Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #15

BAB 15: TANAH MATI DI BELAKANG SEKOLAH

Rara tidak langsung pergi ke belakang sekolah hari itu.

Ia ingin.

Sejak Iqbal jatuh di lapangan, tubuhnya seperti menyimpan dorongan aneh: berjalan menembus pagar belakang, melewati semak, mengikuti bau asam itu sampai sumbernya ketemu. Tetapi ia menahan diri. Ada Iqbal di UKS. Ada anak-anak yang masih takut. Ada guru-guru yang mulai saling bertanya dengan suara rendah. Ada Ibu Sintang yang menatap lapangan belakang terlalu lama dari teras kantor, lalu masuk ke ruang kepala sekolah tanpa berkata apa-apa.

Rara tahu, jika ia bergerak terlalu cepat, semua orang akan melihatnya.

Dan di desa yang sudah beberapa kali mengajarinya bahwa pertanyaan bisa berubah menjadi gosip, ia mulai belajar bahwa keberanian juga perlu cara berjalan.

Sore itu, setelah sekolah mulai sepi, barulah ia kembali ke halaman belakang.

Bukan sendirian sepenuhnya.

Fajar berdiri beberapa langkah di belakangnya, memegang buku tulis di tangan kiri dan tas kain di bahu. Anak itu seharusnya langsung ke rumah sakit setelah pulang sekolah. Pak Joko masih dirawat. Bilqis dititipkan pada tetangga dan nanti sore akan dijemput. Waktu Fajar tidak pernah longgar. Hidupnya tersusun dari bagian-bagian sempit yang saling bertumpuk: sekolah, rumah sakit, memulung, menjaga adik, belajar, tidur sebentar, lalu mengulang lagi.

Tetapi ketika Rara berdiri di dekat pagar belakang dan menatap lapangan tempat Iqbal jatuh, Fajar tidak pergi.

“Kamu harus ke rumah sakit,” kata Rara.

“Nanti,” jawab Fajar.

“Bapakmu menunggu.”

“Bapak tidur jam segini. Biasanya kalau saya datang terlalu cepat, cuma lihat Bapak tidur.”

Rara menoleh.

Fajar menghindari tatapannya. “Saya cuma tunjukkan jalan. Habis itu saya pergi.”

Rara ingin berkata bahwa ia tidak perlu ikut. Bahwa ini bukan tanggung jawab anak kelas lima. Tetapi ia melihat wajah Fajar: tegang, takut, dan keras kepala. Sejak Iqbal pingsan, ia membawa ketakutan baru yang tidak mau ia sebut. Mungkin di kepalanya, tubuh Iqbal yang jatuh di lapangan terus bertumpuk dengan tubuh Pak Joko di ranjang rumah sakit.

“Baik,” kata Rara akhirnya. “Tapi kita tidak lama. Dan kamu tidak menyentuh apa pun.”

Fajar mengangguk.

Rara membawa tas kecil berisi botol air mineral kosong, kantong plastik bening, sarung tangan karet dari UKS yang ia minta kepada Bu Lilis, buku catatan, dan beberapa alat sederhana dari laboratorium sekolah: kertas lakmus yang sudah lama tersimpan di lemari, gelas ukur plastik, serta pipet kecil. Ia tahu alat-alat itu tidak akan membuktikan segalanya. Ia bukan petugas laboratorium lingkungan. Ia tidak punya alat untuk memastikan logam berat. Ia bahkan tidak tahu apakah kertas lakmus tua itu masih bekerja dengan baik.

Tetapi ia perlu memulai dari sesuatu.

Bukan kesimpulan. Bukan tuduhan.

Petunjuk.

Pagar belakang sekolah terbuat dari kawat dan bambu yang beberapa bagiannya sudah longgar. Di satu sudut, ada celah yang cukup besar untuk dilalui anak-anak. Fajar menunjuk celah itu.

“Kalau bola keluar, anak-anak lewat sini.”

Rara menatap celah itu. Ujung kawatnya tajam, salah satu bambunya patah. Di tanah dekat sana, terlihat bekas pijakan kecil-kecil, seperti jejak kaki yang terlalu sering melewati jalan terlarang sampai berubah menjadi jalur biasa.

“Guru tahu?”

Fajar mengangkat bahu. “Mungkin tahu. Tapi susah kalau tiap hari ngawasi.”

Rara tidak menjawab.

Mereka melewati celah itu dengan hati-hati. Rok Rara sempat tersangkut ujung bambu. Fajar bergerak hendak membantu, lalu berhenti karena ingat larangan menyentuh. Rara melepaskannya sendiri. Serat kain tertarik sedikit, meninggalkan benang halus yang keluar.

Di balik pagar, lapangan bola membentang tidak rata. Tanahnya keras, warnanya cokelat pucat. Di beberapa bagian ada rumput pendek, tetapi tumbuhnya jarang, seperti rambut orang sakit. Gawang dari bambu berdiri miring di ujung lapangan. Dari bangunan utama sekolah, lapangan itu hanya di belakang pagar; dari ujung lapangan ke area pembuangan kira-kira lima puluh meter lewat jalan semak. Kalau ditarik dari kelas-kelas, jaraknya sekitar dua ratus meter. Cukup dekat untuk dijangkau anak-anak yang mengejar bola, tetapi cukup jauh untuk membuat orang dewasa mudah pura-pura tidak melihat.

Rara berjalan pelan, matanya menyusuri tanah.

Di dekat tempat Iqbal jatuh tadi siang, debu masih tampak terganggu. Jejak kaki anak-anak bercampur tidak jelas. Bola sudah diambil, tetapi ada garis seret kecil di tanah, mungkin dari kaki Iqbal saat tubuhnya dibawa.

