Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #14

BAB 14: ANAK YANG JATUH DI LAPANGAN

Hari Jumat di SDN 1 Wisnu Bakti biasanya lebih ringan daripada hari-hari lain.

Anak-anak datang dengan wajah yang sedikit lebih hidup, seolah tubuh kecil mereka sudah bisa mencium bau libur sebelum benar-benar tiba. Guru-guru pun tampak tidak sekeras biasanya. Pak Damar tetap membawa buku nilai dengan wajah lelah, tetapi dasinya lebih longgar. Bu Lilis membeli gorengan lebih banyak untuk ruang guru. Bahkan Pak Surya, yang sering terlihat seperti papan pengumuman berisi larangan, pagi itu hanya mengomel setengah tenaga ketika melihat Rizal berlari di lorong.

“Jalan itu pakai kaki, bukan pakai petasan,” katanya.

Rizal berhenti, menoleh, lalu berbisik kepada Fajar, “Kaki saya memang meledak kalau lihat bel istirahat.”

Fajar menahan tawa.

Rara melihatnya dari depan kelas.

Tawa kecil Fajar belum sering muncul. Ia masih lebih banyak menunduk, masih menyimpan gerak berjaga-jaga setiap kali namanya dipanggil. Namun sejak nilai tujuh puluh enam itu, ada perubahan yang bisa dirasakan meski tidak selalu terlihat. Fajar mulai datang lebih pagi, walau belum setiap hari. Jika terlambat, ia tidak lagi masuk kelas seperti orang yang siap dihukum mati; ia tetap takut, tetapi di matanya ada keinginan untuk sampai.

Kadang ia membawa buku yang sudah ditekuk ujungnya karena belajar di bangsal rumah sakit. Kadang ia mengantuk dan hampir menjatuhkan kepala di meja. Kadang ia salah menjawab soal yang kemarin sudah bisa ia kerjakan, lalu wajahnya muram seharian.

Tetapi ia kembali mencoba.

Itu yang membuat Rara bertahan dari rasa lelah yang sering datang diam-diam ketika malam.

Pagi itu, pelajaran pertama berjalan cukup lancar. Rara membahas bacaan tentang gotong royong di desa. Anak-anak diminta menuliskan contoh gotong royong di lingkungan mereka. Jawaban mereka macam-macam.

“Membersihkan selokan,” tulis Sari.

“Membantu tetangga hajatan,” tulis Rizal.

“Membawa kursi kalau ada pengajian,” tulis Nanda.

Fajar menulis lebih lama dari yang lain. Alisnya berkerut. Pensilnya berhenti beberapa kali, lalu bergerak lagi. Saat Rara melewati bangkunya, ia melihat tulisan Fajar:

Membantu Bapak berdiri kalau Bapak tidak kuat.

Rara berhenti setengah detik.

Fajar langsung menutup buku dengan tangan.

Rara tidak berkomentar. Ia hanya melanjutkan berjalan ke bangku lain, tetapi kalimat itu ikut dengannya sampai ke depan kelas.

Membantu Bapak berdiri kalau Bapak tidak kuat.

Bagi anak lain, gotong royong adalah kerja bakti. Bagi Fajar, gotong royong adalah dua tangan kecil yang menahan tubuh ayahnya agar tidak roboh.

Menjelang istirahat kedua, udara menjadi lebih panas. Awan yang sejak pagi menggantung tipis mulai tersingkir, membiarkan matahari jatuh penuh ke halaman sekolah. Tanah gersang di dekat tiang bendera tampak semakin retak, garis-garisnya seperti urat di telapak tangan tua. Di beberapa bagian, debu mengendap lembut, siap terangkat oleh kaki anak-anak.

Pak Damar masuk ke kelas setelah bel berbunyi.

“Anak-anak, setelah ini kegiatan luar kelas sebentar. Bukan olahraga berat. Kita bersihkan halaman belakang dan cek tanaman di pot. Jangan lari-lari terlalu jauh.”

Rizal mengangkat tangan. “Pak, kalau tidak berat, boleh sambil main bola ringan?”

“Tidak.”

“Kalau bolanya ringan?”

“Rizal.”

“Iya, Pak. Saya sedang menguji batas bahasa.”

Beberapa anak tertawa. Pak Damar menatapnya datar, tetapi sudut bibirnya hampir bergerak.

Rara ikut mendampingi. Ia membawa topi kain yang selalu ia simpan di tas sejak mulai sering bersepeda. Di halaman, anak-anak dibagi kecil-kecil. Ada yang menyapu daun kering, ada yang mencabut rumput liar di sekitar pot, ada yang mengambil sampah plastik. Putri berdiri di dekat pohon mangga, memakai topi putih bersih yang kemungkinan baru dibeli. Ia memegang sapu lidi dengan dua jari, seperti benda itu mungkin menggigit.

“Putri,” panggil Rara.

Putri menoleh. “Iya, Bu?”

“Sapunya dipegang seperti biasa. Bukan seperti bukti kejahatan.”

