Malam itu, fitnah tidak berjalan pelan.
Ia berlari dari satu layar ponsel ke layar ponsel lain, menyelinap lewat grup warga, grup wali murid, status singkat, bisikan warung, dan suara orang-orang yang merasa paling tahu hanya karena sudah menonton sebelas detik video.
Sebelas detik.
Cukup untuk merobek nama baik seseorang.
Cukup untuk membuat rumah tua peninggalan nenek Rara berubah menjadi sasaran.
Awalnya, orang-orang mendatangi rumah Rara.
Tetangga sebelah rumah neneknya yang pertama kali melihat kerumunan itu datang dari arah jalan utama. Ada belasan orang, lalu bertambah. Sebagian membawa ponsel, sebagian hanya membawa rasa ingin tahu yang dibuat panas oleh amarah. Mereka berdiri di depan pagar bambu rumah tua itu, memanggil-manggil nama Rara. Tidak ada jawaban. Lampu rumah padam. Pintu terkunci.
“Keluar!”
“Jangan sembunyi!”
“Kalau benar tidak salah, keluar!”
Ada yang menggoyang pagar. Ada yang menyorotkan lampu ponsel ke jendela. Ada yang merekam pintu rumah seolah pintu kayu tua itu bisa mengaku dosa.
Rumah nenek yang selama ini menyimpan debu, kenangan, bau karat kunci, dan janji masa kecil Rara, malam itu menjadi benda yang dilempari tuduhan.
Seseorang menendang pot tanah liat di teras sampai pecah.
Suara pecahnya terdengar kecil di tengah keributan, tetapi bagi Rara yang menyaksikan video kiriman Bu Lilis beberapa menit kemudian dari rumah Ibu Sintang, suara itu terasa seperti tulang yang retak.
Ia melihat layar ponsel dengan tangan gemetar.
Di video itu, rumahnya gelap. Orang-orang bergerak di depan pagar. Suara mereka tumpang tindih. Pot neneknya pecah di lantai teras. Seseorang tertawa. Seseorang lain berkata bahwa guru seperti itu tidak pantas mengajar anak-anak.
Rara tidak menangis.
Air matanya seperti sudah membeku di belakang mata.
Ibu Sintang berdiri di sampingnya, wajahnya keras. Dari luar rumah Ibu Sintang sendiri, suara orang-orang mulai mendekat. Kerumunan yang gagal menemukan Rara di rumah nenek rupanya tidak bubar. Mereka mencari. Mereka bertanya. Dan entah dari siapa, mereka tahu Rara sedang berada di rumah kepala sekolah.
“Bu,” suara Rara nyaris tidak keluar. “Mereka ke sini.”
Ibu Sintang mengambil ponselnya. “Saya sudah hubungi Pak Jarwo.”
“Polisi?”
“Teman lama saya.”
Rara menoleh cepat.
Ibu Sintang menatapnya sebelum Rara sempat bertanya lebih jauh. “Dia polisi. Dan sebelum kamu berpikir macam-macam, saya menghubunginya karena ini sudah mengancam keselamatan, bukan karena saya ingin menyelesaikan fitnah dengan hubungan pribadi.”
Rara menunduk, malu karena pikirannya sendiri sempat bergerak ke sana.
Di luar, suara motor bertambah. Lampu-lampu menyapu pagar. Ada bayangan orang lewat di jendela depan. Rumah Ibu Sintang yang biasanya tenang, dengan rak buku tua, tanaman lidah mertua di sudut ruang, dan bau teh pahit dari dapur, berubah menjadi perahu kecil di tengah sungai gelap yang mulai banjir.
Seseorang memukul pagar.
Tang.
Tang.
Tang.
“Bu Sintang! Kami tahu Bu Rara di dalam!”
“Suruh keluar!”
“Jangan lindungi orang salah!”
Rara berdiri di ruang tengah, memeluk tasnya. Di dalam tas itu ada buku catatan, ponsel, flashdisk salinan video limbah, dan beberapa lembar latihan Fajar yang belum sempat ia koreksi. Benda-benda kecil itu terasa tidak masuk akal di tengah amarah yang mengelilinginya. Apa gunanya latihan IPA ketika orang-orang di luar sudah siap menelan kebohongan bulat-bulat? Apa gunanya catatan fakta ketika sebelas detik video bisa dibuat lebih dipercaya daripada berhari-hari perjuangan?
Ibu Sintang mematikan lampu ruang depan, menyisakan cahaya dari dapur dan satu lampu kecil di ruang tengah.
“Jangan dekat jendela,” katanya.
Rara mundur.
“Bu, kalau saya jelaskan—”
“Mereka tidak datang untuk mendengarkan penjelasan.”
“Tapi kalau saya terus sembunyi, mereka akan merasa benar.”
Ibu Sintang menoleh. Matanya tajam, tetapi bukan marah kepada Rara.
“Kadang orang merasa benar bukan karena kita diam, Rara. Mereka merasa benar karena ada yang sengaja membuat mereka lapar akan musuh.”
Di luar, suara seorang laki-laki terdengar lebih keras dari yang lain.
“Warga cuma mau klarifikasi! Kalau tidak salah, keluar!”
Suara itu disambut beberapa teriakan.
Rara mengenali nada provokasi itu. Bukan Sodik. Bukan Bewok. Tetapi jenis suaranya sama: suara orang yang tahu cara menyalakan api tanpa terlihat membawa korek.
Ibu Sintang berjalan ke jendela samping, membuka tirai sedikit. Wajahnya menegang.
“Lebih banyak dari tadi.”
Rara menelan ludah. “Berapa?”
“Cukup banyak untuk membuat satu orang tidak bisa menjelaskan apa pun.”
Ponsel Rara bergetar.
Pesan dari Fajar.
Bu, orang-orang bilang mau ke rumah Ibu. Saya mau datang.
Rara langsung mengetik balasan dengan jari gemetar.
Jangan. Kamu tetap di rumah. Jaga Bapak dan Bilqis. Jangan keluar.
Pesan dari Fajar masuk lagi sebelum ia selesai bernapas.
Mereka fitnah rumah saya juga, Bu. Mereka bilang Bapak...
Kalimat itu berhenti di sana.
Tidak selesai.
Rara merasakan sesuatu di dadanya runtuh.
Pak Joko.
Laki-laki sakit yang bahkan duduk pun harus ditolong, kini diseret menjadi bahan tuduhan. Rumah miskin yang seharusnya menjadi tempat berlindung bagi anak-anaknya, dijadikan panggung orang-orang untuk menilai sesuatu yang tidak pernah mereka lihat utuh.
Rara mengetik:
Fajar, dengarkan Ibu. Jangan keluar. Kamu percaya Ibu?
Lama tidak ada balasan.
Di luar, pagar dipukul lagi. Kali ini lebih keras.
“Bu Sintang! Kalau Ibu kepala sekolah yang benar, jangan sembunyikan guru macam itu!”