Bapak Joko pulang pada hari ketika langit Desa Wisnu Bakti menggantung rendah seperti kain basah.
Rumah sakit belum menyatakan ia sembuh. Dokter hanya berkata kondisinya cukup stabil untuk rawat jalan, dengan catatan kontrol rutin, obat tidak boleh putus, dan jika sesak kembali memburuk, harus segera dibawa lagi. Kalimat itu terdengar seperti jalan keluar yang diberi pagar duri di kanan-kirinya. Pulang berarti tidak lagi tidur di bangsal yang berbau karbol. Tetapi pulang juga berarti kembali ke rumah kayu miring, ke udara desa yang tidak sepenuhnya bersih, ke biaya hidup yang tidak menunggu siapa pun siap.
Fajar tidak banyak bicara sejak pagi.
Ia membantu melipat selimut rumah sakit, memasukkan obat ke kantong plastik, memeriksa surat kontrol, lalu memegangi lengan ayahnya saat turun dari ranjang. Gerakannya hati-hati sekali, seperti sedang memindahkan sesuatu yang retak tetapi masih sangat berharga.
Pak Joko berusaha tersenyum.
“Bapak ini bukan gentong kaca, Jar.”
Fajar tidak menoleh. “Jalan pelan.”
“Dari tadi pelan. Kalau lebih pelan lagi, kita pulang tahun depan.”
Bilqis, yang berdiri di dekat pintu bangsal sambil memeluk boneka kecil dari kain bekas pemberian perawat, tertawa pendek. Tawa itu cepat hilang ketika Pak Joko batuk.
Rara berdiri di sisi lain ranjang, memegang tas berisi dokumen dan obat. Ia memperhatikan cara Pak Joko berusaha tidak terlihat lemah. Laki-laki itu menarik bahu lebih tegak setiap kali melewati pasien lain, seolah sakit adalah pakaian memalukan yang ingin ia sembunyikan. Tetapi tubuh punya kejujuran sendiri. Napasnya tetap pendek. Kakinya gemetar. Jari-jarinya sesekali bergerak tanpa kendali kecil, seperti ingatan akan lemah yang belum pergi.
“Pak, kalau lelah bilang,” kata Rara.
Pak Joko menoleh, senyumnya tipis. “Kalau semua lelah saya bilang, Bu Guru nanti capek mendengarnya.”
“Tidak apa-apa.”
“Orang baik sering bilang begitu. Padahal kupingnya juga bisa pegal.”
Rara hampir tersenyum, tetapi hatinya terlalu penuh.
Di luar rumah sakit, udara panas menyambut mereka dengan bau knalpot, debu, dan gorengan dari warung dekat gerbang. Rara sudah mengatur kendaraan sewaan sederhana, bukan ambulans, karena Pak Joko dianggap cukup stabil. Mobil bak tertutup milik warga yang biasa dipakai mengantar orang ke pasar itu datang dengan jok belakang seadanya. Pak Damar ikut membantu mengangkat tas, sementara Rara mengatur agar Pak Joko duduk paling nyaman.
Fajar sempat menolak ketika Rara membayar ongkos awal.
“Saya nanti ganti,” katanya.
Rara menatapnya. “Dengan apa?”
Fajar diam.
Pertanyaan itu keluar lebih tajam daripada yang Rara maksudkan. Ia langsung menyesal.
“Maaf,” katanya pelan. “Maksud Ibu, sekarang jangan pikirkan itu dulu.”
Fajar menunduk. Wajahnya keras lagi. “Saya tetap ingat.”
Rara tahu. Anak seperti Fajar tidak mudah melupakan bantuan. Ia menyimpannya bukan sebagai kebaikan, tetapi sebagai beban yang suatu hari harus dicari cara membalasnya.
Perjalanan pulang berlangsung lambat. Pak Joko duduk bersandar, mata terpejam. Bilqis tertidur di pangkuan Rara. Fajar duduk di sisi dekat pintu, memegang kantong obat seperti penjaga gerbang. Setiap kali kendaraan melewati jalan berlubang, ia menoleh cepat ke ayahnya.
