Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #16

BAB 16: VIDEO PERTAMA

Rara membawa catatan itu seperti membawa bara dalam tasnya.

Bukan bara yang menyala terang, melainkan bara kecil yang diam-diam bisa membakar tangan jika terlalu lama digenggam. Di dalam tas kainnya, ada buku catatan berisi tanggal, jam, lokasi, denah kasar, hasil uji keasaman sederhana, dan daftar hal-hal yang ia lihat sendiri: wadah aki pecah, air keruh berlapis warna minyak, tanah berkerak putih, tanaman mati, bekas roda truk.

Tidak ada kata “terbukti” di sana.

Tidak ada kata “pasti” yang bisa menyeretnya menjadi tuduhan tanpa dasar.

Tidak ada tuduhan yang ditulis dengan emosi.

Rara menuruti pesan Ibu Sintang: tulis fakta yang dilihat, bukan kemarahan yang dirasakan.

Tetapi kemarahan tetap ada.

Ia duduk di ruang guru pagi itu dengan secangkir teh yang sudah dingin. Di luar, anak-anak berbaris untuk senam ringan. Suara musik dari pengeras kecil terdengar pecah, gerakan anak-anak tidak serempak, dan Rizal tampak sengaja membuat gerakan tangannya lebih lebar agar teman-temannya tertawa.

Fajar berdiri di barisan belakang. Ia ikut bergerak, tetapi matanya beberapa kali melirik ke arah lapangan belakang yang kini diberi tali rafia dan papan bertuliskan: AREA DIBERSIHKAN, MURID DILARANG MASUK.

Alasan resmi: pagar belakang sedang diperbaiki dan area harus dibersihkan.

Alasan sebenarnya menggantung di antara Rara dan Ibu Sintang seperti kain basah yang belum boleh dijemur di depan umum.

“Sudah kamu salin?” tanya Ibu Sintang dari kursi seberang.

Rara menoleh. Kepala sekolah itu tidak melihat ke arahnya. Matanya tetap tertuju ke halaman, tetapi Rara tahu pertanyaan itu untuknya.

“Sudah, Bu. Catatan dan foto saya simpan di dua tempat. Di ponsel dan di flashdisk.”

“Bagus.”

“Saya juga ingin melaporkan ke pihak berwenang.”

Kali ini Ibu Sintang menoleh.

Tidak terkejut.

Hanya lelah.

“Kamu tahu laporan seperti itu tidak selalu berjalan lurus.”

“Saya tahu.”

“Yang kamu punya masih bukti awal.”

“Saya juga tahu.”

“Dan orang yang kamu sentuh nanti bukan orang kecil.”

Rara menggenggam cangkir tehnya. Permukaannya sudah tidak hangat. “Kalau kita menunggu bukti sempurna, anak-anak tetap bermain di dekat tempat itu. Pak Joko masih sakit. Iqbal kemarin jatuh. Saya tidak bisa pura-pura hanya mengajar membaca.”

Ibu Sintang menatapnya lama.

Di wajah perempuan tua itu, ada sesuatu yang sulit dibaca. Kekhawatiran, mungkin. Atau ingatan buruk yang terlalu lama disimpan.

“Laporkan,” katanya akhirnya. “Tapi jangan pergi sendiri.”

Rara hendak menjawab, tetapi Ibu Sintang mengangkat tangan.

“Saya tidak sedang meminta. Saya sedang memberi batas.”

Rara menunduk pelan. “Baik, Bu.”

Maka siang itu, setelah jam pelajaran selesai dan Fajar pergi ke rumah sakit, Rara pergi ke kantor polisi sektor yang berada di kecamatan. Ia tidak mengajak Fajar. Ia juga tidak mengajak guru lain. Ibu Sintang tidak bisa ikut karena ada rapat mendadak dengan pengawas sekolah, tetapi ia menitipkan satu kalimat sebelum Rara berangkat.

“Kalau mereka menyepelekanmu, jangan meninggikan suara. Orang yang ingin menutup telinga justru senang kalau kita terlihat emosional.”

Kalimat itu mengikuti Rara sepanjang jalan.