Fajar berhenti di samping Rara.

“Dia biasanya lari dari sana,” katanya, menunjuk sisi kiri lapangan. “Kalau nendang kuat, bolanya sering lewat pagar semak itu.”

“Ke arah tempat pembuangan?”

Fajar mengangguk.

Rara menatap ke arah yang ditunjuk.

Di belakang lapangan, ada semak liar yang tumbuh tidak merata. Beberapa batang tampak hijau, tetapi semakin ke arah kanan, tumbuhan berubah menguning, lalu mengering. Di sela semak itu, ada jalan setapak kecil. Tanahnya lebih gelap daripada lapangan, seolah sering dilalui sesuatu yang berat. Jauh dari titik itu, kebun warga masih bisa hijau; kerusakan ini seperti terkumpul di satu kantong kecil yang terlalu dekat dengan sekolah.

Bau itu datang lebih jelas ketika mereka mendekat.

Rara berhenti, menutup hidung dengan punggung tangan.

Asam.

Bukan bau sampah biasa.

Ada bau tajam seperti aki tua, logam basah, dan tanah yang dipaksa menelan sesuatu yang tidak bisa ia cerna. Bau itu tidak menusuk kuat, tetapi menetap di pangkal hidung. Setelah beberapa tarikan napas, lidah Rara terasa pahit.

Fajar menatapnya. “Bau itu yang saya bilang.”

“Kamu sering ke sini?”

“Dulu sering. Sekarang jarang.”

“Kenapa?”

Fajar diam sebentar. “Bapak yang sering.”

Jawaban itu membuat Rara tidak bertanya lagi untuk beberapa detik.

Mereka mengikuti jalan setapak. Semak bergesekan dengan lengan Rara. Ada daun yang kering di ujungnya, berwarna cokelat kehitaman. Beberapa tanaman tampak seperti terbakar dari bawah: batangnya masih berdiri, tetapi akarnya dikelilingi tanah yang retak dan keras. Seekor belalang melompat dari rumput, lalu menghilang ke arah lapangan, seolah tempat itu pun membuatnya ingin menjauh.

Di ujung jalan setapak, tanah terbuka.

Tempat pembuangan itu tidak terlalu besar, tetapi cukup luas untuk membuat Rara berhenti lama.

Tumpukan sampah berdiri tidak beraturan: plastik, kardus basah, karung bekas, kaleng penyok, potongan kabel, pecahan botol, sisa ban, besi berkarat, dan beberapa wadah aki yang pecah. Ada bagian tanah yang cekung, berisi air keruh kehitaman. Di atas permukaan air itu, lapisan tipis berwarna pelangi bergerak pelan saat angin lewat. Di satu sisi, tanah tampak memutih seperti bekas garam atau kerak. Di sisi lain, ada jalur bekas roda truk yang mengeras, masuk dari arah jalan tanah di balik pepohonan.

Rara merasakan tengkuknya dingin.

“Ini...” Ia berhenti, mencari kata yang tidak langsung menjadi tuduhan.

Fajar menyelesaikan dengan suara pelan, “Tempat Bapak cari barang.”

Rara menoleh kepadanya.

Fajar tidak menatap Rara. Matanya tertuju pada tumpukan kabel dan wadah aki yang pecah.

“Dulu Bapak bilang di sini banyak barang laku. Kabel, besi, aki bekas. Kalau beruntung bisa dapat lebih banyak dari tempat lain.”

“Bapakmu sering pegang barang-barang itu?”

“Pakai tangan.” Fajar mengusap jarinya sendiri tanpa sadar. “Kadang pakai karung. Kalau ada cairan, Bapak bilang jangan kena kulit. Tapi kadang kena juga.”

Rara menelan ludah.

Ia teringat tangan Pak Joko: luka kecil, kuku menghitam, jari yang gemetar, kulit yang tampak seperti menyimpan banyak cerita yang tidak pernah ia ucapkan.

“Fajar, mundur sedikit. Berdiri di sana. Jangan dekat air.”

Fajar menurut, meski wajahnya tampak ingin tahu.

Rara mengeluarkan sarung tangan karet dari tas. Tangannya sedikit gemetar saat memakainya. Karet itu menempel pada kulitnya dengan rasa dingin. Ia mengambil ponsel, memotret area sekitar dari beberapa sudut. Tumpukan sampah. Wadah aki pecah. Air keruh. Kerak putih. Jalur roda truk. Jarak ke lapangan. Pagar belakang sekolah yang terlihat samar di kejauhan.

Ia tidak ingin dramatis.

Tetapi setiap foto yang ia ambil membuat dadanya semakin berat.

Ia membuka buku catatan.

Tanggal.

Waktu.

Lokasi: belakang lapangan SDN 1 Wisnu Bakti, dekat tempat pembuangan/pemulungan.

Bau: asam/logam.

Kondisi tanah: retak, beberapa bagian gelap, beberapa bagian berkerak putih.

Vegetasi: tanaman mengering/mati di sekitar area.

Jarak perkiraan: sekitar lima puluh meter dari ujung lapangan belakang; sekitar dua ratus meter dari bangunan kelas.

Ia menulis cepat, tetapi tetap berusaha rapi. Di bawah catatan itu, ia menggambar denah kasar: sekolah, lapangan, pagar, jalan setapak, tempat pembuangan, jalur roda.

“Bu,” panggil Fajar.

Rara menoleh. “Jangan mendekat.”

Lihat selengkapnya