Pagi setelah video itu menyebar, Desa Wisnu Bakti tidak langsung meledak.
Tidak ada warga yang berbondong-bondong datang ke belakang sekolah. Tidak ada pengeras suara masjid yang mengumumkan bahaya. Tidak ada mobil pejabat yang berhenti di halaman SDN 1 Wisnu Bakti. Anak-anak tetap datang membawa tas, ibu-ibu tetap menawar sayur di warung, bapak-bapak tetap duduk sambil menyeruput kopi, dan ayam-ayam tetap mengais tanah seolah tidak ada cairan gelap yang semalam terekam masuk ke tubuh desa.
Justru ketenangan itulah yang membuat Rara takut.
Ponselnya sejak subuh tidak berhenti bergetar. Beberapa pesan datang dari teman kuliahnya. Beberapa dari akun media warga. Ada yang membagikan ulang video itu dengan kalimat marah. Ada yang bertanya lokasi tepat. Ada yang meminta izin memakai video untuk unggahan edukasi. Ada pula yang mulai menuduh: “Kalau benar dekat sekolah, kenapa baru sekarang bicara?”
Rara membaca semuanya dengan mata perih.
Ia belum tidur nyenyak. Baru menjelang dini hari tubuhnya menyerah, dan itu pun hanya sebentar. Ketika bangun, tenggorokannya masih terasa pahit oleh bau asam semalam. Di kuku jari telunjuknya masih ada noda tanah yang tidak sepenuhnya hilang walau sudah dicuci berkali-kali. Ia duduk di tepi tempat tidur rumah neneknya, memandangi sepeda jengki yang bersandar di ruang tengah.
Sepeda itu tampak diam, tua, setia.
Seolah semalam ia tidak ikut disembunyikan di balik rumpun pisang, menunggu pemiliknya kembali dari tempat yang tidak seharusnya didatangi seorang guru sendirian.
Rara mengusap wajah.
Di meja kecil, ada dompet yang isinya makin tipis, buku catatan, dan ponsel yang kembali menyala dengan pesan baru. Kali ini dari Ibu Sintang.
Datang lebih pagi. Jangan bicara dengan siapa pun dulu.
Rara membaca pesan itu dua kali.
Lalu ia bersiap.
Jalan menuju sekolah terasa lebih panjang dari biasanya. Sepeda jengki berderit pelan di bawah tubuhnya. Rantai yang sudah diperbaiki tetap mengeluarkan bunyi tik-tik-tik setiap kali pedal bergerak. Udara pagi seharusnya segar, tetapi di beberapa tikungan, bau asam itu seperti masih tertinggal di hidungnya. Mungkin benar-benar ada. Mungkin hanya ingatan tubuhnya yang belum selesai takut.
Di warung Bu Karti, beberapa warga sudah berkumpul.
Biasanya, saat Rara lewat, mereka menyapa dengan anggukan atau senyum pendek. Pagi itu, percakapan mereka berhenti sejenak. Mata-mata menoleh. Ada yang pura-pura minum kopi. Ada yang menunduk ke ponsel. Ada yang berbisik terlalu cepat untuk didengar jelas.
Rara tetap mengayuh.
Namun kata-kata yang tercecer sempat sampai ke telinganya.
“...video itu...”
“...guru baru...”
“...jangan-jangan cari masalah...”
“...kalau benar gimana?”
“...sudah ada yang bilang hoaks...”
Rara menggenggam setang lebih kuat. Karat halus yang masih tersisa di beberapa bagian terasa kasar di telapak tangannya.
Di sekolah, suasana juga tidak biasa.
Anak-anak belum banyak yang datang, tetapi beberapa guru sudah berkumpul di ruang kepala sekolah. Ketika Rara masuk, Ibu Sintang sedang berdiri di dekat jendela, memandangi halaman yang masih lembap oleh embun. Pak Damar duduk dengan tangan terlipat. Bu Lilis menggenggam ponselnya. Pak Surya mondar-mandir pelan, wajahnya kusut.
“Bu Rara,” kata Ibu Sintang.
Rara menunduk. “Bu.”
Pak Surya langsung membuka suara. “Ini video Ibu?”
Rara menatapnya. “Iya.”
“Kenapa tidak dirapatkan dulu?”
“Pak Surya,” Ibu Sintang menegur.
“Saya bukan menyalahkan, Bu. Tapi ini sudah ramai. Grup wali murid ribut. Ada yang tanya apakah sekolah tidak aman. Ada yang bilang anaknya tidak mau masuk kalau ada limbah. Ada juga yang bilang video itu rekayasa.”
“Rekayasa?” Bu Lilis mengangkat kepala. “Mereka pikir Bu Rara malam-malam menyewa truk untuk bikin film?”
Pak Surya menoleh tajam. “Bu Lilis, jangan bercanda. Ini serius.”
“Saya serius. Cuma cara serius saya tidak perlu selalu berwajah kuburan.”
Rara tidak tertawa. Biasanya celetukan Bu Lilis bisa membuat ruang guru sedikit bernapas. Pagi itu, bahkan humor pun terasa seperti benda yang diletakkan di meja terlalu rapuh.
Ibu Sintang menatap Rara. “Video itu sudah telanjur keluar. Sekarang yang penting, jangan menambah pernyataan sembarangan. Kalau ada yang bertanya, jawab bahwa kita meminta pihak berwenang memeriksa. Tidak lebih.”
Rara mengangguk. “Baik, Bu.”
Pak Damar membuka ponselnya. “Masalahnya, narasi lain juga sudah bergerak.”
Ia menunjukkan layar.
Di sebuah grup warga yang namanya tertera di bagian atas, ada pesan panjang dari seseorang yang memakai foto profil bunga. Isinya menyebut video Rara tidak jelas sumbernya, bisa saja truk warga biasa yang membuang air cucian, dan mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi pihak luar yang ingin merusak nama baik Desa Wisnu Bakti.
Rara membaca kalimat itu dengan perut mengeras.
Pihak luar.
Ia yang kembali ke rumah neneknya, mengajar anak-anak desa, mengurus Pak Joko ke klinik, menuntun Bilqis tidur di rumah hampir roboh, kini dalam satu pesan berubah menjadi pihak luar.
“Admin grup wali murid juga mulai menghapus beberapa tautan video,” kata Bu Lilis.
“Siapa adminnya?” tanya Rara.
“Pak Lurah punya orang. Katanya supaya grup tidak panas.”
Ibu Sintang memejamkan mata sebentar.
Pak Surya menurunkan suara. “Saya dengar pagi ini Pak Hermawan akan datang.”
Rara menoleh. “Ke sekolah?”
“Iya. Katanya mau menyerahkan bantuan untuk kegiatan Cerdas Cermat dan kebersihan sekolah.”
Bu Lilis mendengus pelan. “Cepat sekali malaikat turun.”
Pak Damar menatapnya, memberi isyarat agar hati-hati.
Rara merasakan dadanya berdebar lebih keras.
Pak Hermawan.
Nama itu sejak kemarin terasa seperti bayangan yang akhirnya mulai memiliki bentuk. Di kantor kelurahan, Pak Jarot menyebutnya sebagai orang yang membawa kemajuan. Di sekolah, Putri menyebut ayahnya dengan bangga. Di video semalam, truk itu memang belum menampilkan wajah Pak Hermawan. Tidak ada bukti langsung menghubungkan lelaki itu. Tetapi setiap potongan jalan, setiap senyum pejabat, setiap narasi yang bergerak terlalu rapi, membuat Rara merasa ada tangan besar yang sedang menata panggung.
Pukul sembilan lewat sedikit, mobil hitam itu masuk ke halaman sekolah.
Anak-anak yang sedang istirahat langsung menoleh. Beberapa berbisik kagum. Mobil itu terlalu mengilap untuk halaman SDN 1 Wisnu Bakti yang berdebu. Ketika bannya berhenti, debu naik sebentar, lalu turun di sekitar bodi mobil seperti tidak berani terlalu lama menempel.
Pak Hermawan keluar dengan kemeja putih bersih, celana hitam rapi, dan senyum yang tampak sudah dilatih untuk membuat orang merasa dihargai. Di belakangnya, dua orang lelaki menurunkan beberapa kardus dari bagasi dan mobil lain yang menyusul: kardus berisi buku tulis, alat kebersihan, beras kemasan kecil, minyak goreng, dan beberapa paket sembako.
Putri turun dari pintu belakang mobil.
Wajahnya bersinar oleh kebanggaan.
Ia melihat teman-temannya, lalu berdiri sedikit lebih tegak. Bukan sombong terang-terangan, tetapi tubuhnya berkata cukup jelas: lihat, ini ayahku.
Pak Jarot datang beberapa menit kemudian, mengenakan batik dan peci hitam. Ia tersenyum lebar, menjabat tangan Pak Hermawan dengan hangat, lalu menyalami Ibu Sintang seolah hari itu tidak ada apa pun yang perlu dikhawatirkan.
“Bu Sintang,” kata Pak Hermawan, suaranya ramah, “kami hanya ingin sedikit membantu sekolah. Anak-anak tidak boleh kehilangan semangat belajar hanya karena isu-isu yang belum jelas.”