Rizal tertawa keras dari dekat pagar.

Putri melotot ke arahnya, lalu memegang sapu lebih benar. “Saya belum biasa menyapu halaman sekolah, Bu.”

“Tidak apa-apa. Hari ini belajar.”

“Saya di rumah biasanya ada Mbak yang menyapu.”

“Di sekolah, semua tangan punya giliran.”

Putri menunduk pada sapu di tangannya. Ujung lidi itu kasar, menyisakan rasa gatal di telapak. Di rumah, benda seperti itu biasanya hanya lewat di tangan pembantu. Di sini, Bu Rara menyuruhnya memegangnya seperti semua anak lain.

Untuk sesaat, ia teringat suara ayahnya di meja makan: jangan terlihat biasa-biasa saja. Putri mengencangkan genggamannya. Ia tidak suka debu menempel di sepatunya, tetapi ia lebih tidak suka terlihat kalah di depan teman-temannya. Maka ia menyapu, kaku dan canggung, sambil menjaga dagunya tetap tegak.

Putri tidak menjawab. Ia mulai menyapu, gerakannya kaku, tetapi ia melakukannya.

Fajar berada di dekat sisi belakang halaman bersama Rizal dan beberapa anak lain. Mereka mengumpulkan botol plastik dan bungkus jajanan yang tersangkut di semak dekat pagar. Pagar belakang sekolah tidak terlalu tinggi. Di baliknya tampak lapangan tanah yang biasa dipakai anak-anak desa bermain bola. Lebih jauh lagi, ada jalur kecil menuju area pembuangan yang selama ini hanya hadir sebagai bau samar dan cerita setengah kalimat.

Rara menatap ke arah itu.

Angin dari belakang sekolah membawa aroma yang tidak menyenangkan. Tidak kuat, tetapi cukup membuat hidungnya menegang: bau tanah panas, sampah basah, dan sesuatu yang belum bisa ia namai. Rara menoleh ke Ibu Sintang yang berdiri tidak jauh dari pot tanaman.

Rara ingin mendekat dan bertanya.

Namun suara anak-anak memanggil membuatnya kembali menoleh.

“Bu! Ini potnya pecah!”

“Jangan diangkat sendiri, nanti tanganmu kena.”

Di tengah kesibukan kecil itu, beberapa anak kelas lain mulai bermain bola di lapangan belakang saat jam kosong. Mereka bukan murid kelas Rara, sebagian kelas empat dan sebagian kelas lima dari kelompok lain. Salah satunya anak laki-laki berkulit sawo matang, rambutnya ikal pendek, tubuhnya lincah, dan suaranya paling keras ketika memanggil teman.

“Iqbal! Oper sini!” teriak seorang anak.

Anak bernama Iqbal itu menggiring bola dengan gesit. Kakinya telanjang, sepatunya mungkin dilepas di pinggir lapangan. Ia tertawa saat berhasil melewati dua temannya. Kaos olahraga sekolahnya terlalu besar, berkibar setiap ia berlari. Ada kebahagiaan yang utuh di wajahnya, jenis kebahagiaan yang hanya dimiliki anak-anak ketika mengejar bola dan lupa bahwa dunia orang dewasa penuh masalah.

“Dia anaknya Guntoro,” kata Bu Lilis yang tiba-tiba berdiri di samping Rara.

Rara menoleh. “Guntoro?”

Bu Lilis tampak ragu sedetik, lalu berkata, “Warga sini. Orangnya agak keras. Sering ikut-ikut pekerjaan keamanan kalau ada acara desa.”

Rara menangkap ada kata yang dipilih dengan hati-hati.

Pekerjaan keamanan.

Bukan satpam. Bukan panitia. Bukan warga biasa.

“Anaknya sering main di lapangan itu?” tanya Rara.

“Sering. Hampir tiap hari kalau tidak hujan. Iqbal itu kalau sudah lihat bola, lupa pulang.”

Rara kembali menatap Iqbal. Anak itu baru saja jatuh terduduk karena berebut bola, lalu bangkit sambil tertawa. Lututnya berdebu. Temannya menepuk pundaknya. Ia berlari lagi.

Ada sesuatu yang membuat Rara lega melihatnya. Di tengah tanah yang retak dan udara yang aneh, anak itu masih bisa tertawa seperti dunia belum merampas apa-apa darinya.

Kegiatan bersih-bersih hampir selesai ketika matahari makin tinggi. Beberapa murid mulai mengeluh haus. Rara menyuruh mereka mencuci tangan dan minum. Fajar menepuk-nepuk debu dari celananya. Rizal memamerkan tiga tutup botol yang ia temukan seperti mendapat harta karun.

“Jar, ini bisa buat belajar perkalian lagi,” katanya.

Fajar mengambil satu, melihatnya sebentar, lalu memasukkannya ke saku. “Yang ini lumayan bersih.”

Rara tersenyum kecil.

Dari lapangan, teriakan anak-anak tiba-tiba berubah.

Lihat selengkapnya