Ia mengayuh sepeda jengkinya sampai pertigaan, lalu menitipkannya di warung Bu Karti dan melanjutkan dengan ojek karena kantor polisi cukup jauh. Di atas motor, angin siang menampar wajahnya. Jalan berdebu, sawah di kiri kanan, rumah warga, warung kecil, baliho pejabat tersenyum, semuanya lewat seperti gambar yang tidak sempat ia pahami.

Tas di pangkuannya terasa berat.

Di dalamnya ada flashdisk, fotokopi catatan, dan beberapa foto yang ia cetak di kios kecil dekat pasar: tanah mati, wadah aki pecah, air berlapis minyak, bekas roda truk, hasil kertas lakmus. Foto-foto itu ia masukkan ke map cokelat, disusun rapi seperti murid yang ingin mendapat nilai baik dari guru yang belum tentu mau membaca.

Kantor polisi itu tidak besar. Halamannya cukup luas, dengan beberapa motor terparkir dan bendera yang bergerak pelan tertiup angin. Di dinding depan ada tulisan tentang pelayanan masyarakat. Rara masuk dengan langkah yang ia usahakan stabil.

Di ruang pelayanan, seorang petugas muda menyambutnya.

“Ada keperluan, Bu?”

“Saya ingin melaporkan dugaan pembuangan limbah berbahaya di dekat sekolah,” jawab Rara.

Petugas itu menatapnya. “Limbah?”

“Iya. Di dekat SDN 1 Wisnu Bakti. Ada area pembuangan di belakang lapangan sekolah. Saya membawa bukti awal dan dokumentasi.”

Petugas itu mengambil map yang disodorkan Rara. Ia membuka, melihat foto pertama, kedua, lalu mengerutkan dahi.

“Ibu siapa?”

“Saya guru di SDN 1 Wisnu Bakti.”

“Oh.” Nada suaranya berubah sedikit. “Ini sudah dilaporkan ke kelurahan?”

“Belum secara resmi. Tapi Lurah sudah mengetahui ada dugaan terkait area pembuangan.”

Petugas itu menatapnya cepat. “Pak Jarot?”

Rara menangkap perubahan itu.

Hanya sepersekian detik, tetapi cukup.

“Iya.”

Petugas itu menutup map. “Begini, Bu. Untuk dugaan limbah, biasanya ada instansi lingkungan hidup juga. Kami tidak bisa langsung bertindak kalau belum ada hasil resmi.”

“Saya paham. Tapi lokasi itu dekat sekolah. Ada anak yang jatuh pingsan di lapangan. Ada warga yang sakit setelah bertahun-tahun memulung di area sana. Saya tidak menuduh sembarangan. Saya hanya meminta agar laporan ini diterima dan ditindaklanjuti.”

Petugas muda itu tampak tidak nyaman. Ia memanggil rekannya yang lebih tua. Lelaki berkumis tipis itu datang dari ruangan dalam, menerima map, lalu membukanya dengan gerakan lambat.

“Bu Rara, ya?” katanya setelah membaca nama di keterangan.

Rara menatapnya. “Iya.”

“Guru baru itu?”

Pertanyaan itu membuat leher Rara menegang. “Iya.”

Lelaki itu tersenyum tipis. “Saya dengar Ibu aktif sekali di desa.”

Tidak ada yang kasar dalam kalimat itu.

Tetapi Rara mendengar durinya.

“Saya hanya menjalankan tugas sebagai guru, Pak.”

“Tugas guru mengajar anak-anak, kan?”

Rara menahan napas. “Menjaga keselamatan anak juga bagian dari tanggung jawab moral saya.”

Petugas itu mengangguk, seolah setuju, tetapi matanya tidak benar-benar menerima.

“Bukti Ibu ini masih awal sekali. Foto bisa macam-macam tafsirnya. Tanah kering ya bisa karena kemarau. Air kotor bisa karena sampah warga. Anak pingsan bisa karena kurang makan. Warga sakit juga bisa karena penyakit biasa. Kita harus hati-hati.”

“Saya setuju harus hati-hati. Karena itu saya melapor.”

“Nanti kami koordinasikan.”

“Apakah saya mendapatkan tanda terima laporan?”

Petugas itu berhenti.

Senyumnya menipis.

“Untuk sementara kami catat dulu sebagai informasi masyarakat.”

“Bukan laporan?”

“Belum bisa jadi laporan resmi kalau unsurnya belum jelas.”

Lihat selengkapnya