Sepeda Jengki Bu Rara

Fredy Kosworo
Chapter #18

BAB 18: BAN SEPEDA YANG DISAYAT

Pagi itu, Rara menemukan sepedanya dalam keadaan seperti hewan kecil yang disiksa diam-diam.

Ia baru saja membuka pintu depan rumah neneknya ketika matanya jatuh pada roda belakang sepeda jengki yang bersandar di bawah jendela. Semula, ia tidak langsung paham. Cahaya pagi masih tipis, menyusup lewat sela pepohonan di halaman, membuat benda-benda tampak setengah mimpi. Sepeda itu berdiri di tempat yang sama seperti semalam. Setangnya miring sedikit ke kiri. Keranjang depannya kosong. Bel sumbangnya masih menempel, diam.

Namun roda belakangnya tampak terlalu rendah.

Rara mendekat.

Udara keluar dari paru-parunya sebelum ia sempat menarik napas.

Ban belakang sepeda itu kempis total. Karet luarnya menganga di satu sisi, tersayat rapi, bukan sobek karena paku jalan. Sayatannya memanjang seperti luka pisau. Di dekat rantai, ada goresan kasar pada pelindung besi. Rantai sepeda juga terlepas sebagian, menggantung lemah dengan noda hitam yang mengotori lantai semen.

Rara berjongkok perlahan.

Jari-jarinya menyentuh tepi ban yang robek. Karet itu dingin, lembek, dan di bagian sayatan terasa halus, terlalu halus untuk disebut kecelakaan.

Untuk beberapa detik, halaman rumah neneknya menjadi sangat sunyi.

Tidak ada suara ayam. Tidak ada sapu tetangga. Tidak ada motor lewat. Hanya detak jantung Rara yang terdengar terlalu keras di telinganya.

Sepeda itu bukan sekadar sepeda.

Rara ingat hari pertama ia menemukannya di gudang: tertimbun debu, rantainya kering, bannya kempis, tetapi bentuknya masih menyimpan masa kecil. Ia ingat bau karat di jarinya ketika memegang setang. Ingat suara tawa neneknya yang dulu pernah berkata, “Sepeda itu kalau dirawat bisa lebih setia daripada orang yang banyak janji.” Ingat bagaimana ia membersihkannya pelan-pelan, mengelap rangka, memompa ban, membawa ke bengkel kecil, menghitung uang receh untuk mengganti rem.

Sepeda itu yang membawanya ke sekolah.

Ke rumah Fajar.

Ke klinik.

Ke rumah sakit.

Ke jalan-jalan sempit yang tidak bisa dimasuki mobil besar.

Sepeda itu membuatnya tetap bergerak ketika uang ojek harus dihemat untuk membeli buku, kecap, roti, atau fotokopi dokumen.

Dan pagi itu, seseorang menyayatnya.

Bukan untuk mencuri.

Bukan karena butuh.

Tetapi untuk memberi pesan.

Rara menatap jalan kecil di depan rumah. Pintu pagar bambu masih tertutup, tetapi pengaitnya tidak berada di posisi semalam. Ada jejak kaki samar di tanah lembap dekat pohon jambu. Tidak jelas. Bisa siapa saja. Bisa tetangga. Bisa anak kecil. Bisa orang yang datang saat ia tidur dan pergi sebelum ayam berkokok.

Ia berdiri, lalu duduk di kursi kayu teras.

Tubuhnya tiba-tiba terasa lelah, padahal hari baru mulai.

Ponselnya bergetar di atas meja. Ada pesan dari Ibu Sintang.

Hati-hati berangkat. Ada kabar beberapa warga mulai panas karena video.

Rara menatap pesan itu, lalu menatap ban sepedanya.

Ia ingin mengetik balasan panjang. Ingin berkata bahwa mereka sudah datang ke rumahnya. Bahwa nasihat Sodik dan Bewok kemarin bukan sekadar kata-kata. Bahwa sekarang sepeda peninggalan neneknya disayat seperti orang menyayat urat kecil yang membuat ia bisa bergerak.

Namun jarinya hanya mengetik:

Sepeda saya dirusak.

Tidak sampai satu menit, ponsel berdering.

Nama Ibu Sintang muncul.

Rara mengangkat.

“Di mana kamu?” suara Ibu Sintang terdengar rendah, tetapi tegang.

“Di rumah, Bu.”

“Kamu baik-baik saja?”

“Secara badan, iya.”

“Apa yang dirusak?”

“Ban belakang disayat. Rantai dilepas. Mungkin dirusak juga.”

Di seberang sana hening sebentar.

“Jangan berangkat sendiri dulu.”

“Bu, saya harus mengajar.”

“Saya tidak bilang tidak mengajar. Saya bilang jangan berangkat sendiri.”

Rara menatap sepeda. “Kalau saya tidak datang, mereka berhasil membuat saya takut.”

“Rara,” suara Ibu Sintang berubah. Untuk pertama kalinya, kepala sekolah itu memanggil namanya tanpa Bu. “Takut bukan berarti kalah. Takut itu alarm. Orang yang tidak pernah takut biasanya hanya belum pernah kehilangan cukup banyak.”

Rara menunduk.

Ia ingin membantah. Tetapi di depan ban yang menganga, kata-katanya kehilangan tenaga.

“Pak Damar akan lewat dekat rumahmu,” lanjut Ibu Sintang. “Saya hubungi dia. Kamu ikut dia dulu. Sepedanya nanti kita pikirkan.”

Rara hampir berkata tidak usah, tetapi wajah Fajar muncul di kepalanya. Jika ia jatuh hari ini, siapa yang datang ke bangsal sore nanti? Siapa yang membawa latihan? Siapa yang membantu Bilqis mengeja huruf? Siapa yang memastikan video itu tidak mati di tengah jalan?

“Baik, Bu,” katanya akhirnya.

Setelah telepon berakhir, Rara masuk ke rumah. Ia mengambil tas, buku pelajaran, dan catatan kecil. Ketika keluar lagi, ia berhenti di depan sepeda. Tangannya menyentuh setang pelan.

“Maaf, Nek,” bisiknya.

Ia tahu itu terdengar bodoh. Meminta maaf kepada sepeda. Kepada nenek yang sudah tidak ada. Kepada benda tua yang tidak bisa merasa sakit. Tetapi luka pada ban itu terasa seperti luka pada sesuatu yang sangat pribadi. Seolah orang-orang itu tidak hanya hendak menghentikan langkahnya, tetapi juga menyentuh bagian paling lembut dari alasan ia bertahan di desa ini.

Pak Damar datang sekitar dua puluh menit kemudian dengan motor bebek biru yang suaranya agak serak. Ia membuka helm saat melihat sepeda, lalu wajahnya mengeras.

“Ini bukan paku,” katanya.

Rara tersenyum hambar. “Saya juga tidak sedang berusaha percaya itu paku.”

Pak Damar berjongkok, memeriksa rantai, lalu menyentuh sayatan ban tanpa menekan. “Rapi.”

“Seperti nasihat.”

Ia menoleh. “Apa?”

“Kemarin Sodik dan Bewok menghentikan saya di jalan. Mereka bilang hati-hati, sepeda bisa bocor, rantai putus, rem blong.”

Wajah Pak Damar berubah. “Kenapa tidak bilang?”

“Karena saya masih ingin percaya itu cuma gertakan.”

“Bu Rara.”

“Saya tahu.”

Lihat selengkapnya