Di pinggir jalan, Desa Wisnu Bakti tampak seperti biasa. Anak-anak bermain di halaman. Ibu-ibu menjemur pakaian. Lelaki-lelaki duduk di warung. Tetapi sejak video itu menyebar, sejak sepeda Rara disayat, sejak pesan ancaman masuk ke ponselnya, hal-hal biasa tidak lagi terasa polos.
Beberapa orang menatap kendaraan saat mereka lewat.
Ada yang mengenali Pak Joko dan berbisik.
Ada yang melihat Rara lebih lama.
Ada yang langsung menunduk ke ponsel, seolah kabar bisa dikirim lebih cepat daripada kendaraan yang lewat di depan mata.
Ketika mereka tiba di rumah Fajar, udara lembap dari halaman kecil menyambut dengan bau kayu tua dan karung rongsok yang belum sempat dibereskan. Rumah itu tampak lebih rendah daripada sebelum Pak Joko dibawa ke rumah sakit. Atau mungkin mata Rara saja yang berubah. Setelah melihat bangsal, dokter, selang oksigen, dan kertas kontrol, rumah itu kini terasa terlalu rapuh untuk menampung seseorang yang harus dirawat.
Fajar membuka pintu cepat-cepat.
“Pelan, Pak.”
Pak Joko turun dengan bantuan Rara dan Fajar. Kakinya menyentuh tanah, lalu tubuhnya oleng sedikit. Ia menahan malu dengan tertawa kecil.
“Tanah rumah sendiri saja sekarang terasa sombong.”
“Bukan tanahnya, Pak. Bapak yang masih lemas,” kata Fajar.
Pak Joko menatap anaknya. “Sekarang kamu berani sekali mengoreksi bapak.”
Fajar tidak menjawab. Ia terlalu sibuk memastikan ayahnya tidak jatuh.
Di dalam rumah, tikar sudah dibersihkan. Bilqis menata bantal tipis dengan serius, memukul-mukulnya agar terlihat lebih empuk meski isinya sudah hampir menyerah. Ia juga menaruh kipas kardus di samping bantal, seolah benda itu bagian dari alat medis.
“Bapak tidur sini,” katanya.
Pak Joko memandang persiapan kecil itu. Matanya basah, tetapi ia cepat-cepat menunduk saat duduk.
“Terima kasih, Dokter Bilqis.”
Bilqis tersenyum lebar. “Kalau Bapak batuk, panggil saya.”
“Kalau lapar?”
“Panggil Mas Fajar.”
Fajar mendengus. “Enak sekali.”
Untuk beberapa menit, rumah itu hampir terasa seperti rumah biasa. Ada gurauan kecil, gerak mengatur bantal, suara plastik obat dibuka, air putih dituangkan, dan Pak Joko yang berusaha makan bubur setengah mangkuk. Rara membantu membaca aturan obat, menuliskannya ulang di kertas besar agar Fajar mudah mengingat: pagi, siang, malam. Ia menempelkan kertas itu di dinding dekat kalender lama dengan selotip.
Fajar membaca tulisan itu berulang.
“Kalau obat habis?”
“Kita kontrol sesuai jadwal. Nanti dokter lihat lagi.”
“Kalau uangnya kurang?”
Rara menarik napas pelan. “Kita cari cara.”
Fajar menatapnya. “Ibu selalu bilang begitu.”
“Karena memang belum ada jawaban lain.”
Pak Joko yang berbaring mendengarkan dengan mata setengah tertutup. “Jar, jangan semua lubang kamu minta Bu Guru tutup. Nanti Bu Guru tidak bisa jalan.”
Fajar terdiam.
Rara menoleh kepada Pak Joko. “Pak, jangan begitu.”
“Saya cuma bilang yang benar.”
“Yang benar juga bisa melukai kalau keluar saat orang sedang takut.”
Pak Joko membuka mata. Ia menatap Rara lama, lalu mengangguk kecil. “Maaf.”
Fajar memalingkan wajah.
Rara melihat betapa sulitnya keluarga itu mencintai tanpa saling menyakiti. Pak Joko malu karena tidak berdaya. Fajar marah karena takut. Bilqis belajar menjadi baik agar tidak menambah beban. Dan di tengah semuanya, bantuan bisa berubah menjadi garam pada luka jika tidak hati-hati.
Sore menjelang ketika Rara mulai membuka buku pelajaran.