Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #13

BAB 13: NILAI YANG MEMBUAT PUTRI PANAS

Nilai pertama Fajar yang naik tidak datang seperti kemenangan besar.

Ia datang sebagai angka kecil di sudut kanan atas kertas ulangan, ditulis dengan tinta merah yang agak melebar karena spidol Pak Damar hampir habis. Angka itu bukan seratus. Bukan sembilan puluh. Bahkan belum cukup untuk membuat anak-anak lain bertepuk tangan.

Tujuh puluh enam.

Fajar menatap angka itu seolah angka tersebut bisa berubah jika terlalu lama dilihat.

Di sebelahnya, Rizal melongok dengan rasa ingin tahu yang terlalu sulit disembunyikan.

“Dapat berapa?”

Fajar cepat-cepat menutup kertas dengan telapak tangan.

“Biasa.”

“Biasa itu berapa?”

“Ya biasa.”

Rizal memiringkan kepala, lalu menyeringai. “Kalau jelek, kamu pasti langsung masuk tas. Kalau ditutup begitu, berarti lumayan.”

Fajar menggeser kertasnya menjauh. “Urus nilai sendiri.”

Rizal tertawa pelan. “Aku enam puluh delapan. Jadi kalau nilaimu di atas aku, kamu harus traktir cilok.”

“Tidak punya uang.”

“Traktir doa saja kalau begitu.”

Fajar mendengus kecil, tetapi sudut bibirnya bergerak.

Rara melihat semua itu dari meja guru.

Ia sedang membantu Pak Damar membagikan hasil ulangan Bahasa Indonesia. Di tangannya masih tersisa beberapa lembar kertas, tetapi matanya sempat berhenti pada Fajar lebih lama daripada seharusnya. Ia tahu angka tujuh puluh enam itu bukan sekadar nilai. Ia tahu betapa banyak hal kecil yang berdiri di belakangnya: bangsal rumah sakit, tutup botol untuk belajar perkalian, mata Fajar yang sering berat menahan kantuk, Bilqis yang bertepuk tangan saat kakaknya berhasil membaca satu paragraf tanpa tersandung terlalu banyak, Pak Joko yang pura-pura tidur sambil mendengarkan.

Angka itu bukan tinggi bagi anak yang terbiasa mendapat nilai sembilan puluh.

Tetapi bagi Fajar, tujuh puluh enam adalah pintu pertama yang tidak langsung tertutup di depan wajahnya.

Pak Damar berdiri di depan kelas. “Secara umum, hasil ulangan kali ini lebih baik dari sebelumnya. Ada beberapa anak yang meningkat. Ada juga yang turun karena kurang teliti.”

Beberapa murid menunduk. Beberapa lain langsung menebak siapa yang dimaksud.

Putri duduk tegak di baris depan, tangannya terlipat rapi di atas meja. Di atas kertas ulangannya, angka sembilan puluh empat tampak bersih dan tegas. Nilai tertinggi di kelas. Ia sudah melihatnya sejak tadi, lalu menaruh kertas itu sedikit terbuka, cukup agar Sari di sampingnya bisa melirik.

“Nilaimu berapa?” bisik Sari.

Putri menjawab pelan, tetapi tidak terlalu pelan. “Sembilan puluh empat.”

“Wah.”

Putri mengangkat bahu kecil. “Aku salah satu karena soalnya agak aneh.”

Sari memandangnya kagum. “Kalau aku delapan puluh satu.”

“Lumayan,” kata Putri.

Kata lumayan itu diucapkan seperti hadiah kecil dari tempat yang lebih tinggi.

Rara mendengar, tetapi tidak langsung menegur. Tidak semua kesombongan harus dipotong pada saat itu juga. Kadang yang lebih penting adalah melihat dari mana ia tumbuh.

Pak Damar mengambil satu kertas dari tangannya sendiri. “Bapak juga ingin memberi catatan khusus.”

Kelas menjadi lebih tenang.

“Ada yang biasanya nilainya rendah, tetapi kali ini naik cukup jauh.”

Rara langsung menatap Pak Damar. Ia berharap lelaki itu berhati-hati.

Pak Damar tidak menyebut nama dengan suara kemenangan yang berlebihan. Ia hanya menatap ke arah baris belakang sebentar.

“Fajar, teruskan usahamu.”

Kepala hampir seluruh kelas menoleh.

Fajar membeku.

Telapak tangannya masih menutupi kertas. Wajahnya berubah kaku, seperti seseorang yang tiba-tiba disorot lampu. Beberapa anak berbisik.

“Fajar?”

“Nilainya naik?”

“Berapa?”

Rizal menyenggol bahu Fajar pelan. “Tuh.”

Fajar tidak menjawab.

Rara menahan napas. Pujian di depan kelas bisa menjadi pisau bermata dua bagi anak seperti Fajar. Ia butuh diakui, tetapi juga takut terlihat. Selama ini perhatian berarti teguran. Tatapan berarti malu. Nama yang disebut guru sering kali diikuti hukuman.

Pak Damar sepertinya menyadari itu. Ia segera melanjutkan, “Yang lain juga bisa meningkat kalau mau berusaha. Sekarang simpan kertas kalian. Kita bahas soal nomor tiga dan lima.”

Kelas kembali bergerak.

Namun satu pasang mata tidak ikut kembali ke papan tulis.

Putri menoleh ke belakang.

Tatapannya jatuh pada Fajar. Bukan sekadar melihat. Lebih seperti menimbang ulang benda yang selama ini ia kira tidak punya berat.

Fajar tidak melihatnya. Ia masih menatap kertas ulangannya, diam-diam menggeser telapak tangan sedikit. Angka tujuh puluh enam kembali terlihat. Ia menyentuh angka itu dengan ujung jari, pelan sekali, seolah memastikan tinta merah itu benar-benar menempel di kertasnya sendiri.

Putri melihat angka itu.

Alisnya bergerak nyaris tidak terlihat.

Tujuh puluh enam bukan ancaman bagi sembilan puluh empat. Tidak seharusnya.

Tetapi yang membuat dada Putri terasa panas bukan angka itu. Yang membuatnya terganggu adalah cara Pak Damar menyebut nama Fajar dengan nada yang berbeda dari biasanya. Cara Bu Rara menatap anak itu dengan bangga yang tidak meledak-ledak tetapi jelas. Cara Rizal menyeringai seolah temannya baru saja memenangkan sesuatu.

Putri tidak suka melihat pujian jatuh ke tempat yang menurutnya tidak pantas.

Sepanjang pembahasan soal, Putri menjawab beberapa pertanyaan dengan cepat. Terlalu cepat. Saat Pak Damar baru selesai membaca kalimat, tangannya sudah terangkat.

“Putri?” kata Pak Damar.

“Jawabannya B, karena tokoh utama merasa bersalah setelah membohongi ibunya.”

“Betul.”

Beberapa anak menoleh kagum. Putri duduk kembali dengan wajah tenang, tetapi jari-jarinya mengetuk meja.

Tak.

Tak.

Tak.

Rara memperhatikan gerakan itu.

Ada anak yang marah dengan berteriak. Ada yang marah dengan diam. Putri marah dengan menjadi semakin sempurna.

Saat istirahat, halaman sekolah ramai seperti biasa. Anak-anak berlari ke kantin kecil, membeli cilok, es lilin, atau gorengan yang minyaknya sudah terlalu sering dipakai. Debu naik di sekitar kaki mereka. Di bawah pohon mangga, beberapa anak duduk membuka bekal.

Fajar tidak langsung keluar. Ia memasukkan kertas ulangannya ke dalam buku tulis, lalu memasukkan buku itu ke tas kainnya dengan hati-hati. Seolah kertas itu bisa lecak jika ditaruh sembarangan. Rizal menunggu di dekat pintu.

“Jar, cilok?”

“Tidak.”

“Cuma lihat aku makan juga boleh.”

“Buat apa?”

“Biar kamu termotivasi kaya.”

Fajar hampir tertawa. “Aneh.”

Mereka keluar bersama. Rara melihat dari dalam kelas, membiarkan jarak kecil itu tumbuh. Kadang yang dibutuhkan seorang anak bukan nasihat guru, melainkan satu teman yang tidak memperlakukannya seperti masalah.

Namun di halaman, Putri sudah menunggu dengan lingkaran kecilnya.

Sari, Nanda, dan dua anak lain duduk di bangku semen dekat pohon. Putri memegang botol minum merah muda. Di pangkuannya ada kotak makanan berisi roti kecil dan sosis gulung. Ketika melihat Fajar dan Rizal lewat, ia mengangkat suara.

“Fajar.”

Langkah Fajar berhenti.

Rizal menoleh duluan. “Apa?”

“Aku manggil Fajar, bukan kamu.”

Lihat selengkapnya