Ada tempe.”
Senyum Bilqis turun sedikit, lalu naik lagi dengan cepat. “Tempe juga enak.”
Pak Joko tertawa pelan, lalu batuk. “Anak ini belajar ikhlas dari lauk.”
Rara menaruh makanan di meja kecil dekat ranjang. Ia juga mengeluarkan botol kecil kecap dari tasnya. Fajar melihat benda itu, lalu menunduk.
Rara pura-pura sibuk menyusun buku.
“Bapakmu katanya kalau makan harus ada kecap.”
Fajar tidak berkata apa-apa. Tetapi telinganya merah.
Pak Joko menatap botol kecap itu lama. “Bu Guru, nanti saya lama-lama sungkan.”
“Tidak usah sungkan, Pak. Kecap ini investasi pendidikan.”
Pak Joko mengerutkan dahi. “Kecap kok investasi.”
“Kalau Bapak makan lebih lahap, Fajar lebih tenang. Kalau Fajar lebih tenang, dia bisa belajar. Jadi kecap ini bagian dari strategi belajar.”
Bilqis tertawa kecil. Fajar menunduk, tetapi sudut bibirnya bergerak.
Mereka makan bergantian. Rara sengaja tidak membuat suasana seperti bantuan besar. Ia membuka kotak nasi, membagi tempe, menuang sedikit kecap ke tutup plastik, mengingatkan Bilqis agar tidak menumpahkan air, dan memarahi Fajar pelan karena anak itu mengambil porsi paling sedikit.
“Kalau kamu cuma makan dua suap, nanti belajar dengan apa? Dengan angin?”
“Saya sudah kenyang.”
“Piringmu bahkan belum percaya kamu sudah makan.”
Bilqis menutup mulutnya, tertawa.
Fajar akhirnya menambah dua suap lagi.
Setelah makan, Rara membersihkan meja kecil, lalu membuka buku pelajaran kelas lima. Ia duduk di kursi plastik, Fajar duduk di kursi sebelahnya, sementara Bilqis bersila di lantai dekat ranjang sambil memegang kertas dan pensil warna yang dipinjamkan Rara. Pak Joko berbaring, tetapi matanya sesekali terbuka, mendengarkan.
“Tidak usah lama hari ini,” kata Rara. “Kita mulai dari membaca pemahaman dulu.”
Fajar menatap buku seperti menatap pintu yang terlalu tinggi. “Saya jelek kalau baca.”
“Bukan jelek. Belum lancar.”
“Sama saja.”
“Beda. Kalau jelek itu seolah-olah tidak bisa diperbaiki. Kalau belum lancar, berarti masih bisa dilatih.”
Fajar diam.
Rara membuka sebuah teks pendek. “Kamu baca paragraf pertama. Pelan saja.”
Fajar menarik